counter

Tren pasar industri kesehatan di Asia Tenggara diprediksi berkembang

Tren pasar industri kesehatan di Asia Tenggara diprediksi berkembang

Deputi Direktur Pusat Keunggulan untuk Ilmu Hayati Thailand Sirasak Teparkum (kiri) dan Head of Science and Technology Unit VNU Exhibition Asia Pacifik Anucha Parnpichate (kanan) memaparkan rencana penyelenggaraan pameran industri kesehatan "Thailand LAB International 2019 di Bangkok Thailand pada 25-27 September 2019 di Jakarta, Kamis (18/7/2019). (ANTARA/Subagyo)

Industri perawatan kesehatan laboratorium medis ini merupakan peluang investasi dan pasar potensial untuk ditangkap
Jakarta (ANTARA) - Pasar laboratorium medis dan industri kesehatan serta kebugaran di kawasan Asia Tenggara pada tahun-tahun mendatang diperkirakan terus mengalami perkembangan pesat terutama karena peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya layanan pengujian medis.

Deputi Direktur Pusat Keunggulan untuk Ilmu Hayati Thailand Sirasak Teparkum di Jakarta, Kamis mengatakan, kondisi tersebut juga didukung laju urbanisasi yang cepat yakni dari 36,7 persen pada 2000 dan diperkirakan menjadi 50,6 persen pada 2025.

Selain itu, lanjutnya, sejumlah kondisi lain juga menjadi faktor peningkatan pasar laboratorium medis di kawasan Asia Tenggara, yakni pertumbuhan warga lanjut usia atau manula serta naiknya pendapatan per kapita yang mendorong permintaan terhadap perawatan kesehatan dan kebugaran.

"Oleh karena itu, industri perawatan kesehatan laboratorium medis ini merupakan peluang investasi dan pasar potensial untuk ditangkap," katanya dalam gelaran Thailand Lab Connect: Indonesia.

Sirasak mengungkapkan, beberapa bidang di industri kesehatan yang merupakan pasar potensial seperti farmasi atau obat-obatan, jasa perawatan kesehatan, industri peralatan medis, laboratorium medis serta kosmetika.

Pada 2017, tambahnya, pasar untuk industri tersebut di Asia Tenggara senilai 684 juta dolar AS, pada 2018 naik menjadi 757 juta dolar AS dan pada 2019 diperkirakan 815 juta dolar AS sementara pada 2021 diproyeksikan sebesar 981 juta dolar AS atau dalam lima tahun naik rata-rata tujuh persen.

Pasar terbesar masih diduduki Singapura yakni 40 persen, disusul Thailand 16 persen, Malaysia 10 persen, Vietnam 8 persen kemudian Indonesia 5 persen dan Filipina 6 persen pada 2017.

Sedangkan pada 2021 diperkirakan pangsa pasar industri kesehatan di lima negara tersebut naik menjadi 40 persen untuk Singapura, Thailand sebesar 21 persen, Vietnam 10 persen, Indonesia 9 persen, Malaysia 8 persen dan Filipina 7 persen.

Terkait hal itu, akan diselenggarakan pameran Thailand LAB Internatioal 2019 pada 25-27 September 2019 di Bitec Bangkok Thailand, sebagai upaya untuk menangkap pasar industri kesehatan di Asia Tenggara dan Asia Pasifik dengan meningkatkan investasi di laboratorium ilmu hayati dan medis .

Head of Science and Technology Unit VNU Exhibition Asia Pacifik Anucha Parnpichate menyatakan, Thailand LAB Internatioal 2019 merupakan pameran dan konferensi untuk peralatan dan teknologi laboratorium analitik.

Pada pameran yang ke-9 tahun ini diluncurkan area baru bernama "Bio Investment Asia" yang berfokus pada inovasi dan tren untuk ilmu hayati dan bioteknologi, perawatan kesehatan dan kebugaran.

Acara ini akan menyuguhkan berbagai model peralatan dan teknologi laboratorium terbaru dari lebih dari 250 merek global di seluruh dunia.

"Tahun ini kami menargetkan mampu menarik investasi senilai 20 juta dolar AS dari ajang pameran ini," ujar perwakilan penyelenggara Thailand LAB 2019 itu.

Baca juga: Masalah kesehatan masih jadi momok di era Revolusi Industri 4.0
Baca juga: Menperin targetkan konsumsi alat farmasi dan kesehatan tumbuh 5 persen
Baca juga: IDEC 2019 hadirkan produk alat kesehatan robotik

Menkes Tekankan Pentingnya Penelitian

Pewarta: Subagyo
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar