BI Malang: Perubahan pola konsumsi masyarakat bisa tekan inflasi

BI Malang: Perubahan pola konsumsi masyarakat bisa tekan inflasi

Cabai rawit. (Vicki Febrianto)

Pola konsumsi masyarakat juga perlu diubah. Mulai dibiasakan untuk konsumsi cabai kering dengan selera cita rasa pedas disamping memilih cabai segar
Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang menyatakan bahwa perubahan pola konsumsi masyarakat, khususnya untuk komoditas cabai, dinilai bisa menjadi salah satu langkah untuk menekan laju inflasi.

Kepala Perwakilan BI Malang Azka Subhan menyatakan bahwa pola konsumsi masyarakat Indonesia termasuk di Kota Malang, Jawa Timur, perlu diubah dan dibiasakan untuk mengkonsumsi cabai kering yang juga memiliki kualitas bagus.

"Pola konsumsi masyarakat juga perlu diubah. Mulai dibiasakan untuk konsumsi cabai kering dengan selera cita rasa pedas disamping memilih cabai segar," kata Azka kepada ANTARA, di Kota Malang, Jawa Timur, Senin.

Menurut dia, dengan adanya peralihan pola konsumsi tersebut, maka laju inflasi yang disebabkan adanya kenaikan harga cabai bisa diredam. Sejauh ini, sudah banyak olahan cabai kering yang memiliki kualitas bagus, namun masyarakat masih tetap memilih cabai segar.

Sebagai catatan, pada Juli 2019, tingkat inflasi di Kota Malang sebesar 0,20 persen dengan komoditas utama penyumbang inflasi adalah cabai rawit. Cabai rawit memberikan andil sebesar 0,18 persen terhadap inflasi Kota Malang, dengan kenaikan mencapai 151,86 persen.

"Kenaikan harga tersebut dipengaruhi faktor supply-demand. Salah satunya disebabkan oleh bergesernya masa panen cabai di beberapa sentra produksi cabai akibat faktor anomali cuaca dan permintaan masyarakat tetap tinggi," ujar Azka.

Dalam menghadapi kenaikan harga cabai beberapa waktu lalu, perlu adanya langkah operasi pasar untuk mengendalikan harga. Namun, kewenangan untuk mengambil langkah operasi pasar tersebut, berada pada tingkat provinsi dan pemerintah pusat.

"Operasi pasar memungkinkan untuk dilakukan, asalkan, stok cabai memang tersedia," kata Azka.

Azka menambahkan, terkait permasalahan cabai yang memiliki andil besar terhadap inflasi tersebut, harus dilihat dari kedua sisi. Pertama yakni sisi produksi, dan kemudian dari sisi konsumen.

Dari sisi produksi, pada pertengahan tahun 2019 ini, kenaikan harga disebabkan bergesernya masa panen di beberapa sentra produksi akibat faktor anomali cuaca. Sementara dari sisi konsumen, permintaan terus tinggi meskipun pasokan berkurang.

"Jadi, persoalan cabai ini bisa dilihat dari sisi produksi maupun sisi konsumen. Demikian juga untuk upaya penyelesaiannya," ujar Azka.

Pada Juli 2019, komoditas penyumbang inflasi, selain cabai rawit adalah cabai merah besar. Cabai merah besar mengalami kenaikan sebesar 15,80 persen dengan andil 0,06 persen, ditambah harga daging ayam ras juga naik 8,08 persen dengan andil 0,09 persen.

Baca juga: Legislator ingin data cabai diperbaiki untuk kestabilan harga

Baca juga: Pengamat ingatkan upaya untuk jaga stabilitas harga cabai

 

Pewarta: Vicki Febrianto
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jelang Idul Adha, Harga Cabai & Rawit Merah Membubung

Komentar