counter

PAM siapkan mobil tangki darurat antisipasi puncak kemarau

PAM siapkan mobil tangki darurat antisipasi puncak kemarau

Dokumentasi pekerja mengisi air bersih yang bersumber dari PAM Jaya ke jerigen untuk dijual di Muara Angke, Jakarta, Senin (22/7/2019). Pemerintah Administrasi Kota Jakarta Utara menyatakan bahwa pasokan air bersih selama musim kemarau yang bersumber dari PAM Jaya dan Aetra masih pada tingkat aman. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Jakarta (ANTARA) - PT PAM Jaya menyiapkan sejumlah mobil tangki air untuk kondisi darurat sebagai langkah antisipasi kekeringan dalam menghadapi puncak kemarau di Jakarta tahun ini.

“PAM Jaya bersama Palyja dan Aetra menyiapkan mobil tangki untuk kondisi urgent. Total sebanyak 26 mobil tangki, dari PAM Jaya lima tangki, Palyja 15 tangki, dan Aetra enam tangki,” kata Manajer Humas PT PAM Jaya Linda Nurhandayani ketika dihubungi di Jakarta, Selasa.

Selain itu, dia menyebut perusahaan penyedia air bersih itu terus melakukan koordinasi dengan pihak Perum Jasa Tirta II untuk memantau pasokan air baku untuk Jakarta. Saat ini, sebagian wilayah Jakarta mulai kekeringan dan kekurangan pasokan air bersih. Misalnya, yang terjadi di Jakarta Utara.

Menurut dia, itu terjadi karena wilayah Jakarta Utara merupakan yang paling jauh dari jangkauan pipa jaringan PAM. Ia menambahkan hingga saat ini cakupan layanan perusahaan salah satu badan usaha milik daerah itu masih sebesar 60 persen.

Juga baca: Pasokan air Jakarta tetap aman meskipun kemarau

Juga baca: Pemkot Jakarta Utara minta PAM Jaya tambah suplai air bersih

Juga baca: Suplai air bersih Jakarta Barat-Jakarta Utara terbatas

“Tahun ini PAM Jaya sedang membangun SPAM atau Sistem Penyediaan Air Minum Hutan Kota yang akan mengaliri sebagian wilayah di Jakarta Utara dan Barat,” kata dia.

Dengan ada potensi kekeringan akibat kemarau panjang, PT PAM Jaya juga mengimbau agar masyarakat Jakarta tetap bijak dan hemat dalam menggunakan air bersih.

Sebelumnya, BMKG menyebut bahwa tahun ini wilayah DKI Jakarta akan mengalami kemarau ekstrem. Agustus sampai September diperkirakan sebagai puncak musim kemarau, dengan kemungkinan lebih kering dari biasanya.

Berdasarkan data monitoring hari tanpa hujan BMKG hingga 31 Juli 2019, dua wilayah di Jakarta masuk dalam kategori kekeringan ekstrem dengan HTH lebih dari 60 hari, yaitu Rorotan dan Sunter Rawabadak.

Sementara sebagian besar wilayah lainnya tergolong kategori sangat panjang, dengan rentang HTH 30 sampai 60 hari.

Pewarta: Suwanti
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BPBD Temanggung salurkan air bersih atasi kekeringan di 27 desa

Komentar