counter

Hadapi revolusi industri 4.0, media wajib bertransformasi

Hadapi revolusi industri 4.0, media wajib bertransformasi

Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Tri Agung Kristanto (berdiri), Direktur Utama Tempo Inti Media Toriq Hadad (dua kiri), Ketua Dewan Pers Muhammad Nuh (dua kanan) sebagai narasumber dalam diskusi bisnis media pada revolusi industri 4.0 di Kantor Dewan Pers Jakarta, Selasa (23/7/2019). ANTARA/Fauzi/aa /pri

Saya kira kata kuncinya perubahan, siapa yang tidak mau berubah selesai ke depannya
Jakarta (ANTARA) - Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh mengatakan media harus melakukan transformasi menghadapi revolusi industri 4.0 yang identik dengan digitalisasi.

"Saya kira kata kuncinya perubahan, siapa yang tidak mau berubah selesai ke depannya. Perubahan ada di teknologi," ujar Nuh dalam diskusi "Bisnis Media Pada Revolusi Industri 4.0" di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Selasa.

Mengutip Charles Darwin, Nuh mengatakan saat ini bukan yang paling kuat atau yang paling pintar yang bisa bertahan, namun mereka yang bisa merespons perubahan yang bisa bertahan.

Dalam dunia bisnis saat ini, Nuh melihat terjadi pergeseran, bukan lagi pembeli yang mengikuti penjual, namun kini penjual yang harus mengikuti keinginan pembeli.

Meski begitu, Nuh menekankan media harus memiliki fungsi yang sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yakni melindungi, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam ketertiban dunia.

"Kita maksimalkan fungsi media menjadi engine education atau mendidik, empowerment untuk mensejahterahkan, enlightenment atau pencerahan, tujuannya merah putih atau nasionalisme," kata Nuh.

Perlu digitalisasi
Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk Toriq Hadad mengatakan media perlu melakukan transparansi bisnis dan juga mengubah orientasi bisnis.

Menurut dia, perlahan tapi pasti, penerbit tidak mungkin hidup hanya dengan bergantung pada iklan promosi pemerintah pusat atau daerah.

"Kembali pada fitrahnya, koran dibeli karena beritanya, saat ini meraih kembali pembaca dengan konten yang baik ini lah kita bersaing," ujar Toriq.

Toriq juga mengatakan media perlu mengecek kesehatan finansial. Salah satu eksperien yang dapat dilakukan media untuk berhemat, menurut dia, adalah penggabungan newsroom.

Eksperimen lainnya yang dapat dilakukan adalah diversifikasi usaha dengan menambah ragam produk untuk memaksimalkan keuntungan.

"Media yang akan menjadi juara adalah media yang bermain di segmen yang sempit tapi agak gemuk pangsa pasarnya," kata Toriq.

Terakhir, perusahaan media wajib melengkapi kompetensi reporter dan redaktur mereka dengan kompetensi digital, seperti sosial media, data analitik dan trending topic.

Hal ini, menurut Toriq, perlu dilakuakn unutk menyaingi Super Computer, teknologi yang mampu menulis berita dengan mempelajari pola tulisan 5W 1H.

"Berita plus teknologi mulai menggigit, bisa kecerdasan buatan, bisa virtual realty, bisa mengaitkan berita dengan pengalaman yang baru. Kita sekarang harus berubah mengikuti pembaca kita," ujar Thoriq.

Digitalisasi, menurut Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Tri Agung Kristanto, juga harus dilakukan oleh perusahaan media dalam menghadapi era industri 4.0.

"Media cetak harus punya kaki digital, kalau tidak selesai," kata Tri.

Tri menjelaskan, pengembangan digital berhasil membuat pendapatan Wall Street Journal tumbuh tiga persen dalam satu tahun setelah menutup bisnis koran di Eropa dan Asia.

Hal yang sama dilakukan Tempo. Strategi Tempo menutup lembar-lembar daerah dan mengembangkan digital juga dinilai tepat oleh Tri. "Karena biaya distribusi luar biasa," ujar dia.

Lebih lanjut, dalam menghadapi era industi 4.0, Tri mengatakan, perusahaan media tidak bisa jala berjalan sendiri, namun perlu dilakukan konvergensi -- berbagai media massa apapun platformnya, mulai dari koran, website, hingga sosial media.

"Masa depan adalah konvergensi, ada diintegrasi," tambah dia.

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Presiden terima Hyundai bahas mobil listrik

Komentar