PHE ONWJ lakukan proteksi berlapis sekitar anjungan

PHE ONWJ lakukan proteksi berlapis sekitar anjungan

Ilustrasi - Kegiatan bersih-bersih bibir pantai dari tumpahan minyak mentah. (Ali Khumaini)

Sterilisasi area sekitar platform YYA juga dilakukan PHE ONWJ dengan menyiagakan 45 untuk melakukan oil spill combat, patroli dan standby firefighting. Drone dikerahkan untuk memonitor formasi statik boom dan pergerakan kapal.
Jakarta (ANTARA) - Pertamina Hulu Energi  Offshore North West Java (PHE ONWJ) terus berupaya optimal menahan tumpahan minyak dengan melakukan strategi proteksi berlapis di sekitar anjungan.

Pada lapis pertama, IMT memasang static oil boom sepanjang 4300 meter, sedangkan static oil boom pada lapis kedua sepanjang 400 meter.

Pada lapis ketiga ditempatkan 4 unit penyedot minyak (skimmer) untuk mengangkat minyak di perairan, demikian informasi dari Vice President Relations Pertamina Hulu Energi, Ifki Sukarya yang diterima Antara di Jakarta, Rabu.

Sterilisasi area sekitar platform YYA juga dilakukan PHE ONWJ dengan menyiagakan 45 untuk melakukan oil spill combat, patroli dan standby firefighting. Drone dikerahkan untuk memonitor formasi statik boom dan pergerakan kapal.

Untuk mencegah kebakaran, IMT mendedikasikan dua Anchor Handling Tug Supply (AHTS) sebagai kapal penyelamatan dan tanggap darurat.

”Satu demi satu peralatan ini didatangkan ke lokasi untuk memastikan penanggulangan dilaksanakan dengan baik dan benar,” ungkap Ifki.

PHE ONWJ terus melakukan upaya penangkapan minyak dengan cara mengejar, melokalisir, serta menyedot ceceran minyak yang melewati batas sabuk oil boom di sekitar anjungan.

Baca juga: Pertamina siapkan formula kesepakatan ganti rugi tumpahan minyak

Sembilan wilayah terdampak di Karawang meliputi Tanjung Pakis, Segar Jaya, Tambak Sari, Tambak Sumur, Sedari, Cemara Jaya, Sungai Buntu, Pusaka Jaya Utara dan Mekar Pohaci. Sementara dua pantai terdampak di Bekasi yakni Pantai Bahagia dan Pantai Bakti. Tim tanggap darurat juga disiagakan di sekitar kawasan Kepulauan Seribu.

Pemerintah Kabupaten Karawang membentuk Tim Kompensasi yang terdiri dari Lintas Dinas, Muspida, Muspika dan PHE ONWJ untuk penanganan kompensasi masyarakat akibat tumpahan minyak.

Tim tersebut akan melakukan beberapa hal seperti merumuskan dan menetapkan standar nilai kompensasi sesuai hasil verifikasi.

Masyarakat terdampak akan menyampaikan pengaduan kerugian ke posko pengaduan yag didirikan di setiap desa terdampak, kemudian dilakukan inventarisasi dan verifikasi oleh tim untuk memastikan data kerugian.

Oil Spill Combact Team (OSCT) PHE ONWJ bekerja sama dengan TNI dan Polri serta lebih dari 1.000 orang telah mengumpulkan lebih dari 950 ribu karung limbah minyak di pesisir.

Pemantauan udara dan laut dalam radius 50 –100 km menggunakan helikopter Pelita Air Service. Patroli di perairan Karawang dibantu Kapal Patroli DitpolairBaharkam POLRI.

Ifki menyatakan Pertamina akan melakukan upaya maksimal sebagai wujud tanggung jawab dan kepedulian atas peristiwa di Laut Jawa tersebut.

“Seluruh pimpinan maupun keluarga besar Pertamina menyatakan prihatin atas peristiwa tersebut dan juga atas dampak yang mengikutinya,” ujar Ifki.

Pertamina juga terus berkoordinasi intensif denggan SKK Migas, Kementerian ESDM, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian LHK, TNI dan POLRI, Kemenko Maritim, Kemenko Perekonomian, Pemerintah Daerah, BNPB, Basarnas, Walhi, KKKS dan berbagai instansi lainnya.

“Kami berterima kasih pada semua pihak yang turut berpartisipasi dan mendukung penanganan sumur YYA-1,” kata Ifki.
Baca juga: Pengamat sarankan tumpahan minyak disedot untuk jaga lingkungan

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pertamina antisipasi teror dan tumpahan minyak melalui simulasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar