Papua Barat alami dampak badai Edi

Papua Barat alami dampak badai Edi

Angin kencang dan gelombang tinggi yang terjadi di wilayah Manokwari Papua Barat beberapa waktu lalu (Antara/Toyib)

Manokwari (ANTARA) - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Rendani Manokwari Denny Putiray menyebutkan, wilayah Provinsi Papua Barat, mengalami dampak badai Edi.

"Badai ini bisa memicu hujan, angin kencang serta tinggi gelombang air laut. Sudah sekitar satu bulan badai tersebut berada di Samudera Pasifik bergerak dari wilayah Papua Nugini sampai Papua Barat," kata Denny, Selasa.

Ia menyebutkan, badai tersebut cukup sering muncul di laut Pasifik. Dalam sebulan terakhir sudah kali badai ini berputar di wilayah Papua Barat.

Menurutnya, badai ini tidak terlalu kencang dan tidak berlangsung lama. Kecepatan angin akibat badai ini bisa berkisar antara 20 hingga 30 knots.

"Biasanya muncul antara satu sampai dua hari, nanti hilang lalu muncul lagi. Untuk nelayan harus tetap waspada karena ini memicu tinggi gelombang antara 2 sampai 3 meter," ujarnya lagi.

Denny menjelaskan, secara umum wilayah Indonesia saat ini masih berada dalam musim kemarau. Meskipun demikian, untuk Papua dan Papua Barat tidak merasakan dampak musim tersebut.

Hujan sedang hingga ringan, kata dia, masih sering terjadi di dua provinsi tersebut. Ini dinilai memberikan keuntungan baik bagi petani maupun masyarakat secara umum.

"Kecuali di Merauke, di sana hampir sama dengan wilayah Jawa. Sudah hampir tiga bulan ini mengalami kekeringan, tidak ada hujan sama sekali. Kalau daerah lain, apalagi Manokwari, di sini hujan masih cukup sering," sebutnya.

Saat ini, lanjut Putiray, posisi matahari masih berada di sebelah utara garis khatulistiwa. Tekanan udara di wilayah utara saat ini cukup rendah akibat panas air laut. Angin yang rendah tersebut ditengarai memicu kemunculan badai.

"Angin saat ini bergerak rata-rata dari arah selatan. Namun Papua Barat karena berada tepat di garis khatulistiwa maka angin tidak akan kencang sekali, kecepatan akan berkurang saat masuk di khatulistiwa," sebutnya.

Potensi kemunculan badai Edi, ujarnya, diperkirakan masih bisa terjadi hingga Oktober 2019, saat matahari sudah kembali di atas garis khatulistiwa.

"Kalau matahari sudah di khatulistiwa, siap-siap intensitas hujan akan semakin tinggi. Badai-badai yang lebih besar pun kemungkinan bisa muncul," pungkasnya.

Baca juga: Papua Barat terdampak badai Lannie Filipina

Baca juga: BMKG prediksi gelombang 3,5 meter di Papua Barat

 

Pewarta: Toyiban
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar