counter

Bahasa kendala dalam pendistribusian logistik untuk pengungsi suaka

Bahasa kendala dalam pendistribusian logistik untuk pengungsi suaka

Spanduk bertulis "Ayo Budayakan Berbahasa Indonesia" terbentang di pagar gedung bekas Komando Militer (Kodim) Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (17/7/2019). (ANTARA News/ Zubi Mahrofi)

Kendalanya hanya bahasa saja, beberapa ada yang tidak bisa bahasa Inggris, apalagi Indonesia
Jakarta (ANTARA) - Jakarta (ANTARA) – Petugas dari organisasi sosial bidang penanggulangan bencana alam dan sosial, Taruna Siaga Bencana (Tagana), mengaku bahasa menjadi kendala dalam mendistribusikan bantuan logistik untuk para pengungsi pencari suaka yang menempati gedung bekas milik Kodim.

"Kendalanya hanya bahasa saja, beberapa ada yang tidak bisa bahasa Inggris, apalagi Indonesia," ujar petugas Tagana, Sarnubi Abdurrahman di penampungan sementara gedung bekas Komando Militer (Kodim) Kalideres, Jakarta Barat, Rabu.

Ia mengemukakan pihaknya membantu mendistribusikan makanan dan minuman yang disediakan oleh Dinas Sosial DKI Jakarta.

Baca juga: Ini dia program Dinsos DKI untuk anak pengungsi pencari suaka
Baca juga: Puskesmas se-Jakbar akan lakukan sosialisasi ke pengungsi suaka


Terdapat sebanyak 1.271 pencari suaka yang menempati gedung bekas milik Kodim itu. Mereka, termasuk perempuan dan anak-anak, menempati fasilitas seadanya di gedung dua lantai dan halaman sambil menanti kejelasan nasib.

Salah seorang pengungsi suaka asal Afganistan, Muhammad Syah (24) mengatakan Indonesia menjadi tempat singgah sebelum mendapatkan suaka negara tujuan seperti Kanada, Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru.

"Meski di sini saya tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi saya di sini sudah cukup bersyukur dibandingkan di negara asal yang masih perang, setidaknya di sini saya merasa aman," katanya.

Saat ini, lanjut dia, sedang menunggu kepastian dari Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) untuk dipindahkan ke negara tujuan ketiga.

Ia mengaku terpaksa melarikan diri dari negaranya karena perang. Dia datang bersama keluarga pamannya ke Indonesia.

"Orang tua saya sudah tidak ada sejak saya umur dua tahun, menghilang, entah dimana sekarang," ujar Muhammad Syah yang mengaku sudah tinggal di Jakarta selama tiga tahun. 

Baca juga: Bakesbangpol DKI beri penyuluhan pada warga tentang pencari suaka
Baca juga: Pengungsi pencari suaka keluhkan toilet dan kondisi kesehatan

BNPB kerahkan helikopter distribusi logistik

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar