16 marinir AS ditangkap terkait dugaan perdagangan manusia

16 marinir AS ditangkap terkait dugaan perdagangan manusia

Dokumentasi - Pasukan Marinir Amerika Serikat mengibarkan bendera kesatuannya dalam sebuah upacara di markas marinir Pendleton, California, Amerika Serikat (15/3/2018). ANTARA/REUTERS/HO-US Marines/aa

Los Angeles (ANTARA) - Enam belas marinir Amerika Serikat pada Kamis (25/7) ditahan atas kecurigaan terlibat dalam perdagangan narkoba serta penyelundupan migran tanpa dokumen di sepanjang perbatasan AS-Meksiko, kata beberapa pejabat militer.

Mereka ditangkap di markas Korps Marinir AS di , di kawasan Southern California.

Markas tersebut berada pada sekitar 88 kilometer di utara San Diego.

Penahanan tersebut berawal dari suatu penyelidikan terpisah terhadap dua anggota Marinir lainnya, yang ditahan awal Juli. Kedua marinir itu didakwa oleh jaksa federal di San Diego dalam kasus perdagangan manusia, kata seorang juru bicara Camp Pendleton.

Kedua marinir tersebut, yang bernama Kopral Byron Darnell Law II dan Kopral David Javier Salazar-Quintero, juga ditempatkan di Camp Pendleton, kata sang juru bicara, Letnan Satu Marinir Cameron Edinburgh.

"Serangkaian penahanan ini berawal dari informasi yang didapat dari investigasi sebelumnya," kata Edinburgh kepada Reuters.

Korps Marinir mengatakan bahwa, selain anggota-anggotanya yang ditangkap pada Kamis, delapan marinir juga ditahan untuk diperiksa soal pelanggaran-pelanggaran yang tidak berhubungan dengan narkoba.

Seluruh 16 marinir yang ditahan itu adalah anggota Divisi Marinir Pertama di Camp Pandleton, salah satu pangkalan terbesar Korps Marinir di Amerika Serikat.

Tidak seperti Salazar dan Law, keenam belas marinir itu terancam dihukum di bawah sistem peradilan militer namun, sejauh ini, mereka belum dikenai dakwaan secara resmi, kata Edinburgh.

Penangkapan pada Kamis terjadi satu hari setelah militer AS mengatakan bahwa satu tim Navy SEAL (pasukan operasi khusus AL Amerika Serikat di laut, udara dan darat) akan dikirimkan kembali ke Irak karena masalah kedisiplinan.

Menurut seorang pejabat, pengembalian mereka ke Irak itu antara lain karena mereka melanggar larangan mengonsumsi minuman beralkohol.

Sumber: Reuters

Penerjemah: Tia Mutiasari
Editor: Eliswan Azly
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar