counter

Artikel

Malam terakhir RWMF dan kolaborasi para bintang

Malam terakhir RWMF dan kolaborasi para bintang

Dua anggota kelompok Mehdi Nassouli dari negara Morocco menari di acara penutupan Rainforest World Music Festival (RWMF) 2019 di Kampung Budaya, Sarawak, Malaysia, Minggu (14/7/2019)ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/foc. (ANTARA FOTO/JESSICA HELENA WUYSANG)

Pontianak (ANTARA) - Malam terakhir pelaksanaan 2019 ditutup dengan kolaborasi semua bintang tamu yang mengisi panggung festival selama tiga hari ini. Di malam terakhir pertunjukan penampilan dibuka oleh Kila yang merupakan grup musik dari Ireland yang terkenal karena penguasaan mereka menggabungkan musik Irlandia tradisional dengan folk rock yang menghasilkan musik unik.

Dalam panggung RWMF 2019 ini, Kila berkolaborasi dengan Oki Kano, pemain Ainu tonkori yang berasal dari Jepang dan memberikan warna musik unik yang mengundang decak kagum para pengunjung RWMF.

Setelah penampilan Kila and Oki, penampilan dilanjutkan dengan Crazy Horse yang berkolaborasi dengan By Dupless, The Violins of the World dan Gou Gan (China, France, Mongolia, Sweden). Grup ini terdiri dari empat solois yang berasal dari empat budaya berbeda dan memainkan empat alat instrumen berbeda dan memiliki empat temperamen yang berbeda pula.

Namun, penampilan mereka berempat di atas panggung menghasilkan musik yang luar biasa karena kolaborasi mereka terus mendapatkan tepuk tangan meriah dari para penonton yang hadir.

Semakin malam, para pengunjung yang datang ke Rainforest World Music Festival 2019 semakin ramai. Sambil mendengarkan alunan musik beragam dari atas panggung, mereka tak segan untuk ikut bergoyang, bahkan ada sekumpulan orang yang melakukan flash mob dengan menari bersama mengikuti irama musik yang dibawakan oleh para bintang tamu.

Penampilan berikutnya diisi oleh At Adau yang merupakan grup musik lokal dari Sarawak Malaysia. Meski mereka adalah tuan rumah, namun penampilan musik mereka tidak kalah dahsyat dengan musik-musik yang dibawakan oleh grup internasional.

At Adau membawa melodi dan ritme kuno dari berbagai suku di Kalimantan ke abad ke-21 dengan menggabungkannya dengan unsur-unsur kontemporer. Ketujuh anggota grup menggabungkan lagu-lagu sape lute dari Orang Ulu dan perkusi tradisional dari Bidayuh dan Iban dengan komposisi yang mereka buat sendiri dan menghasilkan lagu-lagu rakyat pop yang tentu saja sangat enak didengar.

Malam penutupan RWMF 2019 tersebut juga menghadirkan Mehdi Nassouli, musisi Morocco yang konsisten untuk melestarikan musik tradisional asal negaranya, dimana pada malam tadi Mehdi menampilkan lima buah lagu andalannya yang diiringi dengan tarian dan perkusi gnawa.

Selanjutnya, penampilan dari Tabanka yang berasal dari Cape Verde dimana grup musik ini kelompok ini memiliki pandangan segar dan kontemporer tentang funana (musik berbasis akordeon), musik dan gaya tarian yang ceria, energik dan meriah, yang pernah dilarang oleh penguasa kolonial Portugeuse, yang kemudian menjadi bagian dari identitas Cape Verde pasca-kemerdekaan di tahun delapan puluhan.

Penampilan Tabanka sebagai grup musik penutup juga tak luput mencuri perhatian dari para pengunjung, dimana semula banyak yang hanya duduk untuk menonton, namun kemudian berdiri untuk ikut bergoyang mengikuti ritme dari musik yang mereka bawakan.

Akhirnya tepat pukul 00.00 (waktu Malaysia), setelah satu persatu bintang tamu di hari ketiga tampil di atas panggung, kegiatan penutupan dilakukan dengan perayaan bersama dari seluruh bintang tamu dan panitia serta pendukung kegiatan.*

Baca juga: Menjelajahi eksotisme musik warisan Maroko di RWMF 2019

Pewarta: Rendra Oxtora
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

PDO CONNECTION ERROR: SQLSTATE[08004] [1040] Too many connections