Ahli: Insinerator tidak ramah lingkungan

Ahli: Insinerator tidak ramah lingkungan

Prof Emeritus Paul Connett (kanan) berbicara tentang zero waste, Jakarta, Sabtu (13/07/2019). (ANTARA News/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Ahli toksikologi dan kimia lingkungan sekaligus aktivis, Prof Emeritus Paul Connett, mengatakan pengelolaan sampah dengan insinerator tidak bersifat ramah lingkungan karena menyebabkan polusi berbahaya dan beracun ke udara seperti dioksin dan furan.

"Insinerator ini bukan ramah lingkungan karena menyebabkan polusi berbahaya dan beracun ke udara," kata Paul yang merupakan salah satu penggagas konsep Zero Waste dalam konferensi pers "Zero Waste Campaign Tour" oleh Prof Paul Connett, di Jakarta, Sabtu.

Paul mengkampanyekan tentang zero waste sebagai solusi yang berkelanjutan untuk permasalahan sampah di dunia dan menolak penerapan insinerator karena tidak mendukung keberlanjutan lingkungan.

Paul menyayangkan perencanaan untuk membangun insinerator di 12 kota di Indonesia, yang dinilai sebagai cara yang mahal untuk dijadikan solusi mengelola sampah yang ada di Indonesia.

"Salah satu alasan kenapa ide ini sangat buruk adalah karena sampah Indonesia telah bercampur dan berjumlah banyak. Kita tidak dapat memperoleh nilai ekonomi yang efisien bahkan dengan argumentasi bahwa ide ini akan menghasilkan listrik. Faktanya produksi energi net yang dihasilkan pada akhirnya akan tetap berjumlah kecil," ujar Paul.

Paul mengatakan risiko penerapan insinerator adalah dapat menyebabkan berbagai dampak negatif seperti kerugian energi, dampak terhadap kesehatan dan ekonomi. Terkait dampak kesehatan, hasil penelitian Paul membuktikan satu ekor sapi dapat menghirup racun dioksin yang merupakan buangan insinerator jauh lebih banyak daripada manusia, yakni satu hari hirupan dioksin oleh sapi setara dengan 14 tahun hirupan dioksin oleh manusia.'

Paul yang merupakan Direktur American Environmental Health Studies Project mengatakan yang menjadi persoalan adalah karena manusia yang selanjutnya mengkonsumsi daging dan susu sapi tersebut. Di peternakan yang berlokasi dekat dengan insinerator, satu liter susu sapi mengandung dosis dioksin setara dengan hirupan dioksin oleh manusia selama delapan bulan.

Dioksin ini dapat menyebabkan penyakit kanker pada manusia. Bayangkan biaya pengobatan ke depan yang harus ditanggung jika penyakit ini bermunculan karena pengaruh dari buangan insinerator yang berbahaya ke udara dalam jangka panjang.

"Dioksin yang terhirup manusia akan melekat pada lapisan lemak dalam badan dan akan terus menumpuk," ujar pria lulusan Universitas Cambridge itu.

Berbeda dengan perempuan, tidak ada cara laki-laki untuk mengeluarkan dioksin dari dalam tubuhnya. Bagi perempuan, ada satu cara yang dapat ditempuh, yaitu melahirkan. Namun, dengan melahirkan, dioksin yang keluar dari tubuh perempuan akan beralih ke tubuh sang bayi.

Koordinator Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) Yobel mengatakan teknologi pembakaran (insinerator) tidak berkelanjutan dan tidak ramah lingkungan. Selain itu, membakar sampah yang basah juga membutuhkan energi yang besar.

"Kami sangat berharap insinerator jangan ditambah lagi karena merusak sumber daya kita dan kehidupan anak cucu kita di masa depan," tuturnya.

***3***

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wayang dari sampah di sekolah untuk NTB bersih dan hijau

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar