counter

Pegiat iklim kacaukan kota Inggris dengan 'pemberontakan musim panas'

Pegiat iklim kacaukan kota Inggris dengan 'pemberontakan musim panas'

Aktivis perubahan iklim berdemo saat aksi protes Extinction Rebellion, di Stasiun DLR Canary Wharf di London, Inggris, Rabu (17/4/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Henry Nicholls/djo/wsj. (REUTERS/HENRY NICHOLLS)

London (ANTARA) - Pegiat lingkungan berusaha untuk menabur kekacauan di lima kota di Inggris, Senin, dalam upaya untuk memaksa pemerintah bertindak mencegah apa yang mereka sebut sebagai bencana iklim.

Kelompok pegiat lingkungan Extinction Rebellion memicu kekacauan di London dengan melakukan protes selama 11 hari pada April lalu, yang dianggap sebagai tindakan pembangkangan sipil terbesar dalam sejarah Inggris baru-baru ini.

Mereka memblokade lokasi-lokasi ikonik, merusak gedung perusahaan minyak dan gas Shell, menghentikan operasional kereta dan menarget Goldman Sachs.

“Pergerakan darurat masyarakat biasa ini, yang terdorong untuk beraksi karena ancaman kerusakan iklim dan ekologi, menuntut pemerintah untuk secepatnya mengambil langkah menghentikan kepunahan hayati dan mengurangi kenaikan gas rumah kaca menjadi nol pada tahun 2025,” kata kelompok tersebut.

Mereka melakukan protes di Kota Bristol, Cardiff, Glasgow, Leeds dan London. Di masing-masing kota, mereka akan menghadirkan sebuah perahu besar bertuliskan ‘ACT NOW!’ atau ‘BERTINDAK SEKARANG!’.

Otoritas di Bristol mengatakan telah menutup jembatan Bristol karena protes tersebut dan kepolisian Wales Selatan juga telah memblokade jalan-jalan di pusat Kota Cardiff.

Di luar gedung Royal Courts of Justice di pusat kota London, para pegiat telah memarkir kapal berwarna biru dan melakukan olah raga yoga di jalan.

“Melalui serangkaian protes tanpa kekerasan, masyarakat di seluruh Inggris akan datang bersama untuk menggelar aksi kreatif pembangkangan sipil. Memblokade jembatan, jalan, dan lokasi tertentu sambil juga mengadakan pembicaraan, lokakarya, pelatihan, kegiatan ramah keluarga, majelis masyarakat, dan lain-lain,” kata Extinction Rebellion.

Kelompok lingkungan tersebut menginginkan pemberontakan sipil tanpa kekerasan untuk memaksa pemerintah untuk mengurangi emisi karbon dan mencegah krisis iklim yang diyakini akan menyebabkan kelaparan dan kehancuran sosial.

Mereka juga mengatakan bahwa ini adalah pemberontakan terhadap kepunahan spesies, termasuk spesies manusia.

Dengan melakukan aksi-aksi damai berskala besar, seperti memblokade lokasi-lokasi paling ikonik di London, menghancurkan sebuah pintu di gedung Shell dan mengejutkan para penentu kebijakan dengan protes setengah telanjang di gedung parlemen, kelompok tersebut telah mendapatkan pemberitaan besar-besaran.

Extinction Rebellion menuntut pemerintah untuk mendeklarasikan kedaruratan iklim dan ekologi, mengurangi kenaikan emisi gas rumah kaca menjadi nol pada tahun 2025, dan membuat majelis anggota masyarakat untuk memimpin pembuatan keputusan guna menghadapi perubahan iklim.

Bulan lalu, pemerintah Inggris mengumumkan akan mengesahkan undang-undang komitmen untuk mencapai emisi nol pada tahun 2050. Menurut data statistik pemerintah, pada tahun 2017, total emisi gas rumah kaca Inggris tercatat 43 persen lebih rendah dibanding tahun 1990 dan 2,6 persen lebih rendah dibanding 2016.

Sumber: Reuters

Baca juga: LSM global desak kesepakatan pendanaan darurat iklim lebih ambisius

Baca juga: Jelang COP25 Chile, RI-Australia perkuat kerja sama bilateral


Kampanye gerakan mengurangi sampah plastik

Penerjemah: Aria Cindyara
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar