counter

Alat ukur pencemaran udara rusak di Palangka Raya dipertanyakan

Alat ukur pencemaran udara rusak di Palangka Raya dipertanyakan

Warga Kota Palangka Raya, Kalteng, saat melintas di depan monitor tampilan ISPU di Bundaran Besar Kota Palangka Raya, Kamis (18/7/19) (FOTO ANTARA/Rendhik Andika)

Alat ISPU sudah dua bulan ini tidak berfungsi, teknisinya khusus didatangkan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), tapi belum ada kejelasan dari kementerian perbaikannya
Palangka Raya (ANTARA) - Warga di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mempertanyakan alat pengukur indeks standar pencemar udara (ISPU) saat ini tidak berfungsi, padahal kondisi kota itu sedang mengalami dampak kebakaran hutan dan lahan.

"Beberapa waktu lalu, layar yang menampilkan kondisi udara yang di Bundaran Besar Palangka Raya masih berfungsi. Namun kenapa, justru saat kita perlu, alat itu malah tidak berfungsi," kata Heru Supian, warga Palangka Raya, Kamis.

Matinya tampilan alat pengukur ISPU itu membuat warga di "Kota Cantik" tidak bisa mengetahui kondisi udara. Padahal saat ini, kata dia, ISPU sangat penting sehubungan dengan kebakaran hutan dan lahan, yang menimbulkan asap.

"Kalau pas udara seperti biasa alat itu mati tidak menjadi masalah. Namun sekarang, saat kita mulai diselimuti kabut asap, justru alat itu tidak berfungsi. Ini yang menjadi pertanyaan," kata karyawan swasta itu.

Dia pun berharap pemerintah kota segera mengaktifkan kembali layar pantau indeks standar pencemaran udara yang dipusatkan di kawasan Bundaran Besar Kota Palangka Raya itu.

Sebelumnya, Kepala Laboratorium Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya, Bowo Budiarso mengatakan alat pemantau ISPU tersebut sedang dalam pemeliharaan.

"Alat ISPU sudah dua bulan ini tidak berfungsi, teknisinya khusus didatangkan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kami sudah mengajukan usulan perbaikan, karena Palangka Raya saat ini mulai diselimuti kabut tipis asap dampak kebakaran lahan, tapi belum ada kejelasan dari kementerian perbaikannya," katanya.

Alat pemantau partikel pencemaran udara itu merupakan hibah dari KLHK pada 2017.

"Karena alat tersebut mulai rusak sejak dua bulan terakhir, sehingga saat terjadi pencemaran udara akibat kabut asap seperti saat ini data yang keluar tidak akurat. Kami menunggu saja teknisinya datang ke Palangka Raya," kata Bowo Budiarso.

Saat ini kondisi di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah mulai diselimuti kabut asap terutama di pagi dan sore hari. Bahkan terkadang di siang hari kabut asap juga mulai menyelimuti Kota Palangka Raya.

Baca juga: Alat pemantau ISPU di Pontianak rusak



Baca juga: Tiga ISPU menunjukan udara Riau berbahaya


 

Pewarta: Rendhik Andika
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

1.278 titik panas kepung Sumatera, Riau peringkat 3 terbanyak

Komentar