Pemprov Kalsel berupaya selamatkan pohon langka Kalimantan

Pemprov Kalsel berupaya selamatkan pohon langka Kalimantan

Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor menanam pohon di kawasan Miniatur Hutan Hujan Tropika. (Antaranews Kalsel/Humpro kalsel)

revolusi hijau, merupakan salah satu program unggulan, untuk memperbaiki kondisi lingkungan di Kalsel
Banjarmasin (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan berupaya menyelamatkan pohon langka endemik Kalimantan dengan membangun Miniatur Hutan Hujan Tropika seluas 90 hektare.

Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor di Banjarbaru ,Rabu mengatakan, melalui Miniatur Hutan Hujan Tropika (MH2T) akan diperlihatkan tentang kekayaan hutan Kalimantan seutuhnya.

"Saya ingin, pembangunan MH2T ini, akan mampu mencerminkan kondisi hutan tropis Kalimantan seutuhnya," katanya.

Menurut dia di lahan seluas 90 hektare tersebut, Pemprov Kalsel akan mengembangkan tanaman Ulin dan beberapa jenis Meranti yang kini mulai punah.

Kayu Ulin, kata dia, harus cepat diselamatkan melalui budi daya, karena kini keberadaannya sudah mulai langka, apalagi proses pertumbuhannya yang sulit dan memerlukan waktu yang sangat lama.

Menurut Gubernur, melalui program Revolusi Hijau, dia berharap, kerusakan kondisi lingkungan Kalsel akan terus bisa diperbaiki.

"Revolusi hijau, merupakan salah satu program unggulan, untuk memperbaiki kondisi lingkungan di Kalsel," katanya.

Ke depan, pemerintah ingin mewariskan kondisi alam yang baik generasi muda, dan bagi Indonesia bahkan dunia.

Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, melalui program MH2T, pihaknya ingin menampilkan ciri khas hutan Kalimantan, sekaligus sebagai upaya untuk menangani lahan kritis.

"Melalui program tersebut, kami ingin mempertahankan tanaman endemik seperti Ulin dan beberapa jenis Meranti," katanya.
Menteri Lingungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, usai menandatangani prasasti pembangunan Plaza Jokowi di Tahura Sultan Adam. (Antaranews Kalsel/Humpro Kalsel)

Program yang dimulai pada akhir 2017 tersebut, telah berhasil menanam tanaman peneduh seluas 25 hektare dari seharusnya 55 hektare.

"Sisanya yang 35 hektare akan diselesaikan dalam waktu segera," katanya.

Tanaman peneduh tersebut, tambah dia, akan berfungsi untuk melindungi bibit tanaman Ulin yang akan ditanam d llokasi yang sama. Tanaman peneduh tersebut, akan menjadi inang, bagi tanaman Ulin dan tanaman endemik lain yang masih mulai tumbuh.

Pada akhir 2018, tambah dia, pihaknya telah menanam sekitar 750 batang pohon Ulin dan 2810 batang pohon Meranti, di bawah naungan pohon Sengon.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr Siti Nurbaya Bakar menyerahkan bantuan sebanyak 500 bibit pohon untuk ditanam di lokasi MH2T.

Menurut Menteri, setiap pemerintah memiliki kewajiban untuk menyediakan kawasan terbuka hijau seluas 10 persen dari wilayah perkotaannya.

Ruang terbuka hijau tersebut, berupa hamparan lahan yang terdapat tumbuhan rapat yang berada di tanah negara atau tanah hak.

Sehingga, program Revolusi Hijau dan pembangunan Miniatur Hutan Hujan Tropis Pemprov Kalsel, sangat bagus untuk didukung dan bisa diadopsi untuk menjadi kebijakan nasional.

Hutan Hujan Tropika Indonesia berada di urutan ke dua di dunia setelah Brazil, sehingga perlu upaya seluruh pihak untuk terus menjaga kondisi hutan tersebut tetap lestari sampai kapanpun.

Baca juga: AS Dukung RI-Brunei-Malaysia Lestarikan "Jantung Kalimantan"
Baca juga: Jambi dan Kaltim dapat program "bio karbon fund" dari Bank Dunia
Baca juga: Ditemukan pohon langka, perlu tangan 8 orang untuk ukur diameternya



 

Pewarta: Ulul Maskuriah/Latif Thohir
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar