Akademisi: Rektor harus memiliki kemampuan kepemimpinan ilmiah

Akademisi: Rektor harus memiliki kemampuan kepemimpinan ilmiah

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG (K), MPH. ANTARA/Fianda Rassat

Dalam dunia usaha rumah sakit dan perhotelan di Indonesia, kita sudah sangat tidak asing dengan kerja sama manajemen atau franchising system yang melibatkan negara asing, mampu menjadi daya ungkit terhadap kualitas layanan yang dilakukan.
Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Budi Wiweko mengatakan rektor harus memiliki kemampuan kepemimpinan ilmiah atau "scientific leadership" sehingga mampu menciptakan ekosistem yang mendukung perubahan di kampus yang dipimpinnya.

"Seorang pimpinan perguruan tinggi, apakah itu rektor asing atau WNI, harus memiliki scientific leadership yang kuat sehingga mampu menciptakan ekosistem yang mendukung perubahan terhadap tiga komponen penting dalam perubahan," ujar Budi di Jakarta, Sabtu.

Tiga komponen yang dimaksud adalah reputasi dosen, jumlah mahasiswa asing dan kemampuan kampus dalam mengubah wajah perguruan tinggi dalam melakukan inovasi disruptif dalam membangun sistem.

Dia menambahkan kepemimpinan yang kuat dengan rekam jejak yang baik akan mempercepat proses transformasi, termasuk pemikiran tentang rektor asing, yang harus menjamin adanya proses alih ilmu pengetahuan, maupun alih teknologi dan sistem manajemen perguruan tinggi.

Disinggung mengenai wacana mendatangkan dosen asing, Budi menambahkan salah satu pemikiran pemerintah dalam membangun kualitas perguruan tinggi di Indonesia adalah  dengan mendatangkan rektor asing.

'Fenomena menarik bila kita melihat ke tetangga kita, negeri Singapura, dua perguruan tinggi mereka, National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technology University (NTU) sama-sama menduduki peringkat ke-11 dunia menurut QS ranking tahun 2020. Apa sebenarnya yang terjadi di negeri ini yang sejak lama sudah sangat agresif dan progresif dalam hal riset serta pendidikan," ujar dia.

Singapura yang hanya berpenduduk 5,6 juta jiwa, sadar sekali pentingnya akselerasi dalam alih ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan tidak segan-segan merekrut tenaga peneliti asing bereputasi dunia untuk memimpin laboratorium riset dan inovasi di perguruan tinggi mereka.

"Hal itu membutuhkan skema pendanaan besar yang didukung penuh oleh pemerintah. Kita bisa melihat bagaimana rekam jejak peneliti bereputasi dunia yang membangun dunia riset dan pendidikan tinggi di Singapura, umumnya mereka pemimpin lembaga riset di negara Eropa, sebagian masih aktif, sebagian lagi sudah hampir memasuki masa pensiun," katanya.

Langkah serupa diikuti oleh negara Brunei, yang aktif mendatangkan para peneliti asing bereputasi dunia ke Universiti Brunei Darussalam (UBD), sebagian mereka mendapatkannya dari NUS, mengingat hubungan mereka yang erat dalam "commonwealth system".

Skema itu cukup sukses dalam mengaktifkan geliat dunia riset dan perguruan tinggi di Brunei sehingga tidaklah mengherankan saat ini UBD sudah bercokol di peringkat 298 dunia, hanya selisih dua peringkat dengan Universitas Indonesia sebagai perguruan tinggi dengan peringkat terbaik di dunia. Sementara itu Universiti Teknologi Brunei saat ini sudah menduduki peringkat 379 dunia.

Penentuan peringkat perguruan tinggi dunia dilakukan berdasarkan skor reputasi para dosen, skor reputasi para karyawan, rasio dosen terhadap mahasiswa, indeks sitasi dosen (menerangkan berapa banyak jurnal internasional per dosen yang di-sitasi oleh jurnal internasional lain), jumlah dosen asing serta jumlah mahasiswa asing di perguruan tinggi tersebut.

Pada umumnya, kata dia, perguruan tinggi di Indonesia memiliki skor terendah dalam hal indeks sitasi. Sebagai contoh Universitas Indonesia, yang memiliki peringkat tertinggi di Indonesia (296 dunia), hanya memiliki skor 1.9 untuk indeks sitasi, sementara Harvard University (peringkat tiga dunia) yang memiliki skor indeks sitasi sebesar 99.6.

Parameter kedua yang merupakan sektor kelemahan perguruan tinggi di Indonesia adalah dalam hal jumlah mahasiswa asing. Strategi mendatangkan mahasiswa asing memang bagaikan fenomena antara telur dan ayam, mahasiswa asing akan berbondong-bondong datang ke Indonesia jika melihat peringkat perguruan tinggi di Indonesia masuk dalam 50 atau 100 besar dunia. Di Universitas Indonesia hanya memiliki skor lima dalam hal mahasiswa asing, sementara Harvard University yang memiliki skor 66.2 untuk kategori yang sama.

Satu hal terpenting yang tidak boleh dilupakan, kata dia, dalam mengubah wajah perguruan tinggi di Indonesia adalah melakukan inovasi disruptif dalam membangun sistem. Studi mengenai world class university (WCU) dengan tegas menggarisbawahi tiga komponen terpenting bagi sebuah perguruan tinggi untuk mencapai kelas dunia, yaitu "talent concentration" (tempat berkumpulnya sumber daya manusia terbaik), "favorable governance" (regulasi yang memfasilitasi) dan "abundant resources" (finansial dan infrastruktur yang mendukung).

"Dalam dunia usaha rumah sakit dan perhotelan di Indonesia, kita sudah sangat tidak asing dengan kerja sama manajemen atau franchising system yang melibatkan negara asing, mampu menjadi daya ungkit terhadap kualitas layanan yang dilakukan. Analogi yang mungkin perlu kita pikirkan bersama untuk membangun perguruan tinggi di Indonesia," kata dia.
Baca juga: Nasir: Rektor asing ciptakan kompetisi tingkatkan daya saing SDM
Baca juga: Menristekdikti kantongi izin presiden soal rektor asing

Pewarta: Indriani
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menristekdikti perkenalkan rektor asing pertama di Indonesia

Komentar