counter

LPS sebut uang beredar sudah alami tren perlambatan sejak 2015

LPS sebut uang beredar sudah alami tren perlambatan sejak 2015

Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah (kadua dari kanan) di Jakarta, Rabu (31/7) (Indra Arief Pribadi)

Kalau sekarang lima persen maka konsumsi ini lama-lama akan memakan tabungan, sehingga menyebabkan DPK yang merupakan tabungan di masyarakat kita tidak cukup tumbuh dengan cepat
Jakarta (ANTARA) - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) Halim Alamsyah mengatakan pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) sudah mengalami perlambatan sejak tiga atau empat tahun terakhir atau sejak 2015 karena melandainya pertumbuhan ekonomi dan bergesernya pembayaran konvensional ke sistem elektronik.

“Pertumbuhan ekonomi peran besarnya adalah sektor konsumsi sekitar 60 persen-70 persen, namun pertumbuhan ekonomi selalu bergerak di sekitar lima persen saja,” ujar Halim di Jakarta, Rabu.

Konsumsi masyarakat yang memegang porsi 55 persen dalam pertumbuhan ekonomi menjadi indikator penting untuk melihat sejauh mana pergerakkan uang beredar.

Bank Indonesia dalam laporannya menyebutkan bahwa likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh, namun melambat pada Juni 2019. Posisi M2 pada Juni 2019 tercatat Rp5.911,2 triliun atau tumbuh 6,8 persen secara tahunan (year or year/yoy). Angka itu lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Mei 2019 yang sebesar 7,8 persen (yoy).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir yang stagnan di kisaran 5,0 persen berbanding lurus dengan kemampuan investasi dan konsumsi masyarakat. Maka itu, melandainya pertumbuhan ekonomi membuat uang beredar dalam arti luas (M2) juga tidak bertumbuh secara optimal.

Misalnya, investasi masyarakat seperti deposito dan tabungan, yang sangat ditentukan oleh laju pertumbuhan ekonomi. Jika ekonomi membaik, maka investasi masyarakat di pasar keuangan juga akan meningkat. Investasi merupakan komponen pembentukan M2

"Kalau sekarang lima persen maka konsumsi ini lama-lama akan memakan tabungan, sehingga menyebabkan DPK yang merupakan tabungan di masyarakat kita tidak cukup tumbuh dengan cepat," katanya.

Selain melandainya pertumbuhan ekonomi, perpindahan cara pembayaran masyarakat dari konvensional ke transaksi uang elektronik juga membuat uang beredar di masyarakat menurun. Apalagi, pertumbuhan uang elektronik telah meluas dengan kehadiran dompet elektronik dan juga fasilitas pemindaian kode respon cepat (QR Code).

“Uang kertas sebetulnya tidak banyak berubah relatif stabil jarang ada penurunan karena orang tidak banyak gunakan transaksi. Uang elektronik bisa saja menurunkan uang kertas dan akan juga menurunkan uang beredar,” katanya.

Baca juga: LPS targetkan premi restrukturisasi perbankan capai 2 persen PDB

Baca juga: LPS perkirakan bank mulai pangkas bunga deposito pada Oktober

Baca juga: LPS pangkas suku bunga penjaminan 0,25 persen


Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar