Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI/Polri (Pepabri), Jenderal TNI (Hon) (Purnawirawan) Agum Gumelar, mengingatkan semua komponen bangsa untuk mengawal pemerintahan terpilih dalam Pilpres 2019, Joko Widodo dan KH Ma'ruf Amin.

Gumelar mengatakan hal itu di hadapan seratusan purnawirawan TNI dalam acara Silaturahmi Purnawirawan TNI dengan tema "Dengan Jiwa Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, Keluarga Besar TNI selalu menjaga Soliditas guna Msngawal Keutuhan NKRI", di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin.

Hadir dalam acara itu, Menteri Pertahanan, Jenderal TNI (Purnawirawan) Ryamizard Ryacudu, mantan Panglima TNI yang juga mantan tim sukses Prabowo-Sandiaga Uno, Jenderal Purn TNI Djoko Santoso, Ketua LVRI, Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Rais Abin, Ketua Umum PPAD, Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Kiki Syahnakri, mantan Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI (Purnawirawan) TNI Marsetio, Ketua Umum PPAL, Laksamana TNI (Purnawirawan) Ade Supandi, dan lain-lain. 

"Mau tak mau kita juga harus berjiwa besar untuk menerima realita politik pemerintahan baru sudah terpilih. Namun, tugas kita ke depan bersama-sama kita dengan jiwa Sapta Marga dan sumpah prajurit tidak hanya mengawal perjalanan bangsa, pemerintahan ini, ke masa batas waktunya 2024," kata dia.

Juga baca: Agum: Waspadai upaya pecah belah TNI-Polri

Juga baca: Agum Gumelar: Pepabri bebas dari politik praktis

Juga baca: Pepabri ingin Jokowi teruskan kebijakan baik SBY

Namun, lanjut dia, mengawal pemerintahan baru Jokowi-KH Ma'ruf Amin itu yakni dengan memberikan dukungan kepada pemerintah baru, baik yang berada dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan atau oposisi.

"Karena satu pemerintahan tanpa oposisi saya rasa sangat bisa mengarah pada suatu pemerintahan yang tidak terkendali," kata dia, yang juga bersyukur atas terselenggaranya acara silaturahmi bersama purnawirawan TNI.

Ia menilai acara tersebut penting guna kembali merekatkan rasa persatuan antara para purnawirawan TNI pasca Pilpres 2019. “Kemarin-kemarin sudah membuat kita hiruk pikuk, sekarang kita lihat ke depan. Saatnya kita bersama kembali dengan semangat sapta marga dan sumpah prajurit,” kata dia.

Ia mengajak purnawirawan TNI untuk merenung bahwa bangsa yang besar itu adalah bangsa yang mengenali sejarah bangsanya dan bangsa yang besar itu adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.

"Jadi, kalau detik ini ada kekuatan yang ingin mengganti NKRI, ingin mengganti Pancasila, itu harus merupakan suatu ancaman buat kita semua, buat bangsa dan negara. Ini musuh kita semua," kata dia.

Jadi, kata dia, hal itu bukan hanya tugas purnawirawan TNI dan prajurit TNI semata, tapi seluruh komponen bangsa.

"Tugas kita jauh lebih besar adalah mengawal bangsa negara ini dari ancaman gerakan yang ingin mengganti NKRI dan Pancasila yang sekarang ini kita kenal ancaman dari ekstrem atau radikal, yakni paham komunis dan paham radikal agama yang ingin mendirikan negara khilafah," katanya.

Menurut Gumelar, hal itu merupakan ancaman ke depan yang harus diantisipasi. bukan hanya sekedar mengantarkan.

"Ini perlu kebersamaan kita dengan jiwa semangat Sapta Marga dan sumpah prajurit," dia.
 

Pewarta: Syaiful Hakim
Editor: Ade P Marboen
Copyright © ANTARA 2019