counter

Baran Energy luncurkan baterai listrik bersumber energi terbarukan

Baran Energy luncurkan baterai listrik bersumber energi terbarukan

Founder dan CEO Baran Energy Victor Wirawan pada peluncuran baterai Powerwall Baran Energy di Jakarta, Kamis. (Mentari Dwi Gayati)

Ketiga perangkat ini dapat digunakan, mulai dari rumah tinggal, pabrik, real estate, perkebunan, pertambangan, hingga industri berskala besar.
Jakarta (ANTARA) - Baran Energy meluncurkan baterai penyimpan energi bersakala besar yang bersumber dari energi baru dan terbarukan (EBT), baik matahari, angin, maupun air untuk digunakan mulai dari rumah tangga, pabrik, hingga industri.

Founder dan CEO Baran Energy Victor Wirawan mengatakan bersama puluhan anak-anak negeri, pihaknya tengah mengembangkan produk teknologi energi ramah lingkungan, yaitu PowerWall berkapasitas 8.8 KWh, PowerPack 126 Mb,dan PowerCube 1.2 MWh.

"Produk yang kami launching hari ini adalah PowerWall, yakni baterai dengan kapasiitas 8.8 KWh," kata Victor pada peluncuran baterai Baran Energy di Jakarta, Kamis.

Victor menyebutkan ketiga perangkat ini dapat digunakan, mulai dari rumah tinggal, pabrik, real estate, perkebunan, pertambangan, hingga industri berskala besar.

Peluncuran teknologi ini juga selaras dengan komitmen pemerintah yang terus mendorong pemakaian energi yang bersumber dari EBT dan Iebih ramah lingkungan.

Sebagaimana tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), pemerintah menargetkan pemanfaatan dan buaran EBT dalam negeri mencapai 23 persen pada 2025.

Baca juga: Pameran teknologi Energi Baru Terbarukan akan digelar di Jakarta

Menurut Victor, proses pengalihan pemanfaatan sumber energi berbasis fosil ke EBT di Indonesia memerlukan waktu, sama seperti di sejumlah negara Eropa dan China. Namun, pada waktunya, sumber-sumber energi berbasis fosil akan tergantikan oleh sumber energi terbarukan.

Ia menjelaskan keinginannya untuk membuat baterai sudah cukup lama, tetapi baru terealiasi beberapa waktu terakhir. Pasalnya, tidak mudah membuat baterai tersebut karena dibutuhkan penelitian dan pengembangan (R&D) yang mendalam dan memakan waktu.

Selain itu, biaya produksinya juga cukup besar. Namun demikian, sambung Victor, masyarakat luas masih bisa menggunakan alat tersebut sebab teknologi ini dapat dibayar dengan cicilan hingga 10 tahun.

"Visi kami adalah mendorong penggunaan energi terbarukan dan mobilitas elektrik di Indonesia, namun menyediakan teknologinya saja tidaklah cukup," kata Victor.


 

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

KemenESDM dorong masyarakat beralih ke energi surya

Komentar