counter

Jakarta siapkan enam gudang limbah B3

Jakarta siapkan enam gudang limbah B3

Kepala Seksi Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) DLH Provinsi DKI Jakarta Rosa Ambarsari ketika ditemui ANTARA di Jakarta, Jumat (2/8/2019). (ANTARA/Suwanti)

Jakarta (ANTARA) - Sebanyak enam gudang penampungan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) rumah tangga tengah disiapkan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta untuk difungsikan tahun ini.

“Tingkat kota ada di Sunter, yang tingkat kecamatan ada lima di Pesanggrahan, Tegal Alur, Rawa Bebek, Jatinegara Kawung, dan Condet,” kata Kepala Seksi Pengelolaan Limbah B3 DLH Provinsi DKI Jakarta Rosa Ambarsari di Jakarta, Jumat.

Rosa menyebut bahwa gudang penampungan tersebut merupakan bentuk upaya penyediaan sarana dan prasarana yang memfasilitasi kesadaran masyarakat dalam menyerahkan sampah elektronik untuk diproses DLH Jakarta.

Baca juga: Dinas LHK DKI proses satu ton lebih sampah elektronik

Baca juga: Jakpus terbanyak kumpulkan limbah elektronik untuk wilayah Jakarta

Baca juga: Warga DKI diajak kumpulkan sampah elektronik


Pengadaan gudang penampungan limbah dilakukan mulai tahun lalu dan berlanjut di tahun ini. Untuk ke depannya, Rosa menambahkan, pengadaan akan menyesuaikan dengan perkembangan.

Selain gudang yang sedang disiapkan tersebut, saat ini ada lima gudang di lima lokasi berbeda yang sudah difungsikan.

“Kalau yang sudah dari tahun kemarin ada di Bambu Larangan dan Lenteng Agung yang skalanya kota lebih besar, kemudian ada satu di dinas juga, Kebon Jeruk, dan Duren Sawit,” tambah Rosa.

Gudang penampungan limbah B3 nantinya akan menampung sampah elektronik seperti lampu, baterai, televisi, penanak nasi dan lemari es, serta sampah rumah tangga kemasan berbahaya seperti kaleng bekas racun pembunuh serangga.

Sebagai catatan, dalam periode Januari hingga Juni 2019, DLH DKI Jakarta sudah memproses sebanyak 6,7 ton sampah kategori B3.

Pewarta: Suwanti
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sampah di TPST Bantargebang akan diolah jadi energi pengganti batubara

Komentar