Gapkindo: Perkebunan karet bisa lenyap akibat penyakit gugur daun

Gapkindo: Perkebunan karet bisa lenyap akibat penyakit gugur daun

Ketua Gapkindo Sumsel Alex K Eddy di Palembang, Senin (5/7/2019). (Antara News Sumsel/Dolly Rosana/19)

Hingga kini Brazil tidak pernah bangkit lagi, dan perkebunan karet sudah tidak ada lagi di sana
Palembang (ANTARA) - Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Alex K Eddy memprediksi bahwa perkebunan karet bisa saja lenyap dari Tanah Air dalam beberapa tahun ke depan karena penyakit gugur daun yang saat ini sedang mewabah.

Alex yang dijumpai seusai acara Diseminasi Kebijakan Ekonomi Bank Indonesia di Palembang, Senin, mengatakan, kekhawatiran ini bukan tidak mendasar karena apa yang terjadi di Indonesia saat ini sudah dialami oleh Brazil.

“Hingga kini Brazil tidak pernah bangkit lagi, dan perkebunan karet sudah tidak ada lagi di sana,” kata Alex.

Ia mengatakan, fakta di lapangan sangat relevan dengan kondisi yang dialami Brazil ketika ini. Saat ini, produksi getah karet di tingkat petani sudah merosot tajam sejak terjangkitnya penyakit gugur daun pada akhir 2017.

Berdasarkan catatan Gapkindo Sumsel diketahui produksi getah karet Sumsel mencapai 1,2 juta ton pada 2017, kemudian bergerak turun menjadi 1 juta ton pada 2018. Kini pada 2019, dalam periode Januari-Juni hanya mampu memproduksi 450 juta ton.

“Dengan data terupdate saat ini, yang mana 60-70 persen perkebunan karet sudah terpapar penyakit gugur daun, saya memprediksi produksi Sumsel hanya berkisar 800 ribu ton pada akhir 2019,” kata dia.

Padahal, ia melanjutkan, Sumsel ini merupakan sentra perkebunan karet terbesar di Indonesia, yang pada 2017 menghasilkan 2 miliar dolar AS sebagai devisa negara, dan 2018 menghasilkan 1,4 miliar dolar AS.

“Jika ini benar-benar terjadi (hanya sekitar 800 juta ton) maka kita akan kehilangan pontensi pemasukan sekitar Rp7 triliun,” kata dia.

Gapkindo pun menyayangkan langkah yang diambil pemerintah cenderung lambat terkait penyakit gugur daun ini.

Saat ini, petani karet rakyat sudah benar-benar menderita karena harga yang anjlok juga sekaligus dibarengi dengan penurunan volume produksi.

Jadi, ia melanjutkan, apa yang diharapkan Gubernur Sumsel Herman Deru bahwa perkebunan karet dapat membantu penurunan angka kemiskinan menjadi isapan jempol belaka, apalagi sudah sekitar 400.000-500.000 hektare lahan yang terpapar dari sekitar 1 juta hektare.

Produksi karet Sumatera Selatan melorot tajam hingga 60 persen pada triwulan I/2019 akibat mewabahnya penyakit gugur daun sejak 2018 akibat penyebaran jamur Pestalotiopsis sp, yang diperkirakan telah memapar sekitar 80-90 persen lahan perkebunan karet milik petani rakyat.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil (P2HP) Dinas Perkebunan Sumsel Rudi Arpian mengatakan berdasarkan data Dinas Perkebunan Sumsel, produksi karet hanya sekitar 583.000 ton per triwulan I/2019. Sementara sebelumnya, sepanjang 2017—2019 produksi karet petani berkisar 971.479 ton.

Menurutnya, pemda telah berupaya membantu petani karet untuk mengatasi penyakit gugur daun. Salah satunya berupa bantuan pupuk untuk 4.000 hektare kebun karet yang tersebar di 7 kabupaten.

"Namun upaya pencegahan dan penanggulangan tidak cukup, karena yang paling efektif adalah dengan gerakan pembersihan gulma atau sanitasi lingkungan secara massa. Jika kebun sebelahnya tidak dibersihkan maka inangnya akan kembali lagi,” kata Rudi.

Baca juga: Produksi karet Sumsel melorot 60 persen akibat penyakit gugur daun

Baca juga: Pemerintah antisipasi mewabahnya penyakit "gugur daun karet"

Baca juga: Penyakit gugur daun papar perkebunan karet Indonesia



 

Pewarta: Dolly Rosana
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Budi daya lebah madu di hutan karet Alas Roban

Komentar