Padang (ANTARA) - Lima orang mahasiswa Universitas Andalas (Unand) Padang, menciptakan aplikasi untuk mempermudah pembelajaran Budaya Alam Minangkabau (BAM) untuk siswa Sekolah Dasar (SD) yang diberi nama "Si Buyuang".

Lima orang itu masing-masing Pepi Putri Utami, Muhammad Fikri (Teknik Elektro), Agung Wibowo Ardiyanta Surbakti, Pratama Halim (Sistem Komputer), dan Aulia Rahman (Sastra Minangkabau) dibawah bimbingan Dr. Eng. Muhammad Ilhamdi Rusydi.

Pepi di Padang, Senin, menyebut "Si Buyuang" merupakan aplikasi pembelajaran BAM yang dirancang secara menarik, dilengkapi dengan video interaktif, game edukatif dan teknologi "Augmented Reality" (AR).

"Augmented Reality" adalah teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata.

Tampilan aplikasi itu cukup sederhana dan mudah untuk dioperasikan. Pada sisi kiri disediakan tombol materi dan sebelah kanan tombol games. Pengguna bisa mengaksesnya dengan mudah menggunakan komputer maupun gawai.

Semua materi yang terdapat pada media pembelajaran "Si Buyuang" disesuaikan dengan kurikulum mata pelajaran BAM dan dapat diakses secara terbuka melalui laman http://www.sibuyuang.com/.

Saat ini laman atau website baru memuat media pembelajaran untuk kelas 4 Sekolah Dasar (SD) dan akan dikembangkan lebih lanjut untuk kelas lainnya.

Aplikasi itu telah diuji dalam proses pembelajaran BAM di SDN 14 Pauh Padang dengan hasil yang sangat memuaskan. Ujicoba itu dilakukan dengan cara membandingkan proses belajar mengajar dengan sistem konvensional dengan menggunakan aplikasi.

Tahap pertama tim dan guru melakukan proses belajar seperti biasa secara konvensional dengan metode ceramah. Selesai pembelajaran, guru memberikan ujian terkait materi. Pengujian ini dilakukan dengan metode hand signal atau menunjuk tangan. Hasilnya jumlah siswa yang menunjukkan tangan hanya 3-5 orang. Itu pun tidak semua yang menunjuk yang dapat menjawab secara benar.

Tahap selanjutnya dilakukan proses belajar mengajar dengan menggunakan metode "Si Buyuang". Ujian di akhir sesi dilakukan dengan metode yang sama. Ternyata jumlah siswa yang mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan meningkatkan yaitu 12-15 orang dari 22 orang.

Kepala Sekolah SDN 14 Pauh, Padang Ruwaida menilai aplikasi itu bisa meningkatkan ketertarikan siswa untuk mempelajari BAM hingga tiga kali lipat dari metode biasa.

Ia mendorong aplikasi itu terus dikembangkan dengan menambah materi dari kelas III sampai dengan kelas VI yang mempelajari mata pelajaran BAM.

Saat ini "Si Buyuang" sebagai media belajar untuk membantu pembelajaran BAM tersebut sedang dalam proses pendaftaran di Kemenkumham melalui LPPM Universitas Andalas. Berkas pendaftaran sudah dimasukkan pada tanggal 20 Juni 2019.*

Baca juga: Warga minang promosi budaya dan kuliner di Belanda

Baca juga: "Surau dan Silek" kenalkan budaya Minang di Italia

Pewarta: Miko Elfisha
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
Copyright © ANTARA 2019