Tingkatkan kualitas udara, Yogyakarta tambah 5 ruang terbuka hijau

Tingkatkan kualitas udara, Yogyakarta tambah 5 ruang terbuka hijau

Illustrasi: Ruang terbuka hijau berupa hutan kota (istimewa)

Yogyakarta ingin menjadi kota inklusi, ramah anak, ramah disabilitas dan lansia
Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta akan membangun lima ruang terbuka hijau publik pada tahun ini, meskipun penambahan tersebut belum memberikan tambahan yang signifikan pada peningkatan luasan ruang terbuka hijau publik.

“Ada lima Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) yang akan dibangun tahun ini. Lokasinya tersebar di beberapa kelurahan,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Suyana di Yogyakarta, Minggu.

Lima ruang terbuka hijau publik tersebut akan dibangun berada di Kelurahan Pandeyan dengan luas 250 meter persegi, Kelurahan Brontokusuman 600 meter persegi, Kelurahan Purwokinanti 270 meter persegi, Kelurahan Wirogunan 220 meter persegi dan RTHP paling luas dibangun di Kelurahan Kricak 1.900 meter persegi.

Beberapa pekerjaan pembangunan RTHP tersebut sudah masuk lelang melalui Badan Layanan Pengadaan Pemerintah Kota Yogyakarta, bahkan untuk pembangunan RTHP di Brontokusuman dan Purwokinanti dengan alokasi anggaran Rp694 juta sudah memiliki pemenang.

Saat ini, proses lelang yang sedang berjalan adalah pembangunan RTHP di Kelurahan Kricak dengan alokasi anggaran sebesar Rp615 juta. Lelang diharapkan selesai pada akhir Agustus.

Suyana mengatakan dengan adanya penambahan lima RTHP pada tahun ini, maka pada akhir tahun akan ada 49 RTHP di Kota Yogyakarta. Meskipun demikian, tambahan lima RTHP tersebut belum banyak menambah luasan ruang terbuka hijau di Kota Yogyakarta yang saat ini baru mencapai sekitar 19 persen.

Selain membangun RTHP baru, DLH Kota Yogyakarta juga melakukan pemeliharaan serta penyempurnaan terhadap beberapa RTHP yang sudah ada seperti di Taman Gajahwong.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengingatkan agar RTHP yang akan dibangun bisa dimanfaatkan oleh seluruh warga sehingga perlu didesain agar ramah terhadap anak, lansia, hingga penyandang disabilitas.

Ia menyebut ada beberapa RTHP yang kurang ramah terhadap lansia, anak, dan disabilitas karena kontur tanah yang digunakan sebagai lokasi pembangunan RTHP terkadang berada di tepi sungai.

“Yogyakarta ingin menjadi kota inklusi, ramah anak, ramah disabilitas dan lansia. Tentunya, fasilitas yang dibangun juga harus bisa diakses oleh seluruh kelompok masyarakat,” kata Heroe yang mendorong agar target RTHP 30 persen bisa tercapai.

Ia menyebut masih ada kekurangan luasan RTHP sebesar 11 persen sehingga keberadaan RTHP perlu terus diperbanyak, meskipun jika dihitung berdasarkan koefisien luasan hijau di Kota Yogyakarta sudah mencapai sekitar 34 persen.

“Beberapa inovasi yang bisa terus dilakukan untuk mengantisipasi keterbatasan lahan guna membangun RTHP, di antaranya dengan mengembangkan kampung atau lorong-lorong sayur di permukiman warga,” katanya.

Ia menyebut selain untuk interaksi sosial antar warga, keberadaan RTHP juga penting untuk menjaga agar kualitas udara di Kota Yogyakarta tetap baik sehingga kualitas kesehatan dan kehidupan warga pun meningkat.

Pewarta: Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

RPTRA Sunter Muara bersolek menjadi oase di pinggiran Jakarta

Komentar