counter

Kades korban penganiayaan SMB minta polisi tangkap pelaku

Kades korban penganiayaan SMB minta polisi tangkap pelaku

Kades Sengkati Baru, Kabupaten Batanghari, Herdianto saat menunjukkan bekas luka yang akibat dianiayaan oleh kelompok SMB.(Antara.jambi/Nanang Mairiadi)

Jambi (ANTARA) - Kepala desa (Kades) Sengkati Baru, Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari, Jambi, Herdianto minta kepada aparat Kepolisian untuk mengusut tuntas dan menangkap pelaku penganiayaan yang dilakukan kelompok Serikat Mandiri Batanghari (SMB) terhadap dirinya.

"Saya sangat menyayangkan lambatnya proses hukum yang ditangani Polres Batanghari dalam kasus yang menimpa saya," kata Herdianto, di Jambi, Rabu.

Baca juga: Danrem 042/Gapu sayangkan kekerasan terhadap Tim Satgas Karhutla

Setelah kejadian itu korban langsung lapor ke Polres namun para pelaku penganiayaan yang menggunakan senjata api rakitan itu tidak ditangkap sampai sekarang.

Penyerangan demi penyerangan di lakukan Serikat Mandiri Batanghari (SMB) ke berbagai pihak termasuk terhadap Kepala Desa Sengkati Baru Hendianto yang menyebut SMB sudah seperti Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

"Saya hampir mati untung masih dilindungi dan saat aksi itu mereka membawa senjata api rakitan atau kecepek dengan jumlah massa mencapai ratusan orang dengan membawa berbagai senjata ada bambu runcing," kata Herdianto.

Dia juga menyebutkan penyerangan terjadi lebih kurang sepekan lalu saat dirinya dan masyarakat akan melakukan pengecekan lahan koperasi yang harus di tanami.

"Waktu itu kita bawa truk mau ke lokasi lahan yang diberi menteri untuk dikelola oleh koperasi desa yang berbatasan dengan distrik VIII WKS," kata Herdianto.

Belum sampai lokasi masih di pertengahan jalan, pihaknya dihadang massa SMB dengan bersenjata lengkap sedangkan kami yang tidak ada senjata kabur dan kocar kacir, katanya lagi.

Dia menyebut mobil truk milik warga itu sempat ditembaki SMB.

Kawasan lahan yang diduduki SMB tersebut saat ini mencekam apalagi saat malam warga yang desanya yang dekat dengan kawasan SMB tidak berani keluar.

Desa yang dekat sudah seperti desa mati dan warganya ketakutan.

Jangankan masyarakat biasa, Babinkamtibmas dan Babinsa tidak diperbolehkan masuk ke area wilayah yang diduduki SMB . "Mereka (red, polisi) tidak berani apalagi kita," ungkapnya.

Dia berharap kepada kepolisian untuk serius menangani persoalan SMB ini sebab semakin merajalela perbuatannya dan terakhir melakukan penyanderaan terhadap tim terpadu termasuk tiga anggota TNI, Poisi dan Damkar.

Kelompok SMB yang dipimpin Muslim saat ini merupakan warga pendatang dari berbagai daerah ada dari dalam provinsi dan luar provinsi seperti dari Lampung, Medan, Tebo dan Pelembang.
 

Pewarta: Nanang Mairiadi
Editor: Nurul Hayat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar