Atambua Mulai Kondusif Pasca-Kerusuhan Paskah

Kupang (ANTARA Newsa) - Atambua, ibukota Kabupaten Belu, kawasan perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan Timor Leste, mulai kondusif pasca kerusuhan di Hari Raya Paskah, Minggu (23/3), yang mengakibatkan seorang tewas dan sekitar tujuh rumah penduduk dibakar massa. "Situasinya sudah mulai kondusif..Aparat Brimob dari Kompi A Belu serta aparat TNI dari Yonif 744/SYB dan Yonif 743/PSY sedang berjaga-jaga di lokasi kejadian di daerah Motabuik," kata Kapolres Belu, AKBP Mulyadi Kaharni, ketika dihubungi ANTARA dari Kupang, Senin. Dijelaskannya, kerusuhan berawal dari tewasnya seorang eks pengungsi Timor Timur, Paulino Lopes (19) yang ditikam oleh segerombolan pemuda di daerah Motabuik pada Hari Raya Paskah. Keluarga korban, tambahnya, langsung bereaksi dengan membakar sedikitnya tujuh unit rumah di daerah Motabuik yang diduga sebagai milik dari para pelaku. "Tidak ada korban jiwa dalam aksi pembakaran rumah penduduk itu..Para penghuni lari untuk menyelamatkan diri dari aksi serangan balasan tersebut," ujarnya. Kapolres Belu menguraikan, insiden tersebut berawal pada perayaan malam Paskah ketika para pelaku yang diduga mabuk melakukan keonaran di sekitar gereja tempat berlangsungnya ibadah malam Paskah. Korban sempat menegur kawanan pemuda itu, namun mereka tampaknya tidak mau menerima teguran itu dengan menghadangnya saat pulang dari gereja. Paulino Lopes, warga eks pengungsi Timor Timur yang bermukim di Desa Naibonat, Kupang Timur, itu sempat melarikan diri ketika dikeroyok oleh kawanan pemuda tersebut. Pada Minggu (23/3) siang, perkelahian berlanjut antara kelompok pemuda itu dengan warga eks pengungsi Timtim yang sedang berlibur di Atambua untuk merayakan Paskah bersama keluarga. Pada saat itu, kata Kapolres Belu, korban sempat dihajar dengan sebuah potongan besi di bagian kepala serta ditikam di bagian leher. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak sempat tertolong ketika tim medis sedang berupaya menjahit lukanya yang robek di bagian leher. Keluarga korban, kata Kaharni, tidak menerima kejadian itu dan melakukan serangan balik dengan membakar sekitar tujuh rumah penduduk di Motabuik yang diduga sebagai milik para tersangka. "Belum ada pelaku yang kami amankan karena semuanya melarikan diri saat keluarga korban melakukan aksi serangan balik. Kami sudah membidik empat orang yang diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan," kata Kaharni menambahkan. Aparat keamanan dari Polres Belu dibantuk unsur Brimob dari Kompi A Belu serta personil TNI dari Yonif 744/SYB dan Yonif 743/PSY sedang berjaga-jaga di sekitar lokasi kejadian untuk mencegah kemungkinan terjadinya kerusuhan. "Situasi Atambua dan sekitarnya sudah kondusif dan masyarakat sudah melakukan aktivitas seperti biasa," katanya menambahkan. (*)

Pewarta: muhaj
COPYRIGHT © ANTARA 2008

Komentar