counter

Artikel

Merayakan lebih awal hari kemerdekaan ala Kabinet Kerja

Oleh Desca Lidya Natalia

Merayakan lebih awal hari kemerdekaan ala Kabinet Kerja

Presiden Joko Widodo dan cucunya Jan Ethes Srinarendra memperhatikan perlombaan makan kerupuk dalam acara "Solidaritas Tanpa Batas" di Istana Kepresidenan Bogor pada Minggu (4/8) (Desca Lidya Natalia)

Jakarta (ANTARA) - Lazimnya perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia tiap 17 Agustus di berbagai daerah yang diwarnai macam-macam unjuk ketangkasan bagi warga, Presiden Joko Widodo dan para menteri Kabinet Kerja juga ikut merayakan hari istimewa itu dengan keluarga masing-masing. Namun kali ini mereka merayakan peringatan hari kemerdekaan Indonesia itu lebih awal.

Momen tersebut terjadi dalam acara kumpul keluarga para menteri Kabinet Kerja dengan tema "Solidaritas Tanpa Batas" di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/8).

Halaman belakang Istana Kepresidenan Bogor yang berbatasan dengan Kebun Raya Bogor pun disulap menjadi arena permainan raksasa. Permainannya pun yang lazim dimainkan pada peringatan 17 Agustus atau sering disebut sebagai "agustusan". 

Halaman rumput itu dibagi-bagi menjadi beragam arena permainan seperti arena lomba balap kelereng, lomba mengumpulkan bola di arena mandi bola, lomba makan kerupuk, lomba main bola menggunakan sarung, lomba memindahkan bola pingpong dengan paralon, lomba mencari kacang hijau dalam tepung, lomba padu padan busana dan lomba joget balon berpasangan.

Tidak ketinggalan barisan mobil tempat jualan makanan dan gerai makanan tradisional maupun modern yang tersebar untuk menjadi pengisi energi bagi para peserta acara yang terdiri atas para menteri dan juga mantan menteri dan setingkat menteri serta keluarga yang hadir dalam acara itu. 
 
Presiden Joko Widodo, Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ibu Mufidah Jusuf Kalla menikmati makanan di "food truck" dalam acara "Solidaritas Tanpa Batas" di Istana Kepresidenan Bogor pada Minggu (4/8). (ANTARA/Desca Natalia)


Bahkan di pojok istana di bawah pohon beringin nan rindang ditiup perosotan raksasa bagi para anak maupun cucu yang ingin meluncurkan badannya sementara di samping perosotan itu tersedia kursi-kursi malas bagi mereka yang ingin "ngaso" menikmati semilir angin Bogor.

Untuk mengenali satu sama lain, para peserta acara menggunakan stiker bertuliskan nama dan keluarga siapa yang disematkan di kaos putih bertuliskan "solidaritas tanpa batas" dan logo kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia.

Acara diawali dengan foto bersama para menteri Kabinet Kerja dan mantan Kabinet Kerja termasuk mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, mantan Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, mantan Kepala Bappenas Adrinof Chaniago, mantan Menteri Sosial Khofifah Indarparawangsa, mantan Kepala Kepolisian Indonesia Jenderal Polisi Badrodin Haiti, mantan Kepala BKPM Franky Sibarani dan keluarga di tangga Istana Kepresidenan Bogor.

Selanjutnya senam pagi yang dipimpin oleh empat orang instruktur pun dimulai. Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengambil tempat di di barisan belakang sedangkan Ibu Negara Iriana Joko Widodo dan Ibu Mufidah Kalla tetap berada di depan.

Sebelum senam, pembawa acara, Asty Ananta dan Bedu sempat mewawancarai sejumlah menteri kabinet mengenai berama jumlah anggota keluarga yang mereka ajak mengikuti acara.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengaku membawa enam orang anggota keluarga, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto datang membawa 11 anggota keluarganya, yaitu anak, cucu dan istrinya.

Selanjutnya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indarparawansa membawa empat anggota kekuarga langsung dari Jawa Timur.

Menteri Koordinator bidang Kemarituman Luhut Panjaitan membawa sembilan orang anggota keluarga, tujug di antaranya adalah cucunya.

Tidak ketinggalan Jaksa Agung HM Prasetyo membawa 11 orang anggota yang terdiri dari empat cucu, tiga anak, dua menantu dan istrinya.

"Beberapa waktu yang lalu ada bencana gempa. Ini solidaritas kepada saudara-saudara kita yang kena musibah. Panitia memberi kesempatan untuk memberikan donasi bisa transfer besok atau melalui e-banking atau masukin kotak langsung sebagai bentuk solidaritas kita ke saudara-saudara kita yang kena gempa dan mari berdoa agar saudara-saudara kita itu," kata Menteri Sekretaris Negara Pratikno yang didaulat menyampaikan sambutan pembuka.

Setelah senam singkat berdurasi sekitar 20 menit, para peserta pun dipersilakan sarapan untuk mengisi kalori sebelum mengikuti perlombaan.

Heboh lomba
Beragam lomba yang dipilih panitia memang lomba-lomba tradisional yang harus menggunakan kecekatan fisik maupun kecermelakangan strategi. Contohnya lomba makan kerupuk.

Pada pertandingan pertama peserta lomba makan kerupuk adalah Sibarani, Chaniago, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly, Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi.

Jokowi bertindak sebagai wasit untuk memulai pertandingan sengit tersebut didampingi sang cucu, Jan Ethes Srinarendra.
 
Presiden Joko Widodo dan cucunya Jan Ethes Srinarendra memperhatikan Wapres Jusuf Kalla saat mengikuti perlombaan makan kerupuk dalam acara "Solidaritas Tanpa Batas" di Istana Kepresidenan Bogor pada Minggu (4/8). (ANTARA/Desca Natalia)


Disebut sengit karena awalnya Mulyani yang memimpin jalnnya pertandingan namun belakangan Nahrowi mulai menyusul dan ditempel ketat Moeldoko.

"Ayo ibu menteri terbaik sedunia, jangan curang bu," kata pembawa acara Bedu karena ingin mengingatkan agar para peserta lomba tetap menahan tangannya di bawah dan tidak berusaha menggapai kerupuk dengan tangan masing-masing.

Hingga akhirnya Nahrowi yang pertama menghabiskan gigitan kerupuk yang tergangung.

Sedangkan pada kloter kedua, giliran Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Kalla, Baswedan, Panjaitan, serta Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf yang bertanding pada lomba makan krupuk.

Sambil menggendong Jan Ethes, Jokowi kembali menjadi juri pertandingan itu.

Awalnya Munaf memimpin pertandingan dan disusul Panjaitan sedangkan Kalla kelihatannya kesulitan untuk menghabiskan kerupuk tersebut.

"Pak Luhut, Pak Luhut," kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memberi semangat kepada menteri koordinator itu.

Sedangkan Baswedan sempat mengambil jeda sekitar lima detik untuk mengambil nafas dan tertawa. Akhirnya, Panjaitan menjadi orang pertama yang menghabiskan kerupuk putih tersebut disusul oleh Triawan Munaf dan Hadi Tjanjanto, penonton pun bersorak.

Lomba lain yang butuh ketangguhan fisik adalah lomba main bola menggunakan sarung.

Awalnya lomba ini didesain untuk bapak dan anak laki-lakinya bersama-sama dalam satu sarung untuk menggolkan bola sepak. Namun kondisi di lapangan mengharuskan ada variasi permainan akhirnya siapapun yang ingin berlomba boleh masuk dalam sarung dan bertanding dalam arena.

Pasangan "aneh" pertama adalah Sumadi dan Pratikno yang berada dalam satu sarung cokelat. Pasangan "aneh" selanjutnya adalah Baswedan dan Chaniago. Kedua pasangan tersebut melawan pasangan "normal" yaitu Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan anak laki-lakinya serta Menteri Sosial Agus Gumiwang juga dengan anak laki-laki bungsunya.

Kontak fisik tak terhindarkan sehingga beberapa kali Sumadi, Pratikno, Baswedan dan Airlangga harus bertabrakan dan "rebahan" di atas rumput. Pertandingan berlangsung sengit. Wasit pun sampai harus mengeluarkan kartu kuning bagi Pratikno karena dianggap melakukan pelanggaran keras kepada lawannya.

Pertandingan akhirnya dimenangkan oleh tim sarung biru setelah dua gol berturut-turut yang dilesakkan oleh anak Airlangga dan Chaniago.

Di sisi halaman rumput yang lain, Ibu Iriana Jokowi dan Ibu Mufidah Kalla harus bertanding dengan ibu-ibu menteri lain dalam lomba padu padan busana.

Dalam lomba tersebut ada tujuh tim yang bertanding, terdiri atas satu orang peserta yang "didandani" dan dua orang peserta sebagai penata busana sekaligus menjadi penata riasan.

Tim pertama, Ibu Iriana dan Ibu Mufidah Kalla menata busana Ibu Siti Faridah Pratikno a'la noni Belanda dengan busana kuning emas mentereng dengan wig warna cokelat terang tidak ketinggalan kipas pink bulu-bulu.

"Ini inspirasinya dari gedung-gedung ini yang banyak noni-noni Belande," kata Iriana dengan gaya bicara sengaja dibuat "kebule-bulean" dan langsung mengocok perut penonton.

Tim kedua adalah Ibu Ratna Megawangi Sofyan Djalil yang berdandan ala tentara pejuang zaman dulu dengan kemeja lurik seperti tentara Keraton Yogyakarta, topi tempur tentara, kaca mata hitam dan jubah cokelat.

"Saya adalah komandan penamanan pasar klewer yang ingin menangkap penyebar hoaks dan pencuri di pasar," kata Ratna Megawangi. Otak di balik dandanan itu adalah istri Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, drg Nora Ryamizard, dan istri Menteri AA Gede Ngurah Puspayoga.

Sedangkan tim lain yaitu Lumongga Agus Gumiwang yang juga mengenakan busana ala noni belanda tapi berwarna putih dengan wig juga putih, Ibu Ratnawati Jonan yang memakai kostum ala penjual jamu tradisional dengan bakul dan caping serta Sherina Munaf yang memakai kostum prajurit yang kerap muncul di kaleng biskuit.

Hasilnya pemenang lomba kostum tersebut adalah tim Siti Faridah Pratikno, juara kedua Ratnawati Jonan dan ketiga adalah Ratna Megawangi Sofyan Djalil.
Istri-istri Menteri Kabinet kerja mengikuti lomba padu padan busana dalam acara "Solidaritas Tanpa Batas" di Istana Kepresidenan Bogor pada Minggu (4/8). (ANTARA/Desca Natalia)


Perlombaan selanjutnya adalah joged balon secara berpasangan bagi suami-istri. Sayangnya ada suami yang hilang dalam lomba itu. "Suami saya hilang, terakhir ketemu pukul 10.00 WIB pas minum kopi," kata Iriana Jokowi menggunakan pengeras suara.

Tentu saja pengumuman tersebut kembali mengundang tawa peserta "gathering" karena suami yang ia maksud yaitu Jokowi, yang duduk santai bersebelahan dengan Kalla di kursi malas sambil melihat ke arena lomba.

Lomba joged balon yang diiringi dengan lagu Terajana itu awalnya diikuti belasan pasangan yang sambil berjoged harus berebut "kursi panas". Hingga akhirnya hanya ada tiga pasang yang bertahan yaitu Ibu Iriana dan Mufidah Kalla, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi dan istri serta Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan istri.

Sudah bisa ditebak, tentu pemenangnya adalah Iriana dan Mufidah Kalla karena dua pasangan lain sungkan untuk merebut kursi itu.
Lomba joged balon dalam acara "Solidaritas Tanpa Batas" di Istana Kepresidenan Bogor pada Minggu (4/8). (ANTARA/Desca Natalia)


"Mau dirombak formasi kabinetnya?" kata Bedu bergurau mengomentari kemenangan pasangan itu. Acara kemudian ditutup dengan penyerahan hadiah bagi para pemenang, serta pengumuman door prize yaitu sepeda.

Sejumlah pemenang door prize adalah Andi Wijayanto, Wiranto, Laoly, Chandiago yang langsung menggowes sepeda tersebut keliling lapangan.

Tak ketinggalan, tampil juga Elek Yo Band yang beranggotakan para menteri Kabinet Kerja, di antaranya Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Marsudi, Sri Mulyani, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Sumadi, dan Triawan Munaf. Intinya, semua gerak dan semua solid.

Rencana lama
"Iya ini khan sudah lama, rencana lama dan inginnya itu khan enam bulan ketemu sekali atau minimum setahun sekali, tapi ini lima tahun baru sekali, ha ha ha," kata Jokowi.

Ia mengaku bahwa acara kumpul bersama itu untuk menyeimbangkan kehidupan kerja dan keluarga masing-masing menteri.

"Ketemu dalam kumpul bersama dengan seluruh keluarga, baru sekali ini, khan mengurusi kerja terus, melupakan bahwa putra putri beliau para menteri, para menko itu juga kadang-kadang kan ingin foto bareng kita, putra-putrinya kita yang lima tahun baru ketemu ini kita," kata dia.

Ia pun berharap setelah acara kumpul keluarga itu, para menteri dapat semakin bekerja sebagai tim.
Cucu presiden Joko Widodo, Jan Ethes Srin Narendra bermain perosotan dalam acara "Solidaritas Tanpa Batas" di Istana Kepresidenan Bogor pada Minggu (4/8) (Desca Lidya Natalia)


"Setelah acara ini ya kita bekerja sebagai tim, bekerja kita tidak sendiri-sendiri, menko ke bawah itu menteri-menteri kerjanya tim, jadi ya semakin akrab beliau-beliau ini, akan semakin memperkuat tim yang kita miliki," kata dia.

Ia pun berencana kembali mengadakan acara serupa.

"Ya kita ingin enam bulan sekali, setahun sekali, tapi ini kejadian baru lima tahun sekali hehe coba, karena semuanya fokus ke pekerjaan masing-masing, kerja-kerja," kata dia.

Namun dia tidak dengan tegas menjawab pertanyaan apakah formasi kabinet saat ini akan dilanjutkan atau berganti. "Oh dilanjutkan, ha ha ha," jawab dia, saat wartawan bertanya apakah kabinet yang solid itu akan dilanjutkan untuk periode pemerintahan kedua.

Sedangkan Kalla yang memenangi lomba balap kelereng mengatakan acara untuk menambah semangat dalam bekerja.

"Makan kerupuk kalah, lomba kelereng juara, ya kan 'happy happy' saja kan, 'fun' dan itu, supaya, itu namanya kalau dalam hidup 'di- charger', ke sini itu langsung segar," kata Kalla.

Dalam acara itu, mereka semua dan kelauarganya juga memberikan donasi untuk para korban gempa. "Ya meskipun alhamdulillah di lapangan, semoga tidak terjadi seperti yang kita bayangkan,Tetapi apapun tetap memerlukan penanganan cepat, yang baik dan kita sedikit-sedikit lah, ikut nyumbang sebagai pribadi," kata dia

Total donasi yang terkumpul adalah Rp1,075 miliar. Sambil menjaga soliditas sambil berekreasi bersama keluarga, semoga dapat terjaga hingga pemerintahan lima tahun ke depan.
 

Oleh Desca Lidya Natalia
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menakar Kabinet Kerja jilid II

Komentar