counter

Belajar sejarah perdagangan rempah, Menlu ajak GNMC majukan kerja sama

Belajar sejarah perdagangan rempah, Menlu ajak GNMC majukan kerja sama

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menyampaikan pidato dalam seminar pembukaan Jaringan Kota-kota Magellan (Global Network of Magellan Cities/GNMC) di Jakarta, Senin (15/7/2019). (ANTARA/Yashinta Difa)

Jakarta (ANTARA) - Belajar dari sejarah perdagangan rempah yang menjadi pintu masuk kolonialisme di Indonesia, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengajak Jaringan Kota-kota Magellan (Global Network of Magellan Cities/GNMC) untuk memajukan kerja sama yang saling menguntungkan.

Tidore di Maluku Utara masuk dalam anggota GNMC karena menjadi salah satu kota yang disinggahi penjelajah asal Spanyol, Ferdinand Magellan, saat mengelilingi dunia untuk mencari rempah-rempah pada rentang waktu 1519-1522.

Pelayaran untuk mencari rempah-rempah kemudian menjadikan Indonesia sebagai jajahan bangsa-bangsa lain karena perdagangan yang tidak dilakukan secara adil dan saling menguntungkan.

“Kita harus belajar dari sejarah untuk mencegah pengalaman pahit itu terulang kembali,” kata Menlu Retno dalam seminar pembukaan Pertemuan ke-10 GNMC di Jakarta, Senin.

Pada 16-18 Juli mendatang, Tidore menjadi tuan rumah Pertemuan ke-10 GNMC yang akan dihadiri delegasi berbagai kota dari tujuh negara, antara lain Lisabon dan Sabrosa di Portugal; Seville dan Granadilla de Abona di Spanyol; Ushuaia, Puerto de San Julian, Puerto de Santa Cruz di Argentina; Montevideo di Uruguay; Punta Arenas dan Porvenir di Chile; Cebu di Filipina; serta and Praia di Cape Verde.

Pertemuan tersebut dibuka melalui sebuah seminar internasional bertajuk “Perdagangan Rempah yang Menghubungkan Dunia Timur dan Dunia Barat” yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta, Senin, untuk membahas pengaruh kuat Indonesia dalam narasi sejarah pelayaran Magellan, yang akan dilanjutkan dengan sejumlah kegiatan di Tidore termasuk sidang bersama antarkota GNMC.

Baca juga: Menelusuri perjalanan penjelajah Portugis Ferdinand Magellan di Tidore

Menlu Retno berharap pertemuan tersebut bisa mengirim pesan persahabatan, kemitraan, dan perlakuan yang adil terhadap negara-negara yang memproduksi komoditas mentah, termasuk Indonesia.

“Indonesia dan produsen komoditas mentah lainnya masih menghadapi banyak tantangan, termasuk diskriminasi. Contohnya minyak sawit Indonesia yang terus menghadapi diskriminasi di Uni Eropa, dan pasti kami akan berjuang untuk memerangi diskriminasi itu,” ujar dia.

Selain itu, pertemuan GNMC menjadi ajang memperkuat diplomasi maritim yang menjadi salah satu fokus politik luar negeri Indonesia.

Indonesia berkomitmen untuk mengelola lautnya secara berkelanjutan dan berupaya berkontribusi pada kerja sama maritim, termasuk dengan negara anggota ASEAN di bawah wawasan mengenai Indo-Pasifik.

“Laut harus membawa kemakmuran bagi semua, karena itu konektivitas maritim sangat penting termasuk di Indonesia timur,” kata Menlu.

Upaya pemerintah memajukan sektor maritim di Indonesia timur salah satunya ditunjukkan dengan dibukanya kawasan ekonomi khusus di Morotai, April lalu, sebagai hub logistik, perikanan, dan pusat pariwisata di Maluku Utara.

Baca juga: Luhut: Indonesia pertama kalinya miliki buku putih diplomasi maritim

Baca juga: Presiden: jangan abaikan diplomasi dalam bangun maritim


Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Azizah Fitriyanti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menyelami kehidupan suku terasing Togutil di hutan Halmahera

Komentar