Image

Meski masih berada di paruh terakhir Desember 2019, sejumlah pergelaran busana dan pekan mode mulai mengeluarkan koleksi yang menjadi acuan tren 2020. Dalam Jakarta Fashion Week 2020 yang berlangsung beberapa waktu lalu busana-busana dengan potongan longgar diminati untuk menjadi acuan mode tahun depan.

Aksen longgar yang masih menjadi perhatian

Seorang desainer dalam naungan Indonesian Fashion Forward (IFF), Toton Januar, menampilkan koleksi terbaru bertajuk "Bunga Tidur" dalam pekan mode Jakarta Fashion Week 2020. Terinspirasi dari mimpi-mimpi yang dia alami, Toton menciptakan 22 looks untuk koleksi musim semi - musim panas 2020.

Baca Artikel

Aksen longgar yang masih menjadi perhatian

fashion 2020

Seorang desainer dalam naungan Indonesian Fashion Forward (IFF), Toton Januar, menampilkan koleksi terbaru bertajuk "Bunga Tidur" dalam pekan mode Jakarta Fashion Week 2020.

Terinspirasi dari mimpi-mimpi yang dia alami, Toton menciptakan 22 looks untuk koleksi musim semi - musim panas 2020.

"Inspirasinya dari dunia mimpi yang saya alami. Mimpi saya itu aneh-aneh," kata Toton di Jakarta Fashion Week 2020, beberapa waktu lalu. Berdasarkan mimpi yang surealis, koleksi Toton kali ini terbilang absurd karena membaurkan semua siluet serta motif namun tetap harmonis.

"Mimpi yang surealis ini saya coba tampilkan melalui detil-detil dalam pakaian yang saya rancang," kata Toton.

Mimpi yang indah dan romantis diwujudkan dalam warna-warni pastel pada rok tiered panjang yang terbuat dari bahan tulle, dipadukan dengan blus longgar berbahan organza atau tulle, serta detil renda atau sulam bernuansa floral yang dipercantik dengan butiran mutiara.

Kecintaan Toton pada Indonesia juga tampak dari beberapa motif floral pada rok midi, dress, serta obi, yang menyerupai motif batik buketan. Begitu pula dengan blus organza yang dirancang menyerupai kebaya encim.

fashion 2020

Sementara Perancang busana Abirani memamerkan busana rancangannya yang bergaya constructed-edgy.

"Saya menampilkan 13 busana berjudul 'Emotion' dan saya mengkombinasikan 25 jenis kain," kata perempuan yang akrab disapa Rani ini di Jakarta Fashion Week beberapa waktu lalu.

Rani merupakan salah satu lulusan terbaik Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo, mencoba menginterpretasikan waktu yang berjalan seiring dengan emosi manusia. Potongan busana asimetris yang longgar dikatakan Rani tidak hanya bisa dipakai oleh perempuan namun juga laki-laki. Beberapa potong pakaian yang dipamerkan bahkan dapat dikenakan oleh perempuan berkerudung.

Karena rancangannya ini dapat digunakan oleh laki-laki dan perempuan, maka Rani lebih banyak membuat rompi, kemeja, jaket, celana, jumpsuit dan mantel berukuran besar. Dalam karyanya ini, Rani menunjukkan keterampilannya dalam memecah pola. Kali ini setiap pola berasal dari potongan kain yang berbeda sehingga menyerupai puzzle yang disatukan dengan jahitan.

"Karena saya mengkombinasikan berbagai jenis kain dalam satu pakaian, saya kemudian mempelajari bahwa ada bahan-bahan yang memang tidak bisa disatukan menjadi satu potong pakaian," kata Rani menjelaskan kesulitan yang dia hadapi.

Rani menggunakan pita, tehnik menjahit smock, webbing, kelingan, hingga kaitan tas sebagai hiasan dalam rancangannya. Rani banyak memilih warna pastel yang lembut untuk rancangannya, sehingga tampak kontras dengan potongan asimetris yang tajam.

Tutup

Alam, inspirasi tanpa batas

Alam menjadi inspirasi yang tak pernah berbatas bagi para desainer untuk mengembangkan busana dan menjadi tren fashion setiap tahunnya. Demikian pula tren busana 2020 yang diusung dalam ajang Jakarta Fashion Week beberapa waktu lalu.

Baca Artikel

Alam, inspirasi tanpa batas

fashion 2020

Alam menjadi inspirasi yang tak pernah berbatas bagi para desainer untuk mengembangkan busana dan menjadi tren fashion setiap tahunnya. Demikian pula tren busana 2020 yang diusung dalam ajang Jakarta Fashion Week beberapa waktu lalu.

Kupu-kupu menjadi simbol keindahan dan kekuatan dalam koleksi Les Amities, kolaborasi antara Chief Creative Director Jenna & Kaia, Lira Krisnalisa dan Founder Buttonscarves, Linda Anggrea.

Buttonscarves terkenal dengan pattern watercolor sedangkan untuk Jenna & Kaia terkenal akan unique cutting-nya. Dalam kolaborasi ini, kami membuat keduanya menjadi unique pieces.

Motif kupu-kupu ditampilkan dalam 40 tampilan yang terdiri dari 12 setelan; delapan atasan, dua bawahan, dua outer dan dua dress.

Koleksi tersebut mengisahkan perjalanan mereka dalam mengembangkan bisnis modest wear dengan bumbu hubungan persahabatan yang manis. Konsep Les Amitiés yang mengangkat sisi alam dengan maskot kupu-kupu menggambarkan karakteristik dua perempuan yang sama-sama tumbuh dari bawah hingga mengembangkan brand masing-masing.

Linda mengatakan koleksi yang akan dijual dengan kisaran harga mulai dari Rp900.000 ini akan hadir mulai Desember 2019 di seluruh outlet BS Jakarta, Bandung, Surabaya, Palembang, dan Pekanbaru.

Linda merintis brand Buttonscarves karena ia awalnya merasa kesulitan menemukan scarf yang cocok sekaligus bisa merepresentasikan dirinya. Dia memutuskan untuk membuat scarf sesuai seleranya yang punya ciri khas motif bunga dan water colour. Brand ini sudah merambah ke pasar Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darusallam hingga sempat bertandang ke negara Paman Sam.

Sementara itu, Jenna & Kaia lahir di Jakarta pada 2016 sebagai label fashion modest wear untuk memberikan ragam pilihan bagi para perempuan berkerudung yang dinamis dan aktif.

Sedangan bagi aktris Bella Shofie, awan menjadi inspirasi yang mewah bagi rancangan busananya yang ditampilkan dalam JFW 2020. Ia menjadi satu dari lima lulusan terbaik Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budiahardjo.

Inspirasi dari awan didapat dari bentuk serta warna awan yang dinilai selalu berubah mengikuti pergantian waktu.

Bella kemudian mengatakan rentang palet yang dia gunakan untuk karyanya ini mengikuti warna-warni awan yang dia lihat dari pagi hingga malam. Awan yang pada umumnya digambarkan berwarna putih kebiruan atau abu-abu, kini diterjemahkan oleh Bella dengan warna-warni berani seperti oranye, gradasi ungu hingga hitam, bahkan shocking pink.

Kesan glamour dan feminin itu dituangkan Bella melalui pilihan bahan seperti organza dan sutra. Sementara kesan heboh terlihat dari aplikasi organza yang dibuat kaku, serta garis rancangan serba "ekstra", seperti outer super besar berwarna oranye hingga gaun bervolume dengan ekor panjang.

Gumpalan awan dituangkan Bella dalam rancangannya menjadi berbagai gumpalan organza yang dibentuk kaku dan dijadikan aplikasi tambahan pada gaun bervolume serta bolero. Aplikasi organza kaku tersebut berhasil menambah semarak rancangannya disamping warna berani yang dia gunakan.

Garis rancangan yang heboh tersebut menjadikan 13 look yang diciptakan Bella tampaknya akan merepotkan bila dikenakan sebagai pakaian pesta biasa, karena lebih menyerupai kostum.

Tutup

Dunia fashion juga memberikan perhatian pada kelestarian lingkungan. Beberapa rancangan yang ditampilkan dalam Jakarta Fashion Week 2020 merupakan busana yang dikembangkan dengan konsep fashion berkelanjutan. Tren busana ini tak hanya menyajikan bagaimana pemanfaatan bahan-bahan yang sudah ada sehingga tidak mengekstrak sumber alam baru, namun juga menyajikan berbagai model busana yang tren pada 2020.

Menyulap Humbang Hasundutan jadi pakaian kelas dunia

Dua orang perancang busana Indonesia berhasil mengolah kain batik celup yang diproduksi oleh pegiat kain Humbang Kriya, menjadi busana siap pakai (ready to wear) kelas dunia.

Credit foto : Storyforte

Baca Artikel

Menyulap Humbang Hasundutan jadi pakaian kelas dunia

fashion 2020

Credit foto : Storyforte

Adalah Nonita Respati, pendiri label fesyen Purana, dan desainer Windy Chandra yang berkolaborasi dengan Humbang Kriya, menciptakan busana ready to wear bertema "Laboring Love, Weaving Hope" yang tidak hanya bergaya namun juga ramah lingkungan.

Koleksi pakaian yang terdiri atas 34 tampilan dari Purana, dan 14 tampilan dari Windy Chandra. Semuanya terbuat dari empat jenis kain produksi Humbang Kriya yaitu Humbang Shibori, Humbang Batik, Tenun Songket Humbang dan Humbang EcoPrint.

Humbang Kriya binaan Rumah Kreatif Sinar Mas tersebut merangkul pengrajin kain dari Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, menggunakan bahan dasar alami seperti katun, linen dan sutra. Sedangkan pewarna kain yang digunakan berasal dari kulit biji kopi, kulit jengkol, kayu meranti sisa pembuatan mebel, kulit kayu putih, daun jati, tanaman hisik-hisik dan sanduduk.

Di antara jenis-jenis kain Humbang Kriya, kain Humbang EcoPrint merupakan salah satu kain yang menjadi pilihan utama Purana dan Windy Chandra. Kain Humbang EcoPrint lebih banyak digunakan karena memiliki keunggulan seperti warna yang lebih kuat menyala dibandingkan dengan kain yang diwarnai dengan metode alami seperti Humbang Shibori atau Humbang Batiq.

Jenis kain Humbang Kriya lainnya yang menjadi favorit kedua perancang busana itu adalah Humbang Shibori yang menggunakan metode menyerupai batik celup.

Windy yang mengangkat tema "Midnight in Manhattan", ingin menunjukkan bahwa kain tradisional juga dapat dikenakan oleh kalangan atas di kancah internasional.

Ia mengatakan dengan memilih warna seperti abu-abu, dusty purple, dusty yellow, serta dusty pink, saya membayangkan jenis kain Humbang dikenakan perempuan modern kelas atas di kota New York.

Bagi Windy, mengolah kain Humbang menjadi busana pesta adalah satu tantangan tersendiri. Pasalnya, Windy merupakan desainer gaun pengantin dan kebaya custom, yang terbiasa mengolah kain dengan panjang melebih empat meter hanya untuk satu busana. Sementara itu kain yang diproduksi oleh Humbang Kriya memiliki panjang yang tidak lebih dari 2,5 meter.

Untuk mengatasi hal tersebut Windy menggunakan kombinasi bahan-bahan polos seperti satin duchesse, tulle dan organza.

Sama seperti Windy, Nonita dari Purana juga menyiasati terbatasnya bahan Humbang Shibori dengan kombinasi kain polos seperti organza, sutra, serta katun.

Mengingat label Purana berfokus pada busana siap pakai, cara ini bisa menjadikan harga jual lebih terjangkau hingga orang berminat membeli.

Lebih lanjut Purana kembali memilih Humbang Shibori karena jenis kain ini pernah dia gunakan pada koleksi sebelumnya yang kemudian banyak diminati oleh pembeli dari Kuwait.

Windy berimajinasi bahwa kain Humbang Kriya digunakan oleh perempuan modern di Kota New York untuk berpesta. Imajinasinya itu dia tuangkan dalam 14 tampilan yang terdiri dari jumpsuit serta gaun berlengan oversized puff, jaket bomber beraksen renda, celana pipa, juga gaun midi yang dilengkapi petticoat sehingga memberikan efek mengembang kaku.

Windy juga menyajikan efek dramatis melalui oversized outer berbahan sutera yang melambai-lambai menyapu lantai ketika penggunanya berjalan.

Penggunaan lace bustier dipadu dengan kain Humbang sutera yang disulap menjadi celana palazzo memberikan kesan modern dan elegan. Windy juga menggunakan manik-manik di beberapa bagian busana rancangannya, sehingga menciptakan kesan mewah.

Kesan perempuan kelas atas dari New York ditampilkan Windy melalui sepatu bot yang terbuat dari bahan organza berhiaskan manik-manik berkilauan, yang dipadu dengan gaun midi dengan lengan puff super besar.

​​​​​​​Bila Windy membayangkan perempuan kelas atas di Kota New York, Purana justru berusaha membumi dengan mengangkat tema "Roots" yang menunjukkan bahwa semua akan kembali ke akar yaitu alam.

Sesuai dengan tema yang diangkatnya, Purana menampilkan 34 tampilan terdiri dari blazer, outerwear, aneka gaun longgar (loose dress), celana sarung (sarong pants), celana cigarette (cigarette pants), serta celana pendek. Purana banyak memakai rona warna alam seperti cokelat, hijau palem, kuning mostar (mustard) dan sedikit merah dari biji buah-buahan.

Padu padan pakaian longgar dan bertumpuk masih menjadi pilihan Purana untuk menampilkan kesan santai. Namun pemilihan kain seperti sutra dan organza menjadikan koleksi kali ini tampil elegan.

Nuansa santai dari pakaian ready to wear juga ditampilkan dengan padu padan topi floppy, sandal, kaca mata hitam, dan tas anyaman.

Beberapa busana Purana pada koleksi kali ini juga mengusung ide "hybrid outfit", yaitu satu pakaian dapat dikenakan dengan beberapa gaya berbeda.

Tutup

Ketika fashion berkelanjutan menjadi pilihan

Produk fashion berkelanjutan hadir dalam peragaan busana It’s in Your Hand Collective di Jakarta Fashion Week 2020 dan digadang akan menjadi salah satu tren mode tahun depan.

Credit foto : Danone-Aqua

Baca Artikel

Ketika fashion berkelanjutan menjadi pilihan

fashion 2020

Credit foto : Storyforte

Produk fashion berkelanjutan hadir dalam peragaan busana “It’s in Your Hand Collective” di Jakarta Fashion Week 2020 dan digadang akan menjadi salah satu tren mode tahun depan.

Alih-alih menciptakan karya dari bahan baku mentah, brand fbudi, Kana Goods, KresKros, Pijakbumi dan seniman Ika Vantiani yang berkolaborasi dengan Danone-AQUA memanfaatkan barang-barang yang sudah ada. Mereka menciptakan karya baru dari sisa-sisa kain, barang-barang lawas dari brand mereka hingga daur ulang botol plastik air minum.

Felicia Budi, Creative Director dan pemilik brand fbudi, mengolah busana yang bahannya terbuat dari kain tafetta dan polyester - hasil olahan daur ulang botol plastik yang dikumpulkan dan diolah secara parsial oleh unit daur ulang (RBU) Danone-AQUA.

Hasilnya, rok panjang warna putih dan tas yang dikenakan oleh model Kelly Tandiono di atas catwalk.

Felicia mengatakan ada tantangan dari plastik yang beda dari serat alam, (bahan daur ulang pastik) enggak senyaman serat alam.

Tak hanya itu, kain dari bahan daur ulang plastik juga bisa menyisakan partikel-partikel plastik kala dicuci. Oleh karena itu, ia mengakalinya dengan menciptakan produk yang tak harus sering-sering dicuci. Kain daur ulang itu juga ia pakai untuk bahan bolero biru yang menghiasi penampilan Kelly.

Tak seperti peragaan busana pada umumnya, acara kali ini dibuka dengan pertunjukan musikal oleh komunitas seni pertunjukan Jakarta Movement of Inspiration (JKTMoveIn) yang mengusung semangat daur ulang dan bijak dalam menggunakan plastik.

Sementara itu, Label fesyen Purana mengusung gaya hibrida yang ramah lingkungan, menurut pendiri Purana, Nonita Respati, Gaya hybrid outfit ini artinya satu item pakaian dapat dikenakan menjadi dua, bahkan tiga bentuk pakaian.

Nonita kemudian mencontohkan celana jodhpur lilit bila diikat lebih tinggi hingga menutup dada, dapat berubah bentuk menjadi jumpsuit yang trendi. Sementara dress kemben lilit juga dapat dipakai dengan cara yang berbeda sehingga berubah menjadi oversized outer.

Gaya berpakaian hibrida ini dikatakan Nonita untuk menjawab kebutuhan perempuan modern yang mencari kepraktisan dalam berpergian.

Ia mengatakan model ini menjawab kebutuhan perempuan saat ini yang suka travelling dan tidak perlu membawa banyak pakaian, tapi bisa berganti gaya. Dari satu item bisa menjadi beberapa look tanpa membawa banyak pakaian.

Label fesyen Purana dikatakan Nonita memiliki visi dan misi ingin menciptakan busana yang tidak hanya stylish, namun juga ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Oleh sebab itu Purana kembali berkolaborasi dengan perajin kain Humbang Kriya, yang merupakan binaan Rumah Kreatif Sinar Mas di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara.

Humbang Kriya merangkul perajin kain Kabupaten Humbang Hasundutan yang menerapkan konsep eco fashion, di mana warna yang digunakan berbahan dasar alami, seperti katun, linen dan sutera. Sementara untuk pewarna kain menggunakan kulit biji kopi, kulit jengkol, kayu meranti sisa pembuatan mebel, kulit kayu putih, daun jati, tanaman hisik-hisik dan sanduduk.

Nonita melakukan ini karena berkeinginan bergerak ke fashion sustainable untuk mengurangi karbon footprint.

Tutup

Merapal mantra lingkungan hidup lewat fashion

Konsep lingkungan diadopsi dalam sejumlah rancangan busana yang diperkenalkan untuk musim panas 2020, salah satunya adalah Sejauh Mata Memandang (SMM) yang meluncurkan koleksi mode, dalam 24 tampilan dengan mengangkat tema "Daur" pada JFW 2020.

Baca Artikel

Merapal mantra lingkungan hidup lewat fashion

fashion 2020

Konsep lingkungan diadopsi dalam sejumlah rancangan busana yang diperkenalkan untuk musim panas 2020, salah satunya adalah Sejauh Mata Memandang (SMM) yang meluncurkan koleksi mode, dalam 24 tampilan dengan mengangkat tema "Daur" pada JFW 2020.

Inspirasi dari koleksi "Daur" masih berkesinambungan dengan tema-tema koleksi SMM sebelumnya yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup.

"Daur" tercipta dari keresahan SMM akan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang masih terjadi secara luas di berbagai aspek kehidupan.

Chitra Subyakto , Founder & Creative Director SMM mengatakan Daur pun memiliki tujuan yang serupa dengan menyadari bahwa isu perubahan iklim dan kerusakan lingkungan merupakan hal yang sangat penting.

Dengan tingginya pola konsumsi masyarakat termasuk untuk ritel mode, industri fesyen memiliki kontribusi terbesar terhadap polutan dan sampah di dunia. "Daur" berusaha mengkomunikasikan bahwa pelansiran koleksi mode pun dapat diciptakan lebih ramah lingkungan, dimulai dari proses kreatif hingga produksi.

Mengambil motif dari koleksi sebelumnya, tampilan busana "Daur" memanfaatkan teknik patchwork yang menggabungkan motif-motif dengan kombinasi kain.

Koleksi itu dibuat dengan memanfaatkan berbagai materi sisa hasil produksi SMM selama ini yang tetap memiliki kualitas tinggi untuk diciptakan menjadi koleksi baru.

Tak hanya itu, proses penciptaan koleksi "Daur" dilakukan dengan konsep ramah bumi, SMM menerapkan proses yang bertanggung jawab kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari perajin kain hingga pelaksana produksi.

Ada 24 total tampilan dari koleksi SMM "Daur", sebagian besar terbuat dari bahan katun dengan bias warna marun, kunyit, indigo, hitam dan putih.

Busana "Daur" dibuat lebih santai dan kasual. Koleksi rintik-nya didominasi dengan modifikasi kebaya yang menjadi luaran (outer) yang terinspirasi dari kebaya panjang Sumatera.

Selain itu, garis desain menegaskan bentuk-bentuk yang asimetris dan terinspirasi dari bentuk baju bodo. Beberapa busana diciptakan untuk menyuarakan krisis iklim seperti masker, kantong belanja, tas botol minum dan aplikasi tulisan krisis iklim, menolak punah, jeda iklim, cinta laut dan cinta bumi.

Terdapat pula logo extinction rebellion pada aksesoris seperti kantong ponsel dan tas kecil (pouch) sebagai tanda komitmen SMM untuk bersama-sama menciptakan dunia yang lebih layak ditinggali bagi generasi yang akan datang.

"Sebagai salah satu pemasok jenis produk yang paling banyak dikonsumsi, industri mode pun memiliki andil. SMM ingin mengajak baik kreator maupun konsumen untuk menjadi pihak yang lebih bertanggung jawab dalam melakukan peran masing-masing," kata Cithra.

Ia juga menegaskan bahwa sebagai merk mode lokal yang menawarkan konsep slow fashion, SMM tidak hanya memperkenalkan keunggulan kualitas desain dan nilai estetika saja.

Lebih dari itu, slow fashion adalah sebuah konsep mode yang memperkenalkan esensi trendless dan timeless sehingga koleksi dapat berumur lebih panjang di tangan konsumen. Di samping itu, koleksi slow fashion juga diciptakan dalam kurun waktu yang lebih panjang karena kehati-hatiannya dalam proses produksi yang ramah lingkungan dan jumlah yang terbatas.

Tutup

Pernik

Model busana 2020 tak lepas dari detail kecil sebagai pelengkap gaya busana sehingga memberikan aksen bagi penggunanya.

Galeri

Credit

PENGARAH
Akhmad Munir, Budi Setiawanto, Saptono, Teguh Priyanto

PRODUSER EKSEKUTIF
Sapto HP

PRODUSER
Panca Hari Prabowo

PENULIS
Maria Rosari Dwi Putri, Nanien Yuniar

FOTOGRAFER
Nova Wahyudi, Rivan Awal Lingga

GRAFIS dan DEVELOPER
Yudi Rinaldi