Star Wars dari kisah sederhana menjadi semesta opera luar angkasa

Bermula dari keingintahuan serta imajinasi George Lucas akan kehidupan luar angkasa, kisah Star Wars kini telah menjelma menjadi semesta opera luar angkasa. Deretan sekuelnya tidak hanya sukses menjaring penonton, namun juga menjadi tolak ukur bagi film-film bertema sama setelahnya.

Baca selenkapnya

Star Wars dari kisah sederhana menjadi semesta opera luar angkasa

Oleh: Hana Dewi Kinarina Kaban
Star Wars dari kisah sederhana menjadi semesta opera luar angkasa

Bermula dari keingintahuan serta imajinasi George Lucas akan kehidupan luar angkasa, kisah Star Wars kini telah menjelma menjadi semesta opera luar angkasa. Deretan sekuelnya tidak hanya sukses menjaring penonton, namun juga menjadi tolak ukur bagi film-film bertema sama setelahnya.

Awal ketika Lucas belum mulai menulis draf yang pertama, film-film besutan Holywood dengan genre fiksi ilmiah telah cukup banyak. Hanya saja, film-film tersebut lebih banyak bertema distopia dengan alur kisah yang gelap. Kebanyakan dari film tersebut tidak jauh dari kisah alien yang menjajah manusia di bumi atau para robot dan mesin yang beralih menjadi tuan bagi manusia penciptanya..

Dalam hemat Lucas, film-film tersebut kurang begitu menarik bahkan cenderung tidak menyenangkan sebagai tontonan anak-anak remaja. Keadaan tersebut akhirnya membulatkan tekadnya untuk menghadirkan satu film bergenre fiksi ilmiah yang menarik dan menghibur bagi semua kalangan, terkhusus anak muda.

“Alasanku membuat Star Wars karena ingin memberikan anak-anak muda semacam lingkungan eksotis yang jauh untuk jadi imajinasi mereka. Saya punya ketertarikan kuat pada kisah eksplorasi ruang angkasa. Lantas, saya ingin mereka juga mendapat ketertarikan yang sama,” kata Lucas dalam salah satu wawancara, seperti dikutip dari laman Biography.

Selain berlatar tempat luar angkasa, Lucas juga ingin film tersebut menawarkan jalan cerita baru yang lebih imajinatif dan menantang, tidak hanya mengulang formula cerita yang telah ada. Kolonisasi terhadap planet Mars dan Venus yang kala itu memenuhi imajinasi Lucas lantas menjadi ide awal dari penulisan naskah Star Wars.

Star Wars dari kisah sederhana menjadi semesta opera luar angkasa

Dalam perjalanannya, eksekusi ide sederhana tersebut menjadi sebuah naskah film utuh tidak semudah yang dibayangkan oleh Lucas. Ada banyak hal yang harus diciptakan dan dipikirkan dengan cermat dari realitas semesta yang dibuatnya sendiri, termasuk berbagai efek, baik suara, cahaya, maupun gerak yang sesuai dan mendukung. Di samping itu, anggaran film yang terbatas juga menjadi hal lain yang masuk dalam pertimbangan Lucas ketika merevisi draf awal.

Naskah keempat yang selesai pada 1 Januari 1976 menjadi naskah final yang mulai difilmkan sebagai sekuel pertama “A New Hope” sejak tanggal 25 Maret 1976.

Karena itu, tidak mengherankan bila “Star Wars Saga” menjadi fenomena budaya sekaligus referensi teranyar dan paling popular hingga kini, khususnya bagi dunia perfilman dengan genre fiksi ilmiah dan eksplorasi ruang angkasa sebagai ide utama. Lewat “A New Hope”, Lucas menawarkan ide cerita sederhana dengan detail film mengagumkan seputar imajinasi kehidupan di ruang angkasa yang belum pernah ada di film manapun pada waktu itu.

“Dan satu-satunya cara untuk mewudjukan film yang seperti itu tentu saja dengan memiliki beberapa anak bodoh yang berfantasi tentang hal tersebut — seorang anak laki-laki yang mengambil pistol sinarnya, melompat masuk ke kapalnya dan kabur dengan wookie ini ke luar angkasa. Hanya itu satu-satunya jalan," kata Lucas.

Tutup
SW

Semesta Star Wars tidak akan lengkap tanpa kehadiran kapal ruang angkasa yang menakjubkan. Berikut dua kapal yang menjadi ‘kekuatan’ dalam film waralaba dunia ini.

SW
SW
DATA DAN FOTO: STARWARS.FANDOM | RISET: TIM | GRAFIS: NOROPUJADI | EDITOR: PANCA

Pengaruh Star Wars dari gaya hidup hingga politik

George Lucas mungkin tidak pernah membayangkan sebelas sekuel hasil karyanya berpengaruh luar biasa bagi dunia, lebih dari sekedar tontonan yang menghibur. Hingga kini, kekuatan The Force masih melesat jauh, dari Tattoin ke kamar pribadi hingga ikut masuk ke panggung politik.

Baca selenkapnya

Pengaruh Star Wars dari gaya hidup hingga politik

Oleh: Hana Dewi Kinarina Kaban
Pengaruh Star Wars dari gaya hidup hingga politik

George Lucas mungkin tidak pernah membayangkan sebelas sekuel hasil karyanya berpengaruh luar biasa bagi dunia, lebih dari sekedar tontonan yang menghibur. Hingga kini, kekuatan The Force masih melesat jauh, dari Tattoin ke kamar pribadi hingga ikut masuk ke panggung politik.

Ketika sekuel pertama “A New Hope” tayang di tahun 1977, jumlah penonton bioskop seketika melonjak drastis. Seluruh belahan dunia mendadak ramai membicarakan film ini. Anak-anak hingga orang tua tidak berhenti menceritakan ulang kisah perjalanan Luke Skywalker, Han Solo, dan Obi-wan.

Semua orang seolah sepakat kehadiran episode keempat dari “Star Wars Saga” tersebut merupakan titik balik yang bukan hanya memengaruhi industri perfilman Hollywood, namun juga banyak sisi kehidupan manusia.

Tumbuh dan menjamurnya komunitas penggemar (fans community) menjadi pengaruh paling fenomenal selepas debut film waralaba ini. Tidak pernah ada yang menduga demam Star Wars mampu menyerang siapa saja dari berbagai kalangan dan profesi, tanpa terkecuali.

Loyalitas terhadap komunitas penggemar menjadi sebuah kebanggaan sekaligus pencapaian diri yang salah satunya dibuktikan lewat koleksi berbagai figur aksi (action figures) maupun pernak-pernik lainnya.

Figur aksi yang semula hanya dianggap mainan masa kecil, sejak hari itu bermakna tinggi dan dihargai mahal luar biasa. Beramai-ramai orang dewasa memburu pernak-pernik Star Wars yang dianggap asli dan resmi, mulai dari tokoh utama hingga tokoh pembantu yang minim peran.

Mengoleksi seluruh pernak-pernik dari film waralaba tersebut tidak lagi menjadi hobi di waktu senggang, melainkan bentuk lain dari kebutuhan yang harus dipenuhi. Dari hiburan, Star Wars telah menjelma menjadi pilihan gaya hidup baru bagi para penggemarnya.

Di waktu yang lain, Star Wars juga pernah memancing kemarahan pembuatnya George Lucas, hingga ia mengajukan gugatan atas pelanggaran merek dagang, praktik perdagangan yang tidak sehat, serta pencemaran nama baik kepada Pengadilan Distrik Amerika Serikat.

Sebabnya adalah para politikus yang menjadi lawan Presiden Ronald Reagan waktu itu menggunakan istilah “Star Wars” untuk menggambarkan betapa mustahil dan semborono program Strategic Defense Initiative (SDI) yang ia inisiasi.

Star Wars adalah sebuah film, bukan bagian dari sebuah sistem nuklir, dan siapapun yang menyebutkannya dengan maksud berbeda, tanpa permisi, sebaiknya hati-hati,” amuk George Lucas, mengutip dari Washington Post.

Tidak hanya itu, pada waktu pemilihan umum presiden Ukraina tahun 2014, Partai Internet Ukraina (Internet Party of Ukraine) mengusung sosok bernama Darth Vader sebagai calon presiden, seperti dikutip dari Interfax-Ukraine. Partai ini juga mengusung karakter Star Wars Saga lainnya untuk mengisi kursi-kursi parlemen, yakni Chewbacca, Padme Amidala, dan Yoda.

Meskipun dapat dipastikan pencalonan mereka ditolak karena dokumen yang diajukan tidak bisa diverifikasi, kemunculan tokoh-tokoh Star Wars di panggung politik Ukraina tersebut telah mengundang mata dunia.

Tutup

Komunitas penggemar Star Wars

Meski sekuelnya telah berakhir sejak 2019 silam, kesuksesan waralaba Star Wars nyatanya belum berakhir. Terbukti, komunitas penggemar opera luar angkasa ini kian berkembang dan bertambah banyak di berbagai negara.

Baca Artikel

Komunitas penggemar Star Wars

Oleh: Hana Dewi Kinarina Kaban
Komunitas penggemar Star Wars

Meski sekuelnya telah berakhir sejak 2019 silam, kesuksesan waralaba Star Wars nyatanya belum berakhir. Terbukti, komunitas penggemar opera luar angkasa ini kian berkembang dan bertambah banyak di berbagai negara.

Seperti halnya di Indonesia, demam Star Wars juga sukses melahirkan berbagai komunitas penggemar dengan jumlah pengikut dan loyalitas yang tidak main-main. Musim pandemi seakan tidak menghambat para Troopers, sebutan bagi para fanatik Star Wars Saga untuk tetap menyalurkan kecintaan mereka pada hasil karya George Lucas tersebut.

Salah satunya terlihat lewat komunitas Order 66 The Star Wars Indonesia Troopers Homebase atau disingkat Order 66 SITH. Komunitas besutan Riza Satyagraha dan kawan-kawan di tahun 2008 ini menjadi komunitas paling dikenal sekaligus tertua di Indonesia.

Sejak awal berdiri hingga hari ini, Order 66 SITH telah melakukan banyak kegiatan rutin, seperti diskusi film, nonton bersama, pameran koleksi dan pernak-pernik, hingga kegiatan amal. Pada bulan Mei lalu, komunitas ini menyelenggarakan diskusi film secara live streaming, berkolaborasi dengan @America untuk kembali merayakan “Star Wars Day” di tengah pandemi.

Mengutip dari media, komunitas ini telah memiliki lebih dari seribu anggota aktif. Karena itu, tidak mengherankan bila Order 66 SITH mendapat pengakuan resmi dari LucasFilm.Ltd.

Tidak hanya itu, ada 501st Legion Garuda Garrison Indonesia yang merupakan komunitas untuk para penggemar tokoh-tokoh antagonis, seperti Imperial Stormtrooper, Imperial officer, Clone Troopers, atau sejenis yang lain. Menurut situs resminya, komunitas yang menginduk pada International 501st Legion ini baru dibuat oleh Arief Sundjaja pada 25 Agustus 2011, dengan total anggota aktif kini sebanyak 39 orang.

Mengambil slogan “Bad Guys Doing Good”, komunitas 501st Legion Garuda Garrison Indonesia lebih sering melakukan kegiatan amal maupun sosial sembari mengenakan seragam khas tokoh pilihan masing-masing. Misalnya pada peringatan Hari Pendidikan Nasional kemarin, komunitas ini menggalang donasi bersama Yappika Action ID untuk menyiapkan sanitasi layak bagi sekolah-sekolah kurang mampu.

Komunitas penggemar Star Wars

Khusus di Jakarta, ada pula Komunitas Lightsaber Jakarta atau Jaksaber bagi para penggemar tokoh Jedi dengan aksi pedang lasernya. Ari Soulisa adalah sosok dibalik berdirinya komunitas ini di tahun 2012. Sebelum ada pandemi, komunitas Jaksaber rutin berlatih dan beradu lightsaber layaknya Jedi Master melawan Darth Maul di salah satu sudut Taman Menteng setiap Kamis malam.

Meski terbilang komunitas penggemar Star Wars Saga yang paling baru serta beranggotakan paling sedikit, yakni hanya sepuluh orang, para pengikut komunitas ini sangat loyal. Mereka tidak hanya memiliki lightsaber masing-masing, namun juga tetap terhubung serta rutin berlatih mengayunkan pedang laser tersebut lewat pertemuan daring. Sekedar informasi, harga satu lightsaber bisa mencapai jutaan rupiah.

Berkaca dari aktivitas ketiganya yang seperti tidak terpengaruh situasi pandemi jelas menyiratkan betapa rentetan sekuel Star Wars bukanlah sekadar tontonan penghibur di akhir pekan yang bisa dengan mudah dilupakan atau bahkan dilewatkan.

Saga buatan George Lucas tersebut benar-benar telah mengambil tempat khusus di hati banyak penonton. Barisan percakapan dan aksi dalam karya-karya Lucas tidak ubahnya pedoman hidup bagi para Troopers hingga tidak cukup rasanya bila hanya dihafal. Karena itu, mengikutsertakan diri pada berbagai komunitas penggemar seolah menjadi jawaban untuk menghadirkan spirit baik yang ditawarkan Star Wars Saga dalam kehidupan sehari-hari.

Tutup