counter

Artikel

Menakar perilaku minim sampah pengunjung "car free day" Jakarta

Oleh Katriana

Menakar perilaku minim sampah pengunjung "car free day" Jakarta

Beberapa petugas kebersihan membersihkan sampah di sekitar Jalan Thamrin, Jakarta, Minggu (28-7-2019), selama "car free day". (Foto: Katriana)

Jakarta (ANTARA) - Hari bebas kendaraan bermotor atau lebih dikenal dengan car free day merupakan ajang promosi untuk mengurangi kemacetan dan polusi udara dengan mengurangi laju kendaraan di ruas jalan tertentu dan tenggat waktu tertentu.

Selama car free day, masyarakat bebas berjalan dan berolahraga di sepanjang ruas jalan tanpa terkendala masalah lalu lintas atau terganggu oleh pencemaran udara pada pagi hingga siang hari.

Khusus di DKI Jakarta, car free day juga menjadi tempat bagi berbagai macam lembaga pemerintahan dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk berpawai dan menyampaikan aspirasi mereka.

Baca juga: CFD di tengah udara Jakarta yang tidak sehat

Tidak jarang, sejumlah kementerian dan LSM yang menaruh perhatian terhadap kondisi lingkungan juga menggelar pawai dan mengajak masyarakat yang hadir pada car free day untuk bersama-sama mengatasi pencemaran lingkungan, baik di udara maupun di darat, akibat sampah plastik.

Misalnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang pada car free day pekan lalu menggelar pawai, mengajak pengunjung dan masyarakat luas untuk bijak menggunakan plastik sekali pakai.

Susi mengajak seluruh warga untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, termasuk penggunaan sedotan plastik sekali pakai.

"Jangan minum pakai sedotan plastik. Kalau minum pakai sedotan seperti baby (bayi), malu-maluin," katanya di hadapan ratusan pengunjung.

Dalam pawai itu, Susi juga mengancam akan menenggelamkan ke laut para pembuang sampah, khususnya plastik sekali pakai.

Namun, Susi juga memuji warga yang sudah mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Dia lantas menyebutnya sebagai orang-orang yang mencintai lingkungan dan laut.

Sayangnya, di antara pengunjung car free day, masih ada banyak orang yang belum bijak mengelola sampah.

Baca juga: Kualitas udara Jakarta masih kategori tidak sehat

Sepanjang jalan yang dilalui warga selama car free day, sampah masih terlihat di mana-mana. Padahal, kantong pilah pembuangan sampah sudah disediakan di sepanjang jalan tersebut.

Suryadi, petugas kebersihan dari Pemprov DKI Jakarta, mengaku sering kewalahan membersihkan sampah yang berserakan di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin.

"Sering kewalahan karena sampahnya banyak terus," tuturnya saat tengah membersihkan sampah di sekitar Gelora Bung Karno, Jakarta.

Menurut dia, masih banyak yang buang sampah sembarangan. Buktinya petugas masih harus bersih-bersih di jalanan.

Ia mengatakan bahwa perilaku masyarakat yang sering membuang sampah tidak pada tempatnya itu kemungkinan karena mereka masih beranggapan bukan tanggung jawab mereka untuk menangani sampah-sampah tersebut.

"Iya, cari enaknya saja. Mungkin mereka berpikir masalah sampah, ya, urusan petugas," katanya.

Pengunjung, kata dia, masih sering membuang sampah di dekat tiang-tiang listrik di sekitar taman meski telah ada kantong pilah di sekitar taman itu.

Baca juga: Asosiasi diet sampah minta pemerintah setarakan cukai kantong plastik

Sementara itu, Yasril, petugas PPSU lainnya, mengatakan bahwa sampah selama car free day bisa mencapai lebih dari 1 ton.

"Dari ujung ke ujung Sudirman-Thamrin bisa sampai 1 ton," katanya.

Ia sendiri biasanya memungut lima sampai 10 karung sampah plastik meski sudah banyak pemulung yang turut membantu memunguti.

"Padahal, sudah dibantu pemulung. Saya sendiri bisa mengumpulkan berkarung-karung sampah botol plastik," katanya lebih lanjut.

Sampah-sampah tersebut umumnya terdiri atas sampah sisa makanan, botol plastik sekali pakai, kardus, sisa perasan jeruk dan batok kelapa dari para pedagang yang berjualan di car free day.

Sampah yang paling banyak terlihat, kata Yasril, adalah sampah botol plastik.

Baca juga: KLHK: Peningkatan sampah plastik jadi ancaman sangat serius

Jika diukur dari berat, jenis sampah yang paling berat yang ditemukan selama car free day adalah sampah sisa makanan dan batok kelapa.

Ucup, pemulung yang datang bersama anaknya, mengatakan bahwa bisa berkali-kali membawa gerobaknya dengan gunungan sampah botol plastik di dalamnya.

"Ada untungnya juga buat kami. Akan tetapi, kalau buangnya sembarangan, jadi masalah juga buat kami," katanya.

Sementara itu, Nuraini, pengunjung CFD yang datang dari Jakarta Selatan, mengaku sudah berusaha mengurangi sampah plastik sekali pakai dengan membawa botol minum dari rumah.

Saat membeli makanan, dia juga berusaha menjaga lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya. Namun, tong sampah yang disediakan di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin dinilainya masih kurang.

"Mungkin sebaiknya ada penambahan jumlah tong sampah selama car free day ini," katanya.

Baca juga: KKP siapkan perangkat, kurangi sampah plastik di pelabuhan perikanan

Warga, menurut dia, akan terangsang untuk membuang sampah pada tempatnya jika banyak disediakan tempat sampah.

"Tapi kalau tidak ada tempat sampah, ya, sudah dibuang aja," ucapnya.

Penanganan selain membersihkan sampah-sampah yang ada selama car free day, kata Mono (petugas kebersihan), pihaknya turut mengimbau para pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya.

"Paling kita ngingetin. Ya, tolong dijaga kebersihannya. Jangan buang sampah sembarangan," tuturnya.

Namun, meski telah berkali-kali diberi imbauan, warga masih tetap membuang sampah di sembarang tempat.

Untuk membersihkan sampah-sampah tersebut, para petugas biasanya terlebih dahulu membersihkan sampah tersebut ke kantong plastik besar, kemudian mengumpulkannya di pinggir jalan.

Setelah car free day berakhir, kantong-kantong sampah yang telah dikumpulkan di pinggir jalan akan diangkut dengan truk dari Dinas Kebersihan Pemprov DKI.

Sampah tersebut kemudian dibawa langsung ke tempat pembuangan akhir sampah di Bantar Gebang.

Oleh Katriana
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Otoped listrik mulai diminati warga

Komentar