Pemkab Sleman bertekad tingkatkan ekspor Kopi Merapi

Pemkab Sleman bertekad tingkatkan ekspor Kopi Merapi

Wakil Gubernur DIY, KGPAA Sri Paduka Paku Alam X, Kepala Badan Karantina PertanianKementerian Pertanian RI Ali Jamil dan Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun hadir pada Pelepasan Ekspor Komoditas Pertanian Unggulan DIY dan Jateng di Balai Karantina Pertanian Kelas II, Maguwoharjo, Depok, Sleman. (Foto istimewa)

Kopi Merapi yang ditanam di tanah vulkanik menyebabkannya mempunyai cita rasa yang khas. Hal inilah yang membuat rasa Kopi Merapi unik dan beda dengan kopi lainnya.
Sleman (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Seman, Daerah Istimewa Yogyakarta, bertekad untuk meningkatkan ekspor kopi dari lereng Gunung Merapi atau yang dikenal dengan Kopi Merapi karena banyaknya permintaan dari berbagai negara.

"Sekarang kami sudah ekspor Kopi Merapi itu ke Eropa, yakni ke Finlandia, tapi itu masih jauh dari permintaan, masih sedikit sekali,” kata Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun pada pelepasan ekspor komoditas pertanian unggulan DIY dan Jawa Tengah di Balai Karantina Pertanian Kelas II, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Selasa.

Menurut dia, upaya tersebut sesuai dengan imbauan Gubernur DIY yang mengatakan supaya lereng Merapi seluruhnya ditanami kopi untuk memenuhi permintaan pasar.

"Kopi Merapi yang ditanam di tanah vulkanik menyebabkannya mempunyai cita rasa yang khas. Hal inilah yang membuat rasa Kopi Merapi unik dan beda dengan kopi lainnya," katanya.

Ia mengatakan, Pemkab Sleman  sedang berupaya untuk memperbanyak bibit kopi yang akan di tanam di kawasan lereng Merapi. "Ini kami cari bibitnya dulu. Yang susah itu bibitnya," katanya.

Baca juga: Dubes RI pasarkan kopi Sumedang di Afrika

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian RI Ali Jamil yang hadir pada kesempatan tersebut mengatakan setidaknya ada empat strategi akselerasi ekspor komoditas pertanian.

Pertama, peningkatan jumlah eksportir melalui generasi milenial bangsa. Kedua, diversifikasi produk atau barang setengah jadi. Ketiga, meningkatkan frekuensi pengiriman, dan terakhir membuka pasar ekspor baru.

"Di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian yang sekarang nilai ekspor komoditas pertanian naik 10 persen atau Rp400 triliun dibanding era sebelumnya," katanya.

Turut hadir pula pada acara tersebut Wakil Gubernur DIY, KGPAA Sri Paduka Paku Alam X.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pelepasan ekspor komoditas pertanian secara simbolis, antara lain tanaman hortikultura seperti salak Sleman ke Kamboja dan kayu Albasia ke China.

Selain itu biji pala dan pala bubuk, bunga cengkih, vanila dan gula kelapa yang dikirim ke tujuh negara, antara lain Prancis, Amerika Serikat, Jerman, dan Belanda dengan nilai Rp15,6 miliar.

Kemudian ada 50 ton kulit kayu manis berbentuk stik kering dan pecahan kering yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan nilai Rp3,36 miliar yang diekspor ke Amerika Serikat dan Prancis.
Baca juga: Perkuat potensi ekspor hortikultura, Kementan siapkan strategi ini


 

Pewarta: Victorianus Sat Pranyoto
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar