counter

Konflik perdagangan AS-China berakibat imbal hasil obligasi AS jatuh

Konflik perdagangan AS-China berakibat imbal hasil obligasi AS jatuh

Kementerian Keuangan AS di Washington, AS. REUTERS/Brian Snyder

New York (ANTARA) - Imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat jatuh pada Senin (5/8/2019), dengan imbal hasil obligasi periode 10 tahun mencapai level terendah sejak November 2016, karena meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China dikhawatirkan bisa menurunkan pertumbuhan ekonomi dan mendorong kenaikan obligasi untuk sesi keempat berturut-turut.

China mendepresiasi yuan untuk menembus level kunci tujuh per dolar untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, pertanda Beijing mungkin bersedia melanjutkan toleransi bagi pelemahan mata uangnya yang dapat mengobarkan konflik perdagangan bilateral.

Media pemerintah China mengatakan perusahaan-perusahaan lokal telah menghentikan pembelian produk-produk pertanian AS, meningkatkan kecemasan tentang gerakan saling balas oleh dua ekonomi terbesar dunia. Langkah-langkah China mengikuti ancaman Presiden AS Donald Trump minggu lalu untuk mengenakan tarif tambahan 10 persen pada 300 miliar dolar AS impor dari China mulai 1 September.

"Ada banyak ketakutan di luar sana," kata Larry Milstein, kepala perdagangan pemerintahan dan agen di R.W Pressprich & Co di New York. “Apa jalan yang bisa mengakhiri ini? Sepertinya kita tidak akan sampai di sana dalam waktu dekat. "

Gesekan perdagangan yang meningkat tampaknya telah mulai merugikan sektor jasa-jasa AS karena menekan produsen-produsen dalam negeri.

Indeks Institute for Supply Management (ISM) pada aktivitas jasa-jasa AS menunjukkan pertumbuhan sektor ekonomi yang luas melambat ke level terlemah dalam tiga tahun pada Juli.

Investor cemas dan telah menyerah dari saham-saham serta aset-aset berisiko lainnya dengan indeks saham utama Wall Street jatuh dua persen.

Mereka lebih menyukai surat utang pemerintah AS, yen Jepang, emas, dan aset berisiko rendah lainnya untuk memarkir uang mereka.

Pasar obligasi mencatat pengembalian total 1,31 persen minggu lalu, yang merupakan kenaikan mingguan terbesar sejak November 2011, menurut sebuah indeks yang disusun oleh Bloomberg dan Barclays.

Pada akhir perdagangan AS, imbal hasil atas obligasi AS 10-tahun turun 12,7 basis poin menjadi 1,7278 persen. Imbal hasil ini mencapai 1,728 persen pada Senin pagi (5/8/2019), terendah sejak 9 November 2016, sehari setelah Trump terpilih sebagai presiden.

Imbal hasil surat utang pemerintah dua tahun yang sensitif terhadap pandangan pedagang tentang kebijakan Fed, menyentuh 1,571 persen, terendah sejak November 2017. Imbal hasil ini terakhir 14,7 basis poin lebih rendah pada 1,5753 persen.

Suku bunga berjangka menyiratkan pedagang sepenuhnya mengharapkan Federal Reserve AS untuk menurunkan suku bunga lagi pada pertemuan kebijakan 17-18 September setelah pemotongan mereka minggu lalu untuk pertama kalinya sejak 2008, program FedWatch CME Group menunjukkan.

Perbedaan antara tingkat imbal hasil surat utang pemerintah tiga bulan dan imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun tumbuh hampir 27 basis poin, terlebar sejak April 2007.

Kurva "inversi" antara dua jatuh tempo ini telah mendahului setiap resesi AS dalam 50 tahun terakhir.

Permintaan tergesa-gesa untuk surat utang pemerintah diperkirakan akan memicu tawaran untuk pengembalian dana triwulanan minggu ini di mana pemerintah akan menjual 38 miliar dolar AS dalam surat utang tiga tahun, 27 miliar dolar AS dalam wesel bayar 10 tahun dan 19 miliar dolar AS dalam obligasi 30 tahun.

"Saya tidak berharap akan berdampak besar pada pengembalian uang," kata Jon Hill, ahli strategi suku bunga di BMO Capital Markets.

Baca juga: China hentikan pembelian produk pertanian, petani AS terpukul
Baca juga: Trump pertahankan sikap pada perdagangan China setelah tarif baru
Baca juga: Wall Street berakhir melemah karena imbal hasil obligasi AS turun lagi

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

RI akan bantu redakan tensi perang dagang Jepang-Korsel

Komentar