counter

PUPR revitalisasi 10 danau prioritas untuk destinasi pariwisata

PUPR revitalisasi 10 danau prioritas untuk destinasi pariwisata

Kepala Bidang Sungai Danau Embung Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR Naswardi pada diskusi di Jakarta, Rabu. (Mentari Dwi Gayati)

Akibat dari pupuk pestisida di lahan pertanian Danau Rawa Pening, mengakibatkan eceng gondok berkembang lebih pesat
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah merevitalisasi 10 di antara 15 danau prioritas yang dikembangkan sebagai destinasi pariwisata alam di Indonesia.

Kepala Bidang Sungai Danau Embung Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR Naswardi di Jakarta, Rabu, menyebutkan 10 danau tersebut, yakni Danau Toba (Sumatera Utara), Danau Maninjau (Sumatera Barat), Danau Kerinci (Jambi), Danau Rawa Pening (Jawa Tengah).

Selain itu, Danau Kaskade Mahakam (Kalimantan Timur), Danau Tondano (Sulawesi Utara), Danau Limboto (Gorontalo), Danau Tempe (Sulawesi Selatan), Danau Poso (Sulawesi Tengah), dan Danau Sentani (Papua).

"Sepuluh danau sudah dilakukan revitalisasi untuk pengembangan danau prioritas. Kami melakukan penanganan infrastruktur terhadap permasalahan masing-masing danau," katanya pada suatu forum diskusi.

Naswardi menjelaskan bahwa Kementerian PUPR berupaya menjaga badan danau dan sempadan atau batas danau. Permasalahan umum untuk mengembalikan fungsi danau, antara lain pertumbuhan gulma air atau eceng gondok, sedimentasi dan pendangkalan danau hingga okupansi sempadan.

Terhadap salah satu danau yang menjadi daya tarik pariwisata Indonesia, yakni Danau Toba, Kementerian PUPR telah melakukan pelebaran alur dari 25 menjadi 70 meter sepanjang 1.200 meter.

Pelebaran alur itu diharapkan memudahkan kapal-kapal besar bisa mengelilingi Danau Toba dan Pulau Samosir. Permasalahan di Danau Tiba yakni tingkat sedimentasi yang tinggi, kualitas air menurun akibat limbah dan keramba jaring apung, hingga okupansi sempadan.

Sementara itu, Danau Tondano dengan luas genangan 4.616 hektare, memiliki tingkat pertumbuhan eceng gondok tinggi dengan luasan 200 hektare. Namun, yang dapat ditangani Kementerian PUPR hanya 11 hektare.

Sejauh ini, Kementerian PUPR telah melakukan pembangunan tanggul dan pembangunan saluran penangkap sedimen.

Permasalahan eceng gondok juga terdapat di Danau Rawa Pening. Lahan pertanian yang berada di sempadan Danau Rawa Pening tidak hanya menimbulkan sedimentasi, tetapi juga pesatnya pertumbuhan eceng gondok karena penggunaan pestisida.

"Akibat dari pupuk pestisida di lahan pertanian Danau Rawa Pening, mengakibatkan eceng gondok berkembang lebih pesat. Satu sisi, pestisida digunakan untuk pertanian, tapi juga menjadi makanan untuk perkembangan eceng gondok," kata Naswardi.

Kementerian PUPR pun telah mengoperasikan 10 alat pemanen eceng gondok di Danau Rawa Pening guna mengembalikan fungsi danau dan mencegah tutupan lahan air.

Kementerian PUPR telah melaksanakan revitalisasi10 danau itu sejak 2016 secara bertahap.

Revitalisasi danau untuk mengembalikan fungsi alami danau sebagai tampungan air melalui pengerukan, pembersihan gulma air/eceng gondok, pembuatan tanggul, termasuk penataan di kawasan daerah aliran sungai.

Baca juga: Kementerian PUPR revitalisasi 10 danau kritis
Baca juga: Revitalisasi Danau Rawa Pening tiru Sungai Citarum
Baca juga: LIPI: revitalisasi Danau Tempe harus perhatikan ekosistem

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Upaya Kemenpar penuhi 2 juta wisman di 2020

Komentar