counter

DKP NTT targetkan budidaya kerapu di Labuan Kelambu mulai November

DKP NTT targetkan budidaya kerapu di Labuan Kelambu mulai November

Wilayah Tanjung Kelambu di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Pulau Flores yang akan menjadi lokasi budidaya ikan kerapu oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur. ANTARA/Ist/am.

Target kami paling lambat November 2019, benih-benih ikan karapu harus sudah mulai ditebar untuk budidaya di Labuan Kelambu
Kupang (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Nusa Tenggara Timur menargetkan kegiatan budidaya ikan kerapu di Labuan Kelambu, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, dimulai pada November 2019.

"Target kami paling lambat November 2019, benih-benih ikan karapu harus sudah mulai ditebar untuk budidaya di Labuan Kelambu," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ganef Wurgiyanto di Kupang, Sabtu.

Ia mengatakan pemerintah provinsi telah mempersiapkan bantuan berupa pengadaan sejumlah fasilitas pendukung kegiatan budidaya tersebut seperti karamba, pondok penjagaan, rumah ikan dan perahu bertonase 3 GT.

Baca juga: NTT alokasi Rp7,5 miliar budidaya kerapu di Labuan Kelambu

Sementara untuk pengadaan benih ikan, lanjutnya, pemerintah provinsi telah mengalokasikan dana sekitar Rp7,5 miliar untuk mendatangkan sebanyak satu juta ekor benih kerapu.

"Selanjutnya untuk budidaya dan pengelolaan hasilnya kita lakukan bekerja sama dengan masyarakat setempat melalui koperasi di sana," katanya.

Menurut mantan Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP NTT itu, budidaya tersebut ditargetkan akan menghasilkan ikan-ikan kerapu yang higienis dan berkualitas tinggi untuk diekspor.

Baca juga: NTT jadikan Labuan Kelambu sentra produksi ikan di Flores

"Jadi nanti ikan-ikan akan dipancing dalam keadaan hidup terus dinaikkan ke karamba untuk selanjutnya diekspor. Tapi kalau belum bisa diekspsor maka akan dikirim ke Bali," katanya.

Ia mengatakan hasil budidaya ikan tersebut juga akan dipasok untuk memenuhi kebutuhan di lokasi wisata setempat yaitu objek wisata 17 Pulau di Kecamatan Riung.

"Karena itu kami sinergikan dengan sektor pariwisata, selain di lokasi budidaya juga bisa sebagai objek wisata bahari, namun hasil budidaya juga untuk suplai kebutuhan lokasi wisata di sekitarnya," katanya.

Baca juga: 5.000 benih kerapu ditambahkan untuk budi daya di Mulut Seribu-NTT



 

Pewarta: Aloysius Lewokeda
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar