counter

Kemenperin susun kurikulum SMK agar selaras dengan kebutuhan industri

Kemenperin susun kurikulum SMK agar selaras dengan kebutuhan industri

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian, Eko SA Cahyanto memberikan modul kompetensi keahlian bidang industri yang telah diselaraskan untuk diimplementasikan di SMK pada acara Sosialisasi Penyelarasan Kurikulum, Silabi, dan Modul SMK di Semarang, Jawa tengah, Selasa. (ANTARA/ Biro Humas Kementerian Perindustrian)

Hasilnya ini sudah kami sampaikan kepada Kemendikbud, Dinas Pendidikan Provinsi terkait dan SMK yang bersangkutan
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyusun kurikulum dan silabus SMK untuk menyelaraskannya dengan kebutuhan industri sebagai tindak lanjut dari program pendidikan vokasi yang terhubung dan sesuai dengan industri.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Eko SA Cahyanto menyampaikan bahwa dari hasil penyelarasan kurikulum tersebut, Kemenperin bersama stakeholders selesai menyusun materi pembelajaran tambahan sebanyak 34 kompetensi keahlian bidang industri bagi siswa SMK.

“Hasilnya ini sudah kami sampaikan kepada Kemendikbud, Dinas Pendidikan Provinsi terkait dan SMK yang bersangkutan,” kata Eko lewat keterangan resmi di Jakarta, Rabu.

Hingga saat ini, Kemenperin menggandeng 855 industri dan 2.612 SMK dalam program pendidikan vokasi yang mengusung konsep link and match. Dari hasil ini, sebanyak 4.997 perjanjian kerja sama telah ditandatangani antara pihak industri dan SMK. Satu perusahaan bisa membina lebih dari satu SMK.

“Langkah berikutnya yang sudah kami jalankan, yaitu peningkatan kompetensi guru produktif. Tujuannya adalah agar kurikulum hasil penyelarasan dapat diimplementasikan dengan baik,” ujar Eko.

Dalam mendukung program itu, sepanjang 2018 Kemenperin melakukan kerja sama dengan Institute of Technical Education(ITE) Singapura dalam rangka menyelenggarakan pelatihan untuk kepala SMK dan guru produktif bidang teknik permesinan, teknik instalasi pemanfaatan tenaga listrik dan otomasi industri yang diikuti sebanyak 100 peserta.

“Kemenperin juga bekerja sama dengan Formosa Training Center Taiwan untuk menyelenggarakan pelatihan guru produktif bidang machine tools sebanyak 100 orang, kemudian pelatihan teknis guru produktif sebanyak 508 orang dan magang guru di Industri sebanyak 1.233 orang,” paparnya.

Selain itu, Kemenperin melakukan pelatihan pedagogik bagi instruktur dari industri yang akan mengajar di SMK.

Program yang disebut silver expert ini bekerja sama dengan KADIN Indonesia dan IHK (KADIN) Trier Jerman untuk 20 orang peserta dan diberikan sertifikasi internasional.

“Pada 2019 Kemenperin memprogramkan peningkatan kompetensi guru produktif, baik melalui magang guru di industri sebanyak 1.000 guru maupun pelatihan sebanyak 1.000 guru. Kami berharap guru-guru SMK dapat memanfaatkan kesempatan ini guna terlaksananya program link and match,” ungkapnya.

Selain guru, lanjut Eko, implementasi kurikulum hasil penyelarasan juga memerlukan ketersediaan peralatan praktikum minimal di SMK agar siswa dapat dibekali dengan keterampilan teknis dasar sebelum masuk ke industri. Untuk itu, dalam setiap peluncuran vokasi industri selalu diiringi dengan pemberian hibah peralatan dari industri kepada SMK.

“Pada tahun 2017 Kemenperin merealokasi anggaran sebesar Rp35 miliar untuk bantuan peralatan praktikum minimum kepada 74 SMK. Sedangkan untuk tahun 2019, penyediaan peralatan minimum di SMK diupayakan kembali melalui Kelompok Kerja Program Revitalisasi SMK,” imbuhnya.

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menko Perekonomian akui SDM Indonesia tertinggal

Komentar