counter

Akibat hambatan dagang, ekspor minyak sawit hanya naik 10 persen

Akibat hambatan dagang, ekspor minyak sawit hanya naik 10 persen

 ilustrasi - pekerja mengumpulkan buah kelapa sawit untuk diangkut ke pabrikan pengolahan CPO (Crude Palm Oil) di salah satu areal perkebunan kelapa sawit (arsip2012/FOTO ANTARA/Basri Marzuki) (ANTARA FOTO)

Kenaikan volume ekspor ini seharusnya masih bisa digenjot lebih tinggi lagi...
Jakarta (ANTARA) - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) membukukan kinerja ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia dan produk turunannya seperti biodiesel dan oleochemical hanya naik 10 persen pada periode Januari-Juni 2019.

Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono menyebutkan volume ekspor CPO dan produk turunannya pada semester I 2019 naik menjadi 16,84 juta ton dari periode yang sama tahun 2018 sebesar 15,30 juta ton.

"Kenaikan volume ekspor ini seharusnya masih bisa digenjot lebih tinggi lagi, akan tetapi karena beberapa hambatan perdagangan membuat kinerja ekspor tidak maksimal," kata Mukti melalui keterangan resmi diterima di Jakarta, Selasa.

Sementara itu, volume ekspor khusus CPO dan turunannya (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) semester I 2019 hanya mampu terkerek 7,6 persen atau dari 14,16 juta ton pada Januari--Juni 2018 naik menjadi 15,24 juta ton pada 2019.

Mukti menilai kinerja ekspor minyak sawit Indonesia tidak tumbuh secara maksimal karena dinamika di pasar global, khususnya di negara tujuan utama ekspor seperti India, Uni Eropa, China, dan Amerika Serikat.

Di India, Indonesia kalah bersaing dengan Malaysia khususnya untuk refined products, di mana bea masuk dari Indonesia lebih tinggi daripada Malaysia dengan selisih 9 persen. Tarif bea refined products dari Malaysia adalah 45 persen dan dari Indonesia tarif yang berlaku 54 persen.

Uni Eropa pun sejak awal tahun telah menggaungkan kebijakan RED II ILUC dan tuduhan adanya subsidi biodiesel ke Indonesia, juga telah mempengaruhi ekspor Indonesia ke Uni Eropa. Perang dagang China dan Amerika Serikat (AS) turut berdampak pada pasar minyak nabati dunia.

Pada semester I 2019, China membukukan impor CPO dan turunannya sebesar 39 persen dari 1,82 juta ton pada 2018 melambung menjadi 2,54 juta ton pada 2019.

"Meningkatnya permintaan dari China merupakan salah satu dampak dari perang dagang dengan AS, di mana Negeri Tirai Bambu ini mengurangi pembelian kedelai secara signifikan dan menggantikan kebutuhan mereka dengan minyak sawit," kata Mukti.

Sementara itu, volume ekspor CPO ke Uni Eropa pada semester I mengalami stagnasi dengan kenaikan yang hanya mampu mencapai 0,7 persen saja atau dari 2,39 juta pada 2018 menjadi 2,41 juta pada 2019.

Di sisi lain, volume ekspor CPO ke India turun signifikan 17 persen dari 2,5 juta ton semesterI 2018 turun menjadi 2,1 juta ton periode yang sama 2019. Penurunan juga diikuti oleh Amerika Serikat 12 persen, Pakistan 10 persen, dan Bangladesh 19 persen.
 

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BPPT gelar workshop teknologi pemanfaatan minyak sawit

Komentar