counter

Pasar "wait and see", IHSG lanjutkan koreksi 0,11 persen ke 6.394

Pasar "wait and see", IHSG lanjutkan koreksi 0,11 persen ke 6.394

Karyawan beraktivitas di dekat grafik pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (15/7/2019). . ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/hp.

Jakarta (ANTARA) - Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,11 persen atau 7,27 poin ke level 6.394,61 pada perdagangan Rabu, menyusul sikap pelaku pasar yang menunggu (wait and see) keputusan suku bunga acuan dari Bank Indonesia dan juga minimnya sentimen positif dari perekonomian global.

Pejabat Bank Sentral akan menggelar rapat penentuan kebijakan pada 17 Juli hari ini hingga waktu pengumuman pada 18 Juli 2019. Sikap BI ditunggu-tunggu investor setelah sinyalemen dari The Federal Reserve semakin kuat untuk memangkas suku bunga acuannya pada sisa tahun ini.

"Sentimen utama dari 'market' hari ini adalah pasar cenderung lebih memilih 'wait and see', dan juga minimnya sentimen positif dari domestik dan global,," kata Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama yang dihubungi di Jakarta, Rabu.

Dari perekonomian global, kata Nafal, agenda pertemuan bilateral antara Amerika Serikat (AS) dan China dalam upaya membahas solusi perseteruan dagang juga belum memperlihatkan kepastian.

Di sisi lain, kata Nafan, konsensus juga menunjukkan kecenderungan BI akan memangkas suku bunga acuannya pada Kamis menjadi 5,75 persen atau pelonggaran kebijakan suku bunga yang pertama kali sejak November 2018.

Jika Bank Sentral benar-benar memotong suku bunga acuannya, maka hal itu menandakan perubahan sikap kebijakan moneter, pasca-kenaikan suku bunga yang agresif pada 2018 dengan dosis hingga 175 basis poin menjadi enam persen.

"Konsensus menyebutkan suku bunga acuan turun menjadi 5,75 persen," kata Nafan.

Jika BI benar-benar merealisasikan penurunan suku bunga acuan, maka dilihat dari analisis teknikal IHSG pada Kamis (18/7) esok akan melanjutkan koreksinya.

Sebagai informasi, jika BI memangkas suku bunga acuan, maka selisih atau perbedaan imbal hasil/bunga (differential interest rate) instrumen keuangan di Indonesia dan negara-negara maju serta negara sepadan (peers) akan mengecil dan semakin tipis.

Dengan perbedaan tipis margin suku bunga yang didapat, investor tentu akan memilih instrumen yang paling minim risiko.

Kepala Riset Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih dalam risetnya, mengatakan potensi koreksi di pasar saham sudah terdeteksi dengan minimnya katais positif dari ekonomi global. Penurunan harga minyak mentah dunia juga memperkuat potensi koreksi di bursa-bursa Asia, termasuk Indonesia.

Pelaku pasar juga, kata Lana, menyoroti pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyiratkan negosiasi konflik dagang akan berjalan lama dan kemungkinan Trump bisa menerapkan tarif terhadap barang impor China senilai 325 miliar dolar AS.

Pernyataan Trump itu membuat pasar saham AS kompak terkoreksi pada Selasa malam (16/7) di tengah data penjualan ritel dan indeks perumahan yang tercatat naik diatas ekspektasi konsensus

Baca juga: IHSG diprediksi kian lunglai, sentimen positif global minim

Baca juga: IHSG dibuka melemah 6,42 poin


Presiden Tutup IHSG Tertinggi Dalam Sejarah

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar