Antara Interaktif

Proklamasi kemerdekaan tak seperti buah yang jatuh dari pohon, untuk mencapainya harus menempuh perjalanan panjang penuh onak dan duri. Dari perjalanan itu maka kita bisa menegakkan kepala saat mencapai kemerdekaan, karena memperolehnya bukan secara cuma-cuma.

Image

Saat Jepang terdesak oleh Sekutu dalam perang Pasifik, janji untuk memberikan kemerdekan bagi bangsa Indonesia mulai diucapkan. Para pendiri bangsa saat itu antara lain Soekarno, Hatta, dan Radjiman mendengarkan langsung janji tersebut. Janji yang tak pernah ditunaikan, karena bangsa Indonesia merebut kemerdekaan itu.

Hadiah kemerdekaan dari Jepang yang tak pernah terjadi

Itu bukan kali pertama Jepang "merayu" rakyat Indonesia. Dikutip dari buku "Nasionalisme dan Revolusi Indonesia" oleh George McTunan Kahin, Jepang sebelumnya telah membebaskan tokoh-tokoh nasional untuk merebut hati, seperti Soekarno dari tempat pengasingannya di Bengkulu pada 1942.

Baca Artikel

Indonesia merdeka sebelum jagung berbunga

Pada 16 Agustus 1945 ketika Soekarno-Hatta dibawa kelompok pemuda, tentu jalan tol itu belum ada, namun, waktu tempuh saat itu tidak berbeda jauh dengan saat ini sekitar dua jam.

Baca Artikel

Hadiah kemerdekaan dari Jepang yang tak pernah terjadi

Oleh Prisca Triferna
Hadiah kemerdekaan dari Jepang yang tak pernah terjadi

Setiap pelajar Indonesia ketika menghadapi mata pelajaran sejarah pasti pernah mendengar tentang Dokuritsu Junbi Chosakai atau yang dikenal sebagai Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), sebuah lembaga yang dibentuk oleh pemerintah militer Jepang untuk membantu persiapan kemerdekaan Indonesia.

BPUPKI resmi dibentuk pada 29 April 1945 setelah sebelumnya Perdana Menteri Jepang Kuniaki Koiso pada 7 September 1944 mengumumkan bahwa Indonesia akan dimerdekakan meski tidak menyebutkan kapan pastinya hal itu akan terjadi, langkah strategis yang diambilnya setelah sadar Jepang akan kalah melawan perang Sekutu.

Itu bukan kali pertama Jepang "merayu" rakyat Indonesia. Dikutip dari buku "Nasionalisme dan Revolusi Indonesia" oleh George McTunan Kahin, Jepang sebelumnya telah membebaskan tokoh-tokoh nasional untuk merebut hati, seperti Soekarno dari tempat pengasingannya di Bengkulu pada 1942.

Untuk mendapat dukungan Soekarno, Hatta dan beeberapa pemimpin nasionalis berpengaruh untuk upaya perang mereka, Jepang berjanji akan memberikan mandat pemerintahan dalam waktu dekat dan mengizinkan pendirian Poesat Tenaga Rakjat (Poetera) pada 1943, tulis Goerge Kahin dalam bukunya yang terbit pada 1952 itu.

Empat tokoh nasional terkenal memimpin organisasi itu yang dikenal sebagai Empat Serangkai yaitu Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan K.H. Mas Mansyur.

Untuk Jepang pembentukan Poetera adalah untuk mendapatkand dukungan masyarakat Indonesia, sementara untuk para toko nasional itu adalah jalan untuk menyebarkan dan dan mengintensifkan ide nasionalis di antara khalayak.

Kahin menulis salah satu hasil jangka panjang dari aktivitas Poetera adalah meningkatnya kesadaran politik dari masyarakat Indonesia, dan pada khususnya untuk kemerdekaan. Aktivitas di Poetera tidak hanya mengizinkan tapi juga mendorong kontak antara para tokoh-tokoh nasional dan masyarakat yang sebelumnya sangat dibatasi saat kependudukan Belanda.

Pada akhir 1943, pemerintah Jepang menyadari Poetera lebih memiliki peran untuk gerakan nasionalis Indonesia dibadningkan upaya perang Jepang. Di bawah perintah militer Jepang akhirnya membubarkan Poetera, digantikan oleh Himpunan Kebaktian Rakjat Djawa (Jawa Hokokai).

Organisasi baru itu berada di bawah kontrol Gunseikan, kepala pemerintahan militer Jepang.

Selain itu, Jepang kemudian mendidikan Angkatan Muda, sebuah organisasi pemuda terdidik. Banyak tokoh yang dikenal atau dicurigai Jepang sebagai aktivis yang aktif di organisasi bawah tanah kemudian dipilih untuk bertanggung jawab dalam kepemimpinan organisasi itu.

Cara itu dilakukan untuk membuat mereka berada dalam sorotan yang mempermudah Jepang untuk mengawasi dan mengontrol pergerakan mereka. Tidak hanya itu, Jepang juga memiliki mata-mata yang merupakan orang Indonesia di dalam organisasi tersebut.

Beberapa tokoh pemuda yang masuk kepemimpinan Angkatan Muda itu seperti Sukarni dan Chairul Saleh, yang nantinya terlibat dalam penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok jelang Proklamasi Kemerdekaan pada 1945.

Janji Kemerdekaan

Perdana Menteri Jepang Kuniaku Koiso pada 7 September 1944 dalam sidang istimewa Teikoku Henkai ke-85 di Tokyo menyampaikan apa yang akhirnya dikenal sebagai Janji Koiso.

Dalam pernyataannya dia berjanji bahwa Kekaisaran Jepang akan memberikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, tanpa spesifik menyebutkan kapan waktunya.

Pada 7 Agustus 1945, izin dikeluarkan oleh Marsekal Hisaichi Terauchi di Vietnam untuk pendirian Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Junbi Iinkai untuk meneruskan kerja BPUPKI. Hasil itu didapat setelah Terauchi, panglima besar tentara Jepang di Asia Tenggara, bertemu dengan Soekarno, Hatta dan Radjiman Wedioningrat di Dalat.

Pembentukan PPKI terjadi sehari setelah pasukan Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat menjatuhkan bom atom "Little Boy" di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, yang kemudian akan disusul oleh bom atom kedua "Fat Man" di Nagasaki pada 9 Agustus 1945.

Dalam rangkaian pertemuan dengan para tokoh nasional itu, Terauchi mengatakan Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia pada 24 Agustus 1945.

Namun, tulis Kahin, setibanya di Indonesia para tokoh itu menemukan gerakan yang menolak kemerdekaan Indonesia yang merupakan "hadiah" dari Jepang. Setelah mendengar rumor Jepang akan segera menyerah kepada Sekutu, para pemuda mendorong Soekarno dan Hatta untuk segeram memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Kehilangan kesebaran karena kedua tokoh itu kemudian dibawa oleh para pemuda ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, sehari setelah Kaisar Jepang Hirohito mengumumkan menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945.

Tutup

Indonesia merdeka sebelum jagung berbunga

Oleh Dewanto Samudro
Indonesia merdeka sebelum jagung berbunga

Jalan Tugu Proklamasi, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menuju rumah bersejarah Rengasdengklok cukup lengang.

Rumah itu merupakan tempat Proklamator Soekarno dan Mohammad hatta beristirahat saat dibawa para pemuda sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Pemandangan cukup bervariasi. Sesekali terlihat persawahan di kiri-kanan jalan, tetapi lebih banyak rumah penduduk yang terlihat. Semakin dekat dengan lokasi, juga terlihat Markas Koramil 0404/Rengasdengklok dan beberapa sekolah.

Terbayang di pikiran, apakah mungkin itu jalan yang sama yang dilalui Soekarno-Hatta saat dulu dibawa para pemuda ke markas Pembela Tanah Air (PETA) di Rengasdengklok. Saat itu, kondisi jalan tentu belum sebagus saat ini. Kiri-kanan jalan pun tentu masih banyak berupa hutan.

Rengasdengklok bisa dicapai dari Jakarta melalui Jalan Tol Jakarta-Cikampek, keluar di Gerbang Tol Karawang Barat, dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Dari Gerbang Tol Karawang Barat, Rengsdengklok hanya berjarak sekitar 25 kilometer.

Pada 16 Agustus 1945 ketika Soekarno-Hatta dibawa kelompok pemuda, tentu jalan tol itu belum ada, namun, waktu tempuh saat itu tidak berbeda jauh dengan saat ini sekitar dua jam.

Bertemu Terauchi

Pada 9 Agustus 1945, Soekarno,Hatta dan Radjiman berangkat ke Dalat, Vietnam untuk bertemu Panglima Tentara Jepang di Asia Tenggara Marsekal Hisaichi Terauchi. Dalam pertemuan tersebut, Terauchi menyatakan pemerintah Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Untuk melaksanakan pernyataan kemerdekaan Indonesia, Terauchi menyerahkan kepada Soekarno-Hatta sebagai ketua dan wakil ketua PPKI.

Pertemuan tersebut sebenarnya merupakan strategi Terauchi dalam menutupi kondisi Jepang yang kian terdesak. Sebagai pemimpin militer tertinggi Jepang di Asia Tenggara, Terauchi sendiri sempat terserang stroke saat mendengar Burma lepas dari kekuasaan Jepang pada 10 Mei 1945.

Pada 26 Juli 1945, Sekutu telah mengeluarkan Deklarasi Postdam yang memberikan pilihan kepada Jepang untuk mengumumkan penyerahan tidak bersyarat kepada semua angkatan perangnya dan patuh dalam segala tindaan. Penolakan terhadap perintah berarti kehancuran total bagi Jepang.

Apalagi, Amerika Serikat yang belakangan bergabung dengan Sekutu, setelah pangkalannya di Pearl Harbour, Hawaii diserang Jepang, menjatuhkan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945.

Pada 13 Agustus 1945, Soekarno, Hatta dan Radjiman meninggalkan Dalat untuk kembali ke Jakarta, tetapi sebelumnya singgah terlebih dahulu ke Singapura untuk bertemu dengan anggota PPKI dari Sumatera, yaitu Teuku Mohammad Hassan, Amir dan Abas.

Mereka berdiskusi mengenai kemerdekaan Indonesia dan perembangan terakhir Jepang dalam Perang Asia.

Menurut Sjarawan Rusdhy Hoessein, saat singgah di Singapura itu, Soekarno, Hatta dan Radjiman menyaksikan sendiri bahwa tentara Jepang masih cukup kuat dan memiliki semangat tempur.

"Hal itulah yang membuat Soekarno-Hatta berbeda pendapat dengan kelompok pemuda yang ingin segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Soekarno-Hatta khawatir memproklamasikan kemerdekaan secara gegabah akan membuat tentara Jepang bereaksi dan menimbulkan pertumpahan darah," katanya.

Pada 14 Agustus 1945, Soekarno, Hatta dan Radjiman mendarat di Bandara Kemayoran, Jakarta. Pada saat itu Soekarno menyampaikan pidato bahwa kemerdekaan Indonesia akan segera terlaksana.

"Bung Karno menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak perlu menunggu jagung berbuah karena akan terlaksana sebelum jagung berbunga," kata Rusdhy.

Pada hari yang sama, Kaisar Hirohito pada akhirnya terpaksa mengumumkan kekalahan Jepang. Dia memerintahkan seluruh tentara Jepang untuk menyerah tanpa syarat kepada tentara Sekutu. Namun berita tersebut ditutup-tutupi oleh tentara Jepang yang ada di Indonesia.

Hanya sedikit orang yang mendengar berita itu melalui siaran radio luar negeri yang ditangkap secara diam-diam. Salah satunya adalah Sutan Syahrir. Dia segera menemui Hatta untuk menyampaikan berita tersebut.

Hatta kaget mendengar berita itu. Dia sendiri berpendapat dengan kekalahan Jepang, maka kemerdekaan hanya dapat terjadi dengan tangan bangsa Indonesia sendiri. Namun, penyelenggaranya harus melalui PPKI.

Syahrir tidak sependapat dengan Hatta. Menurut Syahrir, apabila melalui PPKI, maka Sekutu akan menganggap kemerdekaan Indonesia buatan Jepang. Karena itu, dia mendesak Soekarno-Hatta untuk segera mengumumkan kemerdekaan melalui radio.

"Bung Hatta sependapat bahwa proklamasi harus segera dilakukan. Namun dia ingat di Singapura melihat tentara Jepang masih cukup kuat. Akhirnya mereka menuju rumah Bung Karno," tutur Rusdhy.

Di rumah Soekarno, Hatta dan Syahrir menyampaikan berita kekalahan Jepang. Syahrir juga menyampaikan desakan agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Namun Soekarno menyatakan dia tidak bisa berdiri sendiri. Kemerdekaan Indonesia adalah hak dan tugas PPKI, dimana dia bertindak sebagai ketua. Dia tidak ingin dianggap melangkahi PPKI.

Pada 15 Agustus 1945, Soekarno, hatta dan Ahmad berusaha menghubungi pejabat-pejabat Jepang untuk menanyakan ketegasan berita tentang penyerahan Jepang kepada Sekutu. Namun, sejumlah pejabat yang akan ditemui ternyata sedang tidak ada di tempat.

Atas usul Soebardjo, mereka kemudian mencoba menanyakan kebenaran berita itu kepada Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang.

Kepala Soekarno, Hatta dan Soebardjo, Maeda mengatakan bahwa berita kekalahan Jepang yang disiarkan radio itu berasal dari Sekutu. Namun dia sendiri mengatakan belum menerima berita dari Tokyo.

Setelah mendapat penjelasan dari Maeda, Soekarno, Hatta dan Soebardjo kemudian berinsiatif untuk mengadakan rapat dengan seluruh anggota PPKI yang sudan lengkap dan menginap di Hotel Des Indes. Seluruh anggota PPKI diminta untuk hadir ke Kantor Sanyo Kaigi di Pejambon keesokan harinya pukul 10.00.

Pergerakan Pemuda

Pada saat yang sama, Sutan Syahrir dengan kelompok pemuda menyebarkan selebaran anti Jepang dan mengorganisasi para pemuda pelajar di berbagai kota di Jawa untuk bersiap-siap mengambil alih kekuasaan.

Sore hari 15 Agustus 1945, golongan pemuda menjemput anggota PPKI yang menginap di Hotel Des Indes. Mereka dibawa ke salah satu markas pemuda di Jalan Prapatan 10.

Di tempat itu, para anggota PPKI dipaksa mendengarkan pidato Syahrir yang menyatakan kemerdekaan harus dibentuk sendiri oleh bangsa Indonesia. Para anggota PPKI ditahan sampai akhirnya dikembalikan ke Hotel Des Indes pada malam hari.

Di tempat lain, Gedung Laboratorium Bakteriologi Jalan Pengangsaan Timur 16, kelompok pemuda revolusioner mengadakan rapat sekitar pukul 20.00 yang memutuskan proklamasi kemerdekaan harus dilakukan bangsa Indonesia sendiri tanpa campur tangan bangsa asing.

Kelompok pemuda itu kemudian menugaskan Wikana dan Darwis menemui Soekarno-Hatta. Mereka kemudian pergi ke rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 dan ditemui Soekarno sekitar pukul 22.00.

Kepada Soekarno, mereka menyampaikan keputusan rapat pemuda revolusioner. Soekarno mengatakan kemerdekaan Indonesia akan tercapai, hanya tinggal menunggu waktu. Tak lama kemudian Hatta datang bersama Soebardjo, Buntaran, Sanusi dan Iwa Kusumasumantri. Menyambung perkataan Soekarno, Hatta mengatakan bangsa Indonesia harus menunggu berita resmi terntang penyerahan Jepang.

Pada saat itulah Wikana kemudian berkata bila Bung Karno tidak mengumumkan kemerdekaan Indonesia saat itu juga, keesokan harinya akan terjadi pertempuran besar-besaran.

"Bung Karno marah dan berkata ini batang leherku. Seret aku ke pojok itu dan potong leher ini malam ini juga. Tidak usah menunggu sampai esok," tutur Rusdhy.

Menurut Rusdhy, Bung Hatta kemudian menengahi dengan mengatakan kelompok pemuda revolisioner sebaiknya mencari figur pemimpin lain untuk mengumumkan kemerdekaan Indonesia malam itu juga sebagaimana mereka inginkan.

Tutup
Image
Featured Box Image

30 Menit HUT RI - Cara jitu Presiden Soekarno muluskan prosesi proklamasi

Play Video

Peristiwa Rengasdengklok menjadi salah satu titik penting hari-hari menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Peristiwa yang mendorong bagaimana bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, atas usaha sendiri, bukan hasil dari sebuah pemberian.

Kekecewaan pemuda dan rencana menculik Soekarno-Hatta

Rengasdengklok merupakan salah satu lokasi penting dalam sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bisa dikatakan, Soekarno-Hatta akhirnya bersepakat dengan kelompok pemuda tentang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di tempat itu.

Baca Artikel

Ahmad Soebardjo siap ditembak mati

"Kalau semua gagal, sayalah yang bertanggung jawab. Tembak matilah saya," seru Soebardjo.

Baca Artikel

Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta

"Tengah malam, antara 16 Agustus 1945 dan 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta tiba di rumah Maeda setelah bertemu Nishimura. Di rumah Maeda telah berkumpul banyak orang dari anggota PPKI, pemimpin-pemimpin pemuda dan pergerakan.

Baca Artikel

Kekecewaan pemuda dan rencana menculik Soekarno-Hatta

Oleh Dewanto Samudro
Kekecewaan pemuda dan rencana menculik Soekarno-Hatta

Setidaknya terdapat dua situ peringatan sejarah Rengasdengklok di Kecamatan Rengasdengklok Kabupaten Karawang, Jawa Barat yaitu Monumen Kebulatan Tekad dan Rumah Bersejarah Rengasdengklok.

Dari Kantor Camat Rengasdengklok, Monumen Kebulatan Tekad yang ada di Jalan Tugu Proklamasi hanya berjarak tidak lebih dari 1,5 kilometer. Sedangkan Rumah Bersejarah Rengasdengklok hanya berjarak tidak sampai 150 meter dari Monumen Kebulatan Tekad.

Monumen Kebulatan Tekad berupa sebuah tugu putih kecil yang berdiri di atas undakan yang terdiri dari lima trap berwarna kemerahan. Tubuh tugu berbentuk limas segi empat denganbagian muka terdapat gambar peta Kepulauan Indonesia dan tulisan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Di atas tubuh tugu terdapat bola berwarna putih bertuliskan "17.AUG.1945" yang merupakan tanggal proklamasi kemerdekaan dengan puncak sebuah tangan kiri mengepal berwarna keemasan.

"Monumen itu didirikan di lokasi markas Pembela Tanah Air (PETA) di Rengasdengklok. Sekarang markasnya sudah tidak ada lagi," kata Lanny Yanto Djoewari, ahli waris pemilik Rumah Bersejarah Rengasdengklok dalam sebuah kesempatan wawancara beberapa waktu yang lalu.

Lanny mengatakan tugu yang ada pada Monumen Kebulatan Tekad merupakan perlambang bahwa Soekarno dan Mohammad Hatta dengan kelompok pemuda sudah memiliki kebulatan tekad yang sama tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Rengasdengklok merupakan salah satu lokasi penting dalam sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bisa dikatakan, Soekarno-Hatta akhirnya bersepakat dengan kelompok pemuda tentang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di tempat itu.

Pikiran di kepala pun mencoba membayangkan situasi di Jakarta pada malam 15 Agustus 1945. Setelah "bertengkar" dengan Soekarno-Hatta di rumah Soekarno, Wikana dan Darwis kemudian menuju Jalan Cikini 71, salah satu markas kelompok pemuda.

Sejarawan Rusdhi Hoesein menuturkan, kelompok pemuda kemudian mengadakan rapat di Jalan Menteng 31 yang tempatnya lebih luas. Rapat juga diikuti oleh kelompok Soekarni dan PETA.

Rapat itu membicarakan perbedaan pendapat dengan Soekarno-Hatta. Menurut Rusdhy, kelompok pemuda menganggap posisi Soekarno-Hatta sangat mudah dipengaruhi dan terpengaruh Jepang.

"Salah satu pemuda, yaitu Johar Noor, kemudian mengusulkan untuk menculik Soekarno-Hatta. Pemuda yang lain setuju. Kemudian dipilih Rengasdengklok yang menjadi salah satu markas PETA," katanya.

Sutan Syahrir yang tidak ikut rapat akhirnya mendengar rencana tersebut dari Soebadio pada tengah malam. Dia sendiri tidak setuju dengan rencana tersebut. Namun karena sudah menjadi keputusan rapat, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Rusdhy mengatakan saat itu markas PETA di Rengasdengklok dipimpin oleh Soebeno dan terdiri dari tiga pleton. Rengasdengklok dipilih karena sudah dikuasai sepenuhnya oleh PETA.

Akhirnya, 16 Agustus 1945 pagi, sekitar pukul 04.30 Soekarno-Hatta dijemput oleh kelompok pemuda dari rumahnya masing-masing. Sebagian pemuda yang sudah menjemput Hatta, kemudian bergabung dengan pemuda lainnya yang menjemput Soekarno di rumahnya.

"Bung Karno tidak melawan saat dia dan keluarganya dibawa. Bung Hatta sempat marah-marah dan menyindir para pemuda,"Mana revolusi yang akan dilakukan?," kata Rusdhy.

Agar tidak dicurigai Jepang yang berjaga-jaga di Jakarta, Soekarni-Hatta memakai seragam PETA saat dibawa. Menurut Rusdhy, itu untuk memberikan kesan bahwa mereka adalah rombongan PETA yang akan berangkat latihan.

Soekarno sekeluarga ; istrinya Fatmawati dan putranya, Guntur naik mobil yang dikemudikan Winoto Danu Asmoro. Sedangkan Hatta satu mobil dengan Soekarni dan Yusuf Kunto. Selain itu masih ada satu mobil lainyya yang berisi anggota PETA yang dipimpin Singgih yang bertugas mengawal rombongan Soekarno-Hatta.

Dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015) yang diterbitkan "Penerbit Buku Kompas", Latief Hendraningrat mengatakan Soekarno-Hatta bukan diculik, melainkan dijauhkan dari Jakarta agar tidak dipengaruhi pimpinan militer dan pemerintahan Jepang.

Menurut Latief, tentara Jepang secara "de facto" tetap berkuasa di Indonesia, atas perintah Sekutu, untuk memelihara ketertiban. Apalagi, tentara Jepang masih memiliki senjata lengkap.

Saat kejadian itu, Latief merupakan anggota PETA berpangkat "cudanco" yang berada di bawah "Jakarta-syoo Dai Ichi Daidan" pimpinan "Daidanco" Kasman Singodimedjo.

Karena semua "daidanco" harus ke Bandung untuk mengikutu sebuah pertemuan, maka Latief sebagai "cudanco" yang paling tua mengepalai "daidan" tersebut. Latief pula yang menyediakan segala keperluan untuk membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok.

Mencari Soekarno-Hatta

Menurut buku komik "Peristiwa Sekitar Proklamasi" yang diterbitkan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Ahmad Subadjo baru mengetahui Soekarno-Hatta hilang dari Jakarta setelah mendapat laporan dari sekretaris pribadinya pada pukul 08.00.

Soebardjo yang berada di Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang kemudian menelpon Markas Angkatan Laut Jepang. Dia meminta berbicara dengan Shigetada Nishijima, salah satu penerjemah bagi Laksamana Muda Tadashi Maeda untuk memberitahukan Soekarno-Hatta hilang.

Setelah itu, Soebardjo juga menemui Maeda secara pribadi di rumahnya untuk membicarakan keberadaan Soekarno-Hatta. Soebardjo khawatir Soekarno-Hatta diculik penguasa militer Jepang dan keselamatannya terancam, karena itu dia meminta bantuan Maeda.

Pada saat itu, Angkatan Laut Jepang memiliki sikap yang berbeda dengan Angkatan Darat Jepang. Angkatan Laut terlihat lebih simpati dengan usaha kemerdekaan Indonesia daripada Angkatan Darat yang lebih keras.

Maeda juga terkejut dengan Soekarno-Hatta yang dinyatakan hilang. Dia sendiri khawatir hal itu akan menyebabkan keresahan di antara orang-orang Indonesia. Maeda berjanji akan membantu mencari Soekarno-Hatta dan memerintahkan Nishijima mencari informasi.

Maeda kemudian pergi ke markas penguasa militer Jepang untuk menanyakan keberadaan Soekarno-Hatta. Ternyata mereka juga tidak tahu dimana Soekarno-Hatta.

Dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015) pada bagian "Kesaksian Shigetada Nishijima", setelah mendengar dari Soebardjo tentang Soekarno-Hatta yang hilang, Nishijima kemudian melapor kepada Maeda.

Nishijima kemudian mencari informasi keberadaan Soekarno-Hatta sesuai perintah Maeda. Dia mendatangi Wikana yang bekerja di Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang, di rumahnya untuk menanyakan apakah dia tahu keberadaan Soekarno-Hatta.

Wikana menjawab tidak tahu, namun Nishijima menangkap kegugupan dan kegelisahan Wikana, sehingga terus mendesaknya.

Akhirnya Wikana mengatakan gerakan kemerdekaan harus diperjuangkan, bukan sebagai upah yang diterima dari orang lain, meskipun harus dicapai dengan kekerasan.

Tentang Wikana sendiri, Nishijima menuturkan, dia merupakan mantan anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) yang pada masa pendudukan Belanda beberapa kali ditangkap pemerintah Hindia Belanda.

Wikana adalah salah satu tokoh pemuda yang dapat dipandang revolusioner nasionalis sehingga memiliki keberatan-keberatan terhadap orang-orang Jepang. Nishijima takut Wikana dan kelompoknya akan melakukan pemberontakan karena dia mengisyaratkan mereka berniat menduduki pemancar radio dan menyiarkan ke seluruh dunia bahwa Indonesia telah merdeka.

Setelah terus didesak, Wikana akhirnya mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak bergerak sendiri. Setelah lama bercakap-cakapm Wikana berjanji akan bertanya terlebih dahulu kepada kawan-kawannya.

Mereka kemudian berpisah. Setelah mendapat kabar dari Wikana, Nishijima kembali menemuinya. Wikana menyatakan dia dan kelompoknya memutuskan tidak akan berbicara dengan para militer Jepang karena mereka selalu berbohong.

Namun, Wikana menyatakan dapat mendatangkan Soekarno-Hatta asalkan keselamatan mereka dijamin Maeda.Soekarno-Hatta dapat berbicara dengan militer Jepang di bawah perlindungan Maeda.

Nishijima kemudian pergi untuk menemui Maeda. Kepada Maeda, Nishijima melaporkan hasil pembicaraannya dengan Wikana termasuk kemungkinan pemberontakan yang akan dilakukan para pemuda revolusioner yang memiliki pengaruh terhadap PETA dan Heiho yang masih menguasai senjata.

Maeda kemudian menyatakan sanggup menjamin keselamatan Soekarno-Hatta. Dia juga akan menginformasikan kemungkinan pemberontakan itu kepada staf militer sehingga pemancar radioa kemudian dijaga 300 hingga 500 tentara Jepang.

Sementara itu, dari rumah Maeda, Soebardjo menuju kantornya dan memanggil Wikana untuk menanyakan keberadaan Soekarno-Hatta. Tidak lama kemudian datang Nijishima yang menyatakan Maeda akan mendukung Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Kemudian datang Jusuf Kunto. Soebardjo kemudian membujuk dua pemuda itu untuk mengembalikan Soekarno-Hatta ke Jakarta serta memberikan jaminan bahwa kemerdekaan Indonesia akan segera terlaksana.

Akhirnya, Wikana, ketua pemuda revolisioner mau menunjukkan di mana Soekarno-Hatta berada.

Tutup

Ahmad Soebardjo siap ditembak mati

Oleh Dewanto Samudro
Indonesia merdeka sebelum jagung berbunga

Rumah Bersejarah Rengasdengklok berada sebelah timur laut dari Monumen Kebulatan Tekad, bergeser sekitar 200 meter dari lokasi awalnya.

"Bangunannya masih asli. Hanya digeser saja karena diminta pindah oleh Dinas Pengairan. Lokasi aslinya saat ini kira-kira berada di tengah-tengah Sungai Citarum," kata Lanny Yanto Djoewari, ahli waris pemilik Rumah Bersejarah Rengasdengklok.

Lanny mengatakan Rumah Bersejarah Rengasdengklok harus dipindahkan karena lokasi sebelumnya terancam banjir. Karena itu pemerintah setempat kemudian meminta pemilik rumah untuk memindahkan.

Rumah itu kemudian dibongkar pada 1957 atau 1958 dan material aslinya digunakan untuk membangun rumah dengan bentuk yang sama di lokasi saat ini.

Rumah tersebut milik Djiaw Kie Song. Pada 16 Agustus 1945, rumah tersebut digunakan para pemuda dan anggota Pembela Tanah Air (PETA) sebagai tempat beristirahat bagi Soekarno dan Mohammad Hatta.

Sebelumnya, mereka dibawa dari Jakarta menuju markas PETA di Rengasdengklok untuk dijauhkan dari pengaruh penguasa militer dan pemerintahan Jepang.

Menurut Lanny, yang merupakan cucu menantu dari Djiauw Kie Song, rumah tersebut dipilih karena cukup besar dan berada tidak jauh dari markas PETA.

Menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia, rumah tersebut ramai dikunjungi orang untuk napak tilas. Selain untuk napak tilas, rumah tersebut juga kerap dikunjungi masyarakat umum dan anak-anak sekolah.

"Pada hari-hari lain biasanya ada saja yang datang. Menjelang 17 Agustus semakin banyak yang datang," tutur Lanny.

Lanny mengatakan ada komunitas sepeda yang sudah mengagendakan napak tilas dengan cara bersepeda dari Bekasi hingga Rengasdengklok. Begitu pula dengan anak-anak sekolah yang datang berkunjung karena mendapat tugas dari gurunya.

"Ada beberapa anak sekolah yang datang berkelompok. Sepertinya mereka mendapat tugas dari gurunya supaya mengenal sejarah," tuturnya.

Puncak keramaian napak tilas biasanya terjadi pada 16 Agustus yang berlangsung hingga menjelang pagi hari. Pada 17 Agustus, rumah tersebut relatif sepi pengunjung.

"Kalau 17 Agustus kan biasanya banyak yang ikut upacara baik di kantor atau sekolahnya, maka di sini relatif sepi," katanya.

Rumah tersebut saat ini digunakan sebagai tempat tinggal ahli waris Djiauw Kie Song. Hanya bagian depan saja yang dibuka untuk umum.

Memasuki rumah tersebut dari beranda, langsung terlihat altar dengan foto Djiauw Kie Song di ruang depan. Di ruang itu juga terpasang beberapa foto, lukisan dan sejumlah piagam penghargaan.

Di sebelah kanan-kiri ruangan depan terdapat dua kamar. Lanny mengatakan ruangan di sebelah kanan saat itu disediakan untuk Soekarno dan keluarganya, sedangkan sebelah kiri untuk Hatta.

Di masing-masing kamar terdapat sebuah lemari dan dipan berkelambu dilengkapi dengan kasur dan bantal dengan sprei berwarna putih.

Memasuki kamar tersebut, terbayang Soekarno, bersama Fatmawati dan Guntur, dan Hatta sedang beristirahat setelah menempuh perjalanan dari Jakarta.

Menjemput Soekarno-Hatta

Pada 16 Agustus 1945 sore, setelah mendapatkan informasi dari Wikana; Soebardjo, Soediro Mbah dan Yusuf Kunto berangkat menuju Rengasdengklok pada pukul 16.00 untuk menjemput Soekarno-Hatta.

Menurut buku komik "Peristiwa Sekitar Proklamasi" yang diterbitkan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, sesampai di markas PETA di Rengasdengklok, Soebardjo sempat ditolak oleh para anggota PETA.

Apalagi, Soebardjo sempat mengatakan dia datang atas nama Angkatan Laut Jepang. Hampir saja Soebardjo dan Soediro Mbah ditangkap. Soebardjo kemudian mengatakan bahwa dia diutus Wikana cs untuk menjemput Soekarno-Hatta.

Dalam "Saat-Saat Penentuan Rumusan Proklamasi: Kisah Satu Malam yang Menentukan Masa Depan" dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015) yang diterbitkan "Penerbit Buku Kompas", P Swantoro menulis Komandan PETA di Rengasdengklok Soebeno sempat bertanya kepada Soebardjo.

"Apa proklamasi dapat dilakukan sebelum tengah malam nanti," tanyanya.

"Tidak mungkin," jawab Soebardjo.

Soebardjo mengatakan saat itu sudah sekitar pukul 20.00. Mereka masih harus kembali ke Jakarta, mengundang para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan mengadakan rapat.

"Bagaimana kalau jam enam besok pagi?" desak Soebeno.

"Saya akan berusaha sekuat tenaga supaya selesai jam enam pagi, tetapi sekitar tengah hari besok pasti sudah beres," kata Soebardjo.

"Kalau tidak, bagaimana?" tanya Soebeno.

"Kalau semua gagal, sayalah yang bertanggung jawab. Tembak matilah saya," seru Soebardjo.

Soebardjo menjamin rapat akan berjalan aman di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda. Sebagai atasannya di Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang, Soebardjo mengenal pribadi Maeda dan percaya dengannya.

Menurut P Swantoro, Soebardjo merupakan tokoh penting dalam mengatasi peristiwa Rengasdengklok. Soebardjo merupakan "tokoh penghubung" antara Soekarno-Hatta dari golongan tua dengan golongan muda.

Baik golongan tua maupun golongan muda sebenarnya memiliki keinginan yang sama, yaitu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Hanya, "perbedaan langgam" dalam meraih proklamasi menyebabkan hubungan kedua golongan itu meruncing.

Tokoh-tokoh dari golongan muda masih "berdarah panas" dan mudah terbakar emosi, sehingga sering kali tidak memperhitungkan akibat dari setiap tindakannya.

Sementara itu, tokoh-tokoh dari golongan tua, karena memiliki pengalaman dan kepahitan dalam perjuangan yang sudah mereka lakukan, menjadi lebih moderat dan penuh perhitungan sebelum bertindak. Mereka sendiri juga mudah terbakar hatinya saat masih muda.

Perpaduan dan kerja sama antara golongan tua dan golongan muda sangat diperlukan. Namun, kerja sama itu sering kali memerlukan peranan "tokoh penghubung" yang dapat diterima kedua belah pihak.

Dalam peristiwa Rengasdengklok, Soebardjo yang mengambil peran. Itu terbukti ketika Soekarno-Hatta akhirnya "dilepaskan" dari Rengasdengklok dan berhasil dibawa kembali ke Jakarta pada 16 Agustus 1945 malam.

Tutup

Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta

Oleh Dewanto Samudro
Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta

Bangunan bergaya arsitektur Eropa Art Deco itu didirikan sekitar 1920-an oleh arsitek Belanda JFL Blankenberg dengan luas bangunan 1.138,10 meter persegi di atas tanah seluas 3.914 meter persegi.

Pada 1930, bangunan tersebut tercatat dimiliki PT Asuransi Jiwasraya, Ketika pecah Perang Pasifik, gedung tersebut dipakai Konsul Jenderal Britania sampai Jepang menduduki Indonesia.

Gedung tersebut menjadi kediaman Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang Laksamana Muda Tadashi Maeda saat Jepang menduduki Indonesia. Di tempat itulah, naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dirumuskan.

"Saat ini, alamat kami di Jalan Imam Bonjol Nomor 1. Pada saat pendudukan Jepang, bernama Meiji Dori Nomor 1," kata Edukator Museum Perumusan Naskah Proklamasi Ari Suryanto.

Maeda tetap tinggal di gedung itu setelah kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 sampai Sekutu mendarat di Indonesia pada September 1945.

Setelah kekalahan Jepang, gedung tersebut menjadi markas tentara Inggris, hingga akhirnya menjadi milik Indonesia dalam aksi nasionalisasi terhadap milik bangsa asing di Indonesia.

Gedung itu dikontrak Kedutaan Inggris pada 1961 hingga 1981, selanjutnya diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada 1982, gedung tersebut sempat digunakan Perpustakaan Nasional sebagai perkantoran.

Karena nilai sejarahnya, pada 1984, Menteri Pendidikan Nugroho Notosusanto menginstruksikan Direktorat Permuseuman untuk merealisasikan gedung tersebut menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Instruksi itu terealisasi melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0476/1992 tertanggal 24 November 1992 yang menetapkan bangunan tersebut sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Bangunan tersebut barangkali tidak akan menjadi bagian dari sejarah Indonesia, bila tidak menjadi kediaman Maeda. Ahmad Soebardjo-lah, yang mengusulkan untuk meminjam rumah Maeda ketika bangsa Indonesia merumuskan naskah proklamasi.

"Soebardjo mengusulkan rumah Maeda karena merupakan teritori Angkatan Laut yang tidak bisa diganggu Angkatan Darat dan Polisi Jepang. Maeda mengambil risiko berkonflik dengan Angkatan Darat saat menyediakan rumahnya untuk merumuskan naskah proklamasi," tutur Ari.

Menurut Ari, Angkatan Laut Jepang memang memiliki sikap yang berbeda dengan Angkatan Darat terhadap kemerdekaan Indonesia setelah kekalahan Jepang dari Sekutu.

Angkatan Darat menyikapi kekalahan Jepang dengan menerima "status quo" yang diminta Sekutu, yang akhirnya situasi dikembalikan saat sebelum perang, yaitu Indonesia dikembalikan kepada Belanda.

Tentara Jepang adalah alat Sekutu untuk menjaga ketertiban dan tidak boleh ada perubahan situasi. Kemerdekaan Indonesia berarti terjadi perubahan situasi yang dapat menyudutkan Jepang.

Sedangkan Angkatan Laut mengambil sikap pemerintah Jepang pernah menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Bagi Angkatan Laut, janji samurai harus ditepati.

Hal itu juga diperkuat oleh pemikiran perwira-perwira Angkatan Laut yang lebih maju dibandingkan Angkatan Darat karena kebanyakan dari mereka mendapatkan pendidikan di luar negeri.

Karena itulah, pada 16 Agustus 1945 malam, setelah Soekarno dan Mohammad Hatta kembali ke Jakarta dari Rengasdengklok, Maeda menyediakan rumahnya untuk rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Sesampai di Jakarta, di rumah Hatta, Soebardjo menelepon Hotel Des Indes, tempat anggota PPKI menginap, untuk menanyakan apakah bisa disediakan ruangan untuk rapat.

"Pihak hotel menolak karena pemberlakuan jam malam," kata Ari.

Soebardjo kemudian menelepon Maeda agar dapat meminjamkan ruangan di kediamannya untuk rapat persiapan proklamasi kemerdekaan. Maeda menyatakan bersedia.

Setelah mendapatkan jawaban dari Maeda, Soebardjo kembali menelepon Hotel Des Indes untuk mengundang anggota PPKI agar segera datang ke rumah Maeda pada pukul 00.00.

Menurut buku komik "Peristiwa Sekitar Proklamasi" yang diterbitkan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Soekarni yang mengetahui rencana pertemuan di rumah Maeda kemudian menghubungi golongan pemuda yang ada di Jalan Prapatan 10 dan Jalan Cikini 71.

Dia memberitahu mereka bahwa malam itu akan diadakan rapat persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia di rumah Maeda.

Akhirnya pada pukul 22.00, Soekarno yang sudah sempat beristirahat sejenak di rumahnya, tiba di rumah Hatta. Bersama Soebardjo dan Sudiro, mereka kemudian pergi ke rumah Maeda.

Dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015) pada bagian "Kesaksian Shigetada Nishijima", Nishijima menuturkan Soekarno, Hatta dan Soebardjo tiba di rumah Maeda sekitar pukul 23.00 dengan dikawal Soekarni yang mengenakan seragam Pembela Tanah Air (PETA) lengkap dengan senjata revolver dan pedang bersama sejumlah pemuda lain.

Nishijima kemudian mempersilakan Soekarno-Hatta masuk ke ruang depan di dekat serambi depan. Soekarno-Hatta kemudian duduk, sementara para pemuda berdiri berjajar di belakang mereka.

Soebardjo sendiri berdiri di serambi depan dan bercakap-cakap dengan Nishijima. Dari Soebardjo, Nishijima tahu bahwa Soekarno-Hatta dibawa oleh kelompok pemuda ke Rengasdengklok.

Maeda kemudian turun dan menemui Soekarno-Hatta di ruangan depan. Nishijima tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi tampaknya bukan sesuatu yang penting karena cukup singkat.

Nishijima dan Soebardjo kemudian masuk dan memberitahu Maeda bahwa Soekarno-Hatta sebelumnya dibawa kelompok pemuda ke Rengasdengklok. Maeda tampak serius tetapi tenang saat mendengar kabar tersebut.

"Berjuang untuk kemerdekaan bisa saya hargai. Dan tidak saya duga dorongan di antara orang-orang Indonesia untuk itu demikian besar. Tetapi saya pasti tidak dapat menyetujui metode-metode revolusioner demikian itu," kata Maeda kepada para pemuda.

Maeda mengatakan kepergian Soekarno-Hatta dari Jakarta tanpa sepengetahuan penguasa militer Jepang merupakan kejadian serius. Seandainya mereka tidak kembali, Maeda mengatakan bisa berakibat buruk bagi keamanan dan ketertiban.

Bertemu Nishimura

Soekarno, Hatta dan Maeda dan penerjemah Shunkichiro Miyoshi kemudian berusaha menemui Kepala Pemerintahan Militer Jepang Jenderal Moichiro Yamamoto dan Direktur Urusan Umum Pemerintahan Militer Jepang Jenderal Otoshi Nishimura. Sedangkan Soebardjo diajak Soekarni bertemu Chaerul Saleh cs di Manggarai.

Yamamoto menolak menemui mereka dengan alasan telah larut malam. Nishimura bersedia menemui mereka, tetapi tetap tidak mau mengubah "status quo" Itu berarti Jepang yang telah takluk kepada Sekutu hendak mempertahankan keadaan Indonesia sebagaimana adanya.

"Kalau tadi pagi masih dapat dilangsungkan proklamasi kemerdekaan. Mulai pukul satu tadi siang, sejak kami menerima perintah atasan, kami tidak dapat mengubah status quo," kata Nishimura.

Keterangan Nishimura itu menimbulkan reaksi dan protes dari Soekarno-Hatta. Mereka menilai Jepang tidak menepati janji. Soekarno-Hatta akhirnya kembali ke rumah Maeda. Ada pun Maeda, diam-diam sudah pulang lebih dulu saat pertemuan berlangsung.

Sementara itu, anggota PPKI mulai berdatangan ke rumah Maeda. Mereka berkumpul sambil duduk menunggu.

Mereka tidak tahu apa yang ditunggu. Sebagian dari mereka diliputi kekhawatiran karena pada malam sebelumnya sempat "ditahan" para pemuda di Jalan Prapatan 10.

Tengah malam, antara 16 Agustus 1945 dan 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta tiba di rumah Maeda setelah bertemu Nishimura. Di rumah Maeda telah berkumpul banyak orang dari anggota PPKI, pemimpin-pemimpin pemuda dan pergerakan.

Di kamar depan rumah Maeda; Soekarno, Hatta, Miyoshi dan Maeda berlangsung pembicaraan serius. Para pemimpin bangsa Indonesia telah menyatakan bangsa Indonesia menolak dijadikan barang inventaris yang harus diserahkan Jepang kepada Sekutu.

Karena itu, mereka mengatakan akan menyatakan kemerdekaan saat itu juga serta menunjukkan pada bangsa lain bahwa suatu bangsa berhak menentukan nasib sendiri dengan memproklamasikan kemerdekaannya.

Maeda mendengarkan pembicaraan itu dengan baik. Dia kemudian mengundurkan diri untuk menuju kamar tidurnya di lantai atas.

Tutup
peristiwa-rengasdengklok
Featured Box Image

Ini makna peristiwa Rengasdengklok

Play Video
Image

Malam genting menjelang pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia diwarnai dengan penyusunan teks proklamasi di rumah perwira tinggi Angkatan Laut Jepang Laksamana Maeda yang bersimpati pada perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan.

Perumusan naskah proklamasi

Kalimat itu adalah "Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia". Kalimat tersebut dipetik dari bagian terakhir alinea ketiga Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang pada 18 Agustus 1945 akan disahkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Baca Artikel

Ketegangan pada 17 Agustus 1945

Saat itu tentara dan polisi Jepang masih banyak yang berjaga-jaga dengan senjata lengkap. Di dekat Lapangan Ikada juga terdapat markas Angkatan Darat Jepang. Sangat tidak memungkinkan mendatangkan massa dan mengadakan proklamasi di sana.

Baca Artikel

Perumusan naskah proklamasi

Oleh Dewanto Samudro
Perumusan naskah proklamasi

Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol Nomor 1 terdiri atas empat ruangan, yaitu ruang pertemuan, ruang perumusan, ruang pengetikan dan ruang pengesahan.

Ruang pertemuan adalah ruang depan dekat serambi rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda yang digunakan perwira Angkatan Laut Jepang itu untuk menerima Soekarno, Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo yang baru saja kembali dari Rengasdengklok.

Di ruangan itu saat ini terdapat sebuah meja bundar yang dikelilingi empat kursi. Tidak ada diorama sama sekali yang menggambarkan situasi saat itu.

Ruang perumusan adalah ruangan tempat perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sebelumnya, ruangan itu merupakan ruang makan Maeda.

Di ruangan tersebut terdapat sebuah meja bundar panjang dilengkapi dengan beberapa kursi sebagai mana ruang makan. Pada salah satu ujung meja, terdapat patung Soekarno, Hatta dan Soebardjo yang menggambarkan diorama saat perumusan naskah proklamasi.

Ruang pengetikan terdapat di bawah tangga, di dekat dapur. Di ruangan kecil itulah, Sayuti Melik dengan didampingi BM Diah mengetik naskah proklamasi yang sebelumnya ditulis tangan oleh Soekarno.

Di dalam ruangan itu terdapat sebuah meja, kursi dan mesin ketik dengan patung Sayuti Melik digambarkan sedang mengetik naskah proklamasi dikawani BM Diah yang berdiri.

Ruangan terakhir adalah ruang pengesahan. Ruangan yang berada tepat setelah serambi itu merupakan yang paling besar. Di ruangan itulah, konsep naskah proklamasi disetujui oleh hadirin yang datang serta disahkan dengan ditandatangani Soekarno-Hatta.

Saat ini, di ruangan itu terdapat satu meja besar dikelilingi beberapa kursi tanpa diorama. Di dinding terpasang foto-foto tokoh yang hadir saat itu.

"Semua benda yang ada di Museum ini sudah tidak ada yang asli. Kami menerima gedung ini dalam keadaan kosong. Akhirnya kami carikan benda-benda yang mirip dan sezaman," kata Edukator Museum Perumusan Naskah Proklamasi Ari Suryanto.

Pada 17 Agustus 1945 dini hari, menjelang pukul 03.00; Soekarno, Hatta dan Soebardjo memasuki ruang makan Maeda.

Menurut P Swantoro, dalam "Saat-Saat Penentuan Rumusan Proklamasi: Kisah Satu Malam yang Menentukan Masa Depan" dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015) yang diterbitkan "Penerbit Buku Kompas", sebelum menuliskan kalimat pertama Soekarno sempat bertanya kepada Soebardjo apakah dia ingat rancangan pembukaan Undang-Undang Dasar yang sudah disepakati Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sebelumnya.

Soebardjo menjawab dia ingat, tetapi tidak semua kalimatnya. Soekarno kemudian mengatakan yang diperlukan hanya frasa yang relevan dengan proklamasi. Soebardjo kemudian mendiktekan kalimat pertama proklamasi.

Kalimat itu adalah "Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia". Kalimat tersebut dipetik dari bagian terakhir alinea ketiga Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang pada 18 Agustus 1945 akan disahkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Setelah kalimat tersebut ditulis, Hatta berpendapat itu saja tidak cukup. Kalimat itu terlalu abstrak tanpa isi. Kemerdekaan harus direalisasikan dengan konkret dan itu tidak akan bisa dilakukan tanpa kekuasaan di tangan bangsa Indonesia.

Akhirnya, Hatta menambahkan kalimat "Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya".

Konsep proklamasi itu kemudian dibawa kepada tokoh-tokoh lain yang sudah menunggu. Soekarni menyampaikan keberatannya. Menurut dia, konsep tersebut tidak berjiwa revolusioner, terlalu lemah dan lembek.

Dia tidak setuju dengan kalimat kedua karena tidak yakin Jepang mau memindahkan kekuasaan kepada bangsa Indonesia secara sukarela. Kekuasaan, kata Soekarni, harus direbut.

Karena itulah, pada konsep proklamasi tulisan tangan Soekarno, terdapat beberapa kata yang dicoret. Tampak kata "pemindahan" dicoret, kemudian di atasnya tertulis "penyerahan". Kata "penyerahan" kemudian dicoret lagi dan kata "pemindahan" ditulis kembali.

Coretan juga terlihat pada kata "diusahakan" yang kemudian diganti dengan kata "diselenggarakan".

Tentang keberatan Soekarni itu, RP Swantoro menulis Soebardjo mengatakan sesaat memang membangkitkan kesan mendalam bagi mereka yang hadir. Namun, hanya sesaat.

Soebardjo mengatakan para tokoh yang hadir sependapat bahwa terlalu banyak yang terbengkalai kalau hanya terlibat dalam argumentasi-argumentasi penuh emosi.

Bangsa Indonesia sudah mencapai satu hasil penting, yaitu persetujuan diam-diam pihak Jepang. Karena itu, lebih baik menghindari penggunaan kata-kata yang mungkin dapat mengakibatkan perubahan sikap mereka.

Penandatanganan Proklamasi

Setelah konsep proklamasi kemerdekaan disetujui, kembali timbul pertentangan pendapat tentang siapa yang akan menandatangani naskah proklamasi.

Dalam buku komik "Peristiwa Sekitar Proklamasi" yang diterbitkan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, menurut anggota PPKI Teuku Mohammad Hasan, terdapat tiga usul yang diajukan dalam menandatangani naskah proklamasi.

Tiga usulan itu adalah semua yang hadir menandatangani, membagi setiap kelompok yang hadir kemudian satu orang perwakilannya menandatangani atau hanya ditandatangani Soekarno-Hatta sebagai ketua dan wakil ketua PPKI.

Kemudian Sayuti Melik mengusulkan agar hanya ditandatangani dua orang, yaitu Soekarno-Hatta saja. Usul Sayuti kemudian disambut Soekarni dengan mengatakan "Bukan kita semua yang hadir di sini yang menandatangani. Cukup dua orang saja menandatanganinya atas nama bangsa Indonesia, yaitu Soekarno-Hatta".

Soebardjo, sebagaimana ditulis RP Swantoro, mengisyaratkan persetujuan mengenai siapa yang menandatangani naskah proklamasi tidak sesederhana itu. Awalnya, Soekarno mengusulkan agar ditandatangani dengan didahului "Wakil-Wakil Bangsa Indonesia".

Menurut sejarawan Rusdhy Hoesein, usulan ini mencontoh apa yang dilakukan pada Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat yang ditandatangani begitu banyak orang.

Soebardjo menduga yang dimaksud Soekarno dengan "Wakil-Wakil Bangsa Indonesia" adalah para anggota PPKI. Mengingat pada saat itu juga hadir pemuda dari kelompok Soekarni, kemungkinan usulan itu juga mencakup mereka.

Namun, ternyata Soekarni menolak usulan itu. Dia tampaknya tidak rela kelompoknya dideretkan senapas dengan anggota PPKI yang dianggapnya "kolaborator Jepang".

Penolakan Soekarni juga terjadi pada usulan supaya semua yang hadir menandatangani naskah proklamasi. Menurut dia, usulan itu tidak bisa diterima karena mereka yang tidak memiliki peran dalam mempersiapkan proklamasi tidak berhak menandatangani.

Menurut Soebardjo, yang dimaksud Soekarno itu adalah para pemuda yang berada di dalam ruangan, tetapi tidak termasuk kelompoknya.

Di tengah situasi panas itu, Sayuti Melik tampil dengan usulnya. "Saya kira tidak ada yang akan menentang kalau Soekarno dan Hatta menandatangani proklamasi atas nama bangsa Indonesia," katanya.

Usul itu akhirnya dilaksanakan karena diterima secara aklamasi disertai dengan tepuk tangan.

Pengetikan Proklamasi

Setelah seluruh konsep proklamasi disepakati, Soekarno kemudian meminta Sayuti untuk mengetik naskah tersebut. Sayuti terpilih untuk mengetik naskah proklamasi karena kebetulan berada di samping Soekarno.

Dalam "Kenangan Pribadi Sekitar Proklamasi: Menyongsong Kemerdekaan Dari Balik Terali Penjara" dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015), Sayuti menulis beberapa saat sebelum peristiwa proklamasi, dia merupakan salah seorang pembantu pribadi Soekarno.

Karena kedekatan dengan Soekarno, Sayuti berkesempatan mengikuti peristiwa-peristiwa menjelang proklamasi kemerdekaan, termasuk ketika Soekarno ditemui perwakilan pemuda di rumahnya pada 15 Agustus 1945 dan pertemuan di rumah Maeda tersebut.

Sayuti sendiri yang menyebutkan kebetulan dia yang diminta Soekarno untuk mengetik naskah proklamasi. Dia menganggap apa yang dia lakukan bukanlah suatu peranan yang berarti.

"Ibarat pelaku dalam pertunjukan sandiwara hanya menjadi pelaku sampingan (figuran) yang diketemukan di tengah jalan saja," tulis Sayuti.

Karena di rumah Maeda saat itu tidak ada mesin ketik dengan huruf latin, yang ada adalah mesin ketik dengan huruf hiragana, pegawai Maeda bernama Satsuki Mishima kemudian pergi ke kantor militer Jerman untuk meminjam mesin ketik.

"Perlu diingat, saat itu pemerintah militer Jepang menerapkan jam malam. Tentu tidak mudah bagi para pemuda berkeliaran mencari mesin ketik, apalagi akan digunakan untuk mengetik naskah proklamasi kemerdekaan," kata Edukator Museum Perumusan Naskah Proklamasi Ari Suryanto.

Setelah mesin ketika didapatkan, Sayuti didampingi BM Diah kemudian mengetik naskah proklamasi di ruangan kecil di bawah tangga. Konsep proklamasi tulisan tangan Soekarno sempat tercecer, tetapi kemudian disimpan oleh BM Diah.

Naskah proklamasi yang sudah diketik itu kemudian dibawa ke tempat para hadirin. Pada 17 Agustus 1945, menjelang Subuh, Soekarno-Hatta menandatangani naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia di atas piano milik Maeda.

Tutup

Ketegangan pada 17 Agustus 1945

Oleh Dewanto Samudro
Ketegangan pada 17 Agustus 1945

Orang-orang pasti akan kebingungan mencari rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 saat ini.

Selain karena bangunan rumahnya sudah tidak ada, alamat Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 juga sudah tidak ada.

Memang masih ada Jalan Pegangsaan Timur, tetapi orang tidak akan bisa menemukan nomor 56 karena ruas jalan di depan rumah Soekarno dulu telah diubah nama menjadi Jalan Proklamasi.

"Banyak yang mencari Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Sekarang sudah tidak ada karena sudah berganti menjadi Jalan Proklamasi Nomor 56," kata Koordinator Taman Proklamasi Rudi Nopiar.

Tanah bekas rumah Soekarno dulu saat ini telah berubah menjadi Taman Proklamasi. Rumah yang ditempati Soekarno, dan menjadi tempat pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan, sudah tidak ada jejaknya.

Soekarno sendiri yang memerintahkan rumah itu dibongkar, suatu hal yang menimbulkan tanda tanya karena Sang Putra Fajar dikenal sebagai seseorang yang sangat menghargai sejarah. Alasan mengapa rumah itu dibongkar pun simpang siur.

Sejumlah sejarawan memberikan jawaban yang berbeda, mulai dari alasan Soekarno tidak ingin rumah itu dianggap mistis, alasan perbedaan politik dengan Sutan Syahrir yang sempat menghuni rumah itu saat menjabat perdana menteri hingga gosip bahwa rumah itu dekat dengan rumah Hartini, istri muda Soekarno.

Di dalam Taman Proklamasi saat ini terdapat tiga situs bersejarah, yaitu Tugu Ibu, Tugu Proklamasi atau Tugu Petir dan Monumen Proklamator Soekarno-Hatta.

Tugu Ibu adalah tugu berbentuk obelisk yang dibangun untuk memperingati satu tahun kemerdekaan Indonesia. Pada salah satu sisi tugu tersebut terdapat lempeng marmer yang bertuliskan "Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia Atas Oesaha Kaoem Wanita Djakarta".

Pada sisi lainnya, terdapat lempeng marmer yang bertuliskan teks proklamasi yang dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945. Di bawah lempeng marmer tersebut, terdapat lempeng marmer lain yang berisi gambar peta kepulauan Indonesia.

Tugu Proklamasi atau Tugu Petir adalah sebuah tugu berbentuk tabung yang ujungnya terdapat simbol petir sebagaimana logo Perusahaan Listrik Negara (PLN). Tugu tersebut didirikan di lokasi Soekarno berdiri saat membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Pada sisi tugu tersebut terdapat lempeng logam bertuliskan "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Pada Tanggal 17 Agustus 1945 Djam 10.00 Pagi Oleh Bung Karno dan Bung Hatta".

"Mengapa di puncak tugu ada lambang petir? Karena proklamasi kemerdekaan Indonesia menggelegar bagaikan petir di siang hari," kata Rudi.

Sedangkan Monumen Proklamator Soekarno Hatta terdiri dari dua buah patung Soekarno dan Mohammad Hatta yang saat proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di depan mereka, terdapat patung naskah proklamasi yang diketik Sayuti Melik.

"Wajah patung Bung Karno dan Bung Hatta disesuaikan dengan kondisi saat itu. Saat itu mereka berdua berumur 40-an tahun," kata Rudi.

Di belakang patung tersebut, terdapat latar belakang berupa pilar-pilar yang pada bagian tertentu melambangkan angka 17, 8 dan 45.

Edukator dari Museum Perumusan Naskah Proklamasi Ari Suryanto mengatakan pada awalnya proklamasi direncanakan akan dibacakan di Lapangan Ikatan Atletik Jakarta (Ikada). Namun, karena alasan keamanan, akhirnya dipindahkan ke rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56

"Saat itu tentara dan polisi Jepang masih banyak yang berjaga-jaga dengan senjata lengkap. Di dekat Lapangan Ikada juga terdapat markas Angkatan Darat Jepang. Sangat tidak memungkinkan mendatangkan massa dan mengadakan proklamasi di sana," kata Ari.

Pendapat berbeda disampaikan sejarawan Rusdhy Hoesein. Menurut Rusdhy, seusai perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda. Tidak ada pembicaraan proklamasi akan dibacakan di mana.

"Namun, tampaknya di benak masing-masing orang saat itu, yang terpikirkan adalah Lapangan Ikada. Kepastian lokasi di rumah Bung Karno baru terjadi beberapa saat sebelum proklamasi diselenggarakan," tuturnya.

Rusdhy mengatakan pagi hari 17 Agustus 1945, Soekarno sedang demam. Dia kemudian meminta anggota Pembela Tanah Air (PETA) Singgih yang saat itu berjaga di rumahnya menyiapkan tiang bendera untuk acara pembacaan proklamasi.

Dalam "Menanggapi Buku Sekitar Proklamasi, Setelah Saya Menemui Bung Hatta" dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015) yang diterbitkan "Penerbit Buku Kompas", Sudiro menulis bahwa tempat yang ditentukan untuk pembacaan proklamasi adalah Lapangan Ikada, berbeda dengan yang ditulis Hatta bahwa proklamasi akan diselenggarakan di rumah Soekarno.

"Dalam pertemuan saya dengan Bung Hatta, beliau menyatakan bahwa beliau sendiri hanya diberitahu oleh Bung Karno tentang tempat yang direncanakan untuk mengucapkan proklamasi itu, yaitu rumah Bung Karno. Tidak disebut tempat lain, juga tidak Lapangan Ikada," tulis Sudiro.

Karena informasi lokasi yang simpang siur itu, banyak orang yang akhirnya datang terlambat saat pembacaan proklamasi. Beberapa tokoh, yang terlibat dalam perumusan naskah proklamasi di rumah Maeda pun, bahkan tidak terlihat sama sekali saat pembacaan proklamasi.

Barisan Pelopor

Saat proklamasi akan dibacakan Soekarno-Hatta, Sudiro merupakan salah satu anggota Barisan Pelopor. Ketua Umum Barisan Pelopor adalah Soekarno. Sudiro ditugaskan untuk menjadi pemimpin harian bersama Chalid Rasjidi. Selain itu, juga ada dr Muwardi yang memimpin Barisan Pelopor Daerah Kota Istimewa Jakarta.

Melalui tulisannya, Sudiro menuturkan pada 16 Agustus 1945 sejak pukul 18.00 Barisan Pelopor telah mulai menyampaikan instruksi agar pada 17 Agustus 1945 pagi, sebelum pukul 11.00 waktu Jepang, sudah berada di Lapangan Ikada.

"Seandainya baru jam 3 pagi tanggal 17 Agustus 1945 kami mendapat instruksi tersebut, mustahil kami dapat mengerahkan begitu banyak orang," tulisnya.

Dalam "Saat-Saat Proklamasi Sangat Mendebarkan" dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015), Sudiro menuturkan pengerahan massa saat itu dilakukan melalui berbagai cara. Yang bisa dihubungi melalui telepon, diperintahkan melalui telepon. Namun, sebagian besar harus melalui kurir bersepeda.

Pengerahan-pengerahan massa yang sudah dilakukan sebelumnya, ternyata bagaikan latihan untuk menghadapi peristiwa mahapenting bagi seluruh bangsa Indonesia itu.

Ternyata, saat datang pagi-pagi ke Lapangan Ikada, Sudiro melihat sudah ada banyak tentara Jepang yang berjaga dengan bersenjata lengkap. Dia kemudian segera menghubungi dr Muwardi. Oleh dr Muwardi, Sudiro diminta mengubah instruksi.

"Tidak jadi di Ikada tetapi di Pegangsaan Timur 56. Semua Barisan yang datang dari berbagai jurusan supaya dicegat dan langsung menuju rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur 56," tulisnya.

Sudiro kemudian segera membuat pengumuman-pengumuman tertulis untuk ditempelkan di batang pohon, terutama di sekitar Lapangan Ikada.

Sudiro menggambarkan situasi saat itu sangat mendebarkan. Tentara Jepang yang sudah kalah dari Sekutu, menerima perintah untuk menjaga dan menjamin "status quo". Itu berarti, tentara Jepang sebenarnya harus menghalangi perubahan status Indonesia yang sedang mereka duduki dan menyerahkannya kepada Sekutu.

"Itu sebabnya menurut perhitungan kami, pasti proklamasi kita pada 17 Agustus 1945 akan dihalang-halangi dan dicegah oleh pihak Jepang dengan atau tanpa kekerasan, dengan atau tanpa paksaan," tulisnya.

Ketegangan situasi saat itu juga disampaikan Latief Hendraningrat, anggota PETA yang mengibarkan Sang Saka Merah Putih setelah pembacaan proklamasi.

Dalam "Latief Hendraningrat, Pengibar Bendera Merah Putih Pada Proklamasi" dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015), Latief menuturkan pada 17 Agustus 1945 pagi dia melapor kepada tentara Jepang yang mengawasi pasukannya bahwa dia akan latihan bersama rekan-rekannya di kota.

Tentara Jepang itu tidak tahu bahwa di balik laporan Latief tersebut, mereka bermaksud berjaga-jaga di sekitar pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Pada saat pembacaan proklamasi dilakukan Latief berjaga di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, bahkan berada di sebelah kanan Soekarno.

"Pikiran saya waktu itu memang tegang. Mata terus tertuju ke jalan besar melihat kemungkinan gangguan," katanya.

Tutup
Image
Tentang Laksamana Maeda dan rumahnya

Tentang Laksamana Maeda dan rumahnya

Play Video
Kosong kekuasaan yang berbuah kemerdekaan

Kosong kekuasaan berbuah kemerdekaan

Play Video

Hari merdeka telah tiba. Sederhana namun khidmat, demikian suasana yang menggambarkan bagaimana bangsa ini menyatakan kemerdekaannya diwakili oleh Soekarno dan Mohammad Hatta.

Hari Merdeka

Dalam pidatonya, Soekarno mengatakan bangsa Indonesia telah berjuang untuk mencapai kemerdekaan selama beratus-ratus tahun. Begitu pula pada masa pendudukan Jepang, usaha untuk mencapai kemerdekaan tidak berhenti.

Baca Artikel

Penyebarluasan berita proklamasi ke seluruh dunia

Pada 17 Agustus 1945, dari tempat persembunyiannya di Jalan Bungur Besar, Adam menelepon kantor Antara dan diterima Asa Bafagih. Kepada Asa Bafagih, Adam memberi tahu bahwa Indonesia telah merdeka.

Baca Artikel

Hari Merdeka

Oleh Dewanto Samudro
Hari Merdeka

Tugu Proklamasi atau Tugu Petir berada di Taman Proklamasi yang saat ini berada di bawah Unit Pengelola Monumen Nasional, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

Tugu tersebut didirikan di atas tempat Soekarno berdiri pada saat membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Soekarno sendiri yang menunjukkan tempat dia berdiri dalam sebuah kesempatan.

Pada tugu tersebut terdapat lempeng logam bertuliskan "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Pada Tanggal 17 Agustus 1945 Djam 10.00 Pagi Oleh Bung Karno dan Bung Hatta".

Pada 17 Agustus 1945, dari pagi hingga siang, situasi di Jakarta saat itu memang menegangkan. Pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia dibayangi kemungkinan dibubarkan oleh tentara Jepang yang bertugas menjaga "status quo" setelah kalah dari Sekutu.

Tentara Jepang terlihat berjaga-jaga di beberapa tempat, terutama di Lapangan Ikatan Atletik Jakarta (Ikada) yang sebelumnya disebut-sebut akan menjadi tempat pembacaan proklamasi dalam instruksi pengerahan massa Barisan Pelopor.

Dalam "Saat-Saat Proklamasi Sangat Mendebarkan" dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015) terbitan "Penerbit Buku Kompas", Sudiro yang sudah datang di Lapangan Ikada pada 17 Agustus 1945 pagi melihat sendiri banyak tentara Jepang berjaga dengan bersenjata lengkap.

"Kebetulan sajakah? Ataukah instruksi untuk berkumpul di tempat tersebut yang memang tidak (dapat) kami rahasiakan telah bocor?" tulis Sudiro.

Melihat kecil peluang pembacaan proklamasi di Lapangan Ikada, setelah berkomunikasi dengan dr Muwardi, Sudiro kemudian menginstruksikan massa Barisan Pelopor untuk menuju Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56.

Di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, persiapan pembacaan proklamasi segera dilakukan. Mikrofon juga telah disiapkan. Hanya satu.

Tiang bendera segera disiapkan. Sudiro menulis sempat ada kejadian lucu saat orang yang bertugas memasang tiang bendera bertanya "Satu ataukah dua?".

Rupanya dia belum sadar bahwa kali ini Sang Saka Merah Putih akan dikibarkan sendiri, tidak beriringan dengan bendera negara lain. Pada masa itu, bendera Merah Putih boleh dikibarkan asal selalu didampingi bendera Jepang, Hinomaru.

Anggota Pembela Tanah Air (PETA) Latief Hendraningrat juga terlihat gagah dengan seragam dan pedang Jepangnya. Hanya lencana di topinya saja yang membedakan penampilannya dengan sebelumnya. Di topinya tertempel lencana bendera Merah Putih, bukan lagi Hinomaru.

Dalam "Latief Hendraningrat Pengibar Bendera Proklamasi: Bung Karno dan Bung Hatta Bukan Diculik, Tapi Dijauhkan dari Jakarta" dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015) Latief menceritakan tentang tiang bendera yang digunakan saat itu.

Menurut Latief, tiang bendera itu didirikan dari bambu untuk jemuran. Di ujungnya dipasangi kerekan dengan tali biasa yang kasar. Sebenarnya di halaman rumah Soekarno saat itu ada dua tiang bendera yang lebih bagus.

"Tapi kami memilih tiang bendera baru, dan tidak mau memakai tiang bendera yang lainnya itu. Kami tidak mau menggunakan tiang bendera yang ada hubungannya dengan Jepang," katanya.

Massa dari Barisan Pelopor mulai berdatangan memenuhi halaman rumah Soekarno. Ditambah dengan para mahasiswa dari sekolah kedokteran yang berdatangan dengan mobil atau kendaraan lain.

Soekarno sendiri saat itu sedang tidak terlalu sehat dan masih beristirahat di kamarnya, yang terletak di bagian belakang rumah sebelah kanan kalau masuk dari bagian depan.

Hanya tiga orang saja yang diizinkan keluar masuk ke kamarnya, yaitu dr Soeharto sebagai dokter pribadinya, dr Muwardi yang ditunjuk sebagai kepala urusan keamanan dan Sudiro sebagai pembantu umum.

Setelah segala sesuatu yang diperlukan siap, orang-orang yang ada di Jalan Pegangsaan timur Nomor 56 mulai gelisah. Mereka khawatir tentara Jepang akan segera datang untuk menggagalkan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Mencari Hatta

Mohammad Hatta, yang menandatangani naskah proklamasi bersama Soekarno belum datang. Ada yang lapor Hatta tidak ada di rumahnya, bahkan ada kabar burung Hatta tidak bersedia ikut memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Sudiro menulis tokoh-tokoh yang hadir saat itu, antara lain dia dan dr Muwardi, beberapa kali mendesak Soekarno untuk segera membacakan proklamasi sebelum tentara Jepang datang. Namun, Soekarno selalu menolak dan mengatakan hanya mau mengucapkan proklamasi bersama Hatta.

Semua orang yang ada di rumah Soekarno saat itu semakin tegang. Mereka khawatir tentara Jepang akan segera datang. Apalagi, ada informasi tentara Jepang sudah tahu rencana pembacaan proklamasi dan sedang bergerak menuju Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56.

Dalam situasi tegang itu, dr Muwardi kembali mendesak Soekarno, bahkan sempat mengatakan tidak perlu menunggu Hatta. Dengan nada marah, Soekarno menjawab "Kalau begitu silakan Mas Muwardi saja yang membacakan proklamasi".

Di tengah ketegangan, akhirnya terlihat mobil Hatta diiringi mobil yang ditumpangi dua anggota PETA Abdulkadir dan Latief Hendraningrat yang sebelumnya memang diminta mencari dan menjemput Hatta.

Indonesia Merdeka

Setelah kedatangan Hatta, acara pembacaan proklamasi pun segera dilaksanakan dibuka dengan pidato pembukaan Wakil Wali Kota Jakarta Raya Suwiryo selaku ketua penyelenggara. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Hatta.

Setelah itu, barulah Soekarno maju ke arah mikrofon, mengucapkan pidato singkat sebelum membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Dalam pidatonya, Soekarno mengatakan bangsa Indonesia telah berjuang untuk mencapai kemerdekaan selama beratus-ratus tahun. Begitu pula pada masa pendudukan Jepang, usaha untuk mencapai kemerdekaan tidak berhenti.

Meskipun pada masa pendudukan Jepang bangsa Indonesia tampak menyandarkan diri kepada penjajah, Soekarno menegaskan bahwa pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap menyusun tenaga sendiri dan percaya pada kekuatan sendiri.

Seusai berpidato, dengan suara lantang tetapi tenang, Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

"Proklamasi. Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia. Soekarno-Hatta".

Seusai membacakan proklamasi, Soekarno mengucapkan beberapa kalimat penutup.

"Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air dan bangsa kita. Mulai saat ini kita menyusun negara kita. Negara merdeka. Negara Republik Indonesia, merdeka, kekal dan abadi".

Setelah proklamasi selesai dibacakan, acara berikutnya adalah pengibaran Sang Saka Merah Putih yang dilakukan Latief Hendraningrat sebagai pengerek dibantu Suhud Sastro Kusumo.

Tentang pengibaran bendera tersebut, Latief menceritakan sempat merasa heran karena baki berisi Sang Saka Merah Putih disodorkan kepadanya. Entah siapa yang mengatur agar dia yang mengibarkan Sang Saka Merah Putih.

Meskipun sadar dengan akibatnya, dengan berani Latief menerimanya. Dia berpikir hal itu untuk mengamankan Soekarno-Hatta karena peraturan Jepang saat itu mengibarkan bendera Merah Putih tanpa Hinomaru merupakan sebuah pelanggaran.

"Jadi kalau ada apa-apa, bisa didalih bahwa salah saya sendiri, bukan Bung Karno atau Bung Hatta yang bisa ditangkap nanti," katanya.

Acara pembacaan proklamasi kemudian ditutup dengan mengheningkan cipta dan berdoa bersama.

Mereka Terlambat

Setelah acara selesai, sepasukan Barisan Pelopor yang dipimpin S Brata dengan berjalan kaki dari Penjaringan datang. Mereka meminta agar pembacaan proklamasi diulangi, tetapi Soekarno menjawab proklamasi hanya diucapkan sekali dan berlaku untuk selamanya.

Beberapa orang lain juga datang terlambat. Sudiro menulis beberapa anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) seperti Radjiman Wedyodiningrat juga terlambat. Tokoh-tokoh muda seperti Sukarni, Chaerul Saleh, Adam Malik, Subadio dan Wikana tidak terlihat

Tentang ketidakhadiran para tokoh tersebut, Edukator Museum Perumusan Naskah Proklamasi Ari Suryanto mengatakan sejumlah tokoh pemuda memang tidak berada di rumah Soekarno karena mengamankan situasi.

"Saya pikir menghadiri tidak harus ada di lokasi saat itu. Mereka ada di sekitar Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 untuk mengamankan situasi," katanya.

Karena masih belum terlalu sehat, Soekarno kemudian masuk ke kamarnya lagi. Pada saat itulah, apa yang dikhawatirkan terjadi. Beberapa pembesar Jepang datang dan meminta bertemu Soekarno. Mereka menyatakan pemerintah militer Jepang melarang proklamasi.

Didampingi anggota Barisan Pelopor yang siap bertindak bila terjadi apa-apa. Soekarno menjawab dengan tenang, "Proklamasi sudah kami ucapkan".

Tutup

Penyebarluasan berita proklamasi ke seluruh dunia

Oleh Dewanto Samudro
Penyebarluasan berita proklamasi ke seluruh dunia

Menapaki tangga naik ke Museum Antara yang berada di lantai dua Gedung Antara di Jalan Antara Nomor 59, Pasar Baru, segera terlihat komik sejarah Antara karya Jan Mintaraga di sebelah kiri.

Komik tersebut menggambarkan sejarah Kantor Berita Antara yang didirikan Adam Malik, Pandoe Kartawigoena, Soemanang dan Albert Manoempak Sipahoetar pada 13 Desember 1937, lebih tua daripada usia Republik Indonesia.

Sebagai kantor berita yang memang ditujukan untuk mengimbangi pemberitaan Kantor Berita Aneta milik Belanda, yang pemberitaannya kerap menyudutkan para pejuang kemerdekaan, Antara menerapkan jurnalisme perjuangan.

Begitu pula dengan peran Antara dalam menyebarluaskan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Hanya beberapa saat setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan Soekarno-Hatta di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 pada 17 Agustus 1945, beritanya sudah segera mengudara ke seluruh dunia.

Upaya menyebarluaskan berita kemerdekaan Indonesia sudah dilakukan sejak perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda selesai menjelang subuh 17 Agustus 1945.

Para pemuda dari kalangan pers, dipimpin BM Diah, memperbanyak naskah Proklamasi untuk disebarluaskan. Begitu pula dengan penyebarluasan berita kemerdekaan melalui radio.

Namun, penyebarluasan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia baru dilakukan di Gedung Antara Pasar Baru, Jalan Pos Utara (kemudian menjadi Jalan Antara) Nomor 59 Jakarta yang saat itu ditempati Kantor Berita Domei.

Dalam sebuah wawancara dengan wartawan senior Antara, Oscar Motuloh pada 2017 yang saat itu menjadi Kepala Museum dan galeri Foto Jurnalistik Antara, ia mengatakan yang pertama kali mengabarkan proklamasi kemerdekaan Indonesia kepada rekan-rekannya di Antara adalah Adam Malik, salah satu pemimpin Kantor Berita Antara.

"Adam Malik menelepon Kantor Berita Domei dan berbicara dengan Asa Bafagih. Kepada Asa Bafagih, Adam Malik memberitahu bahwa Indonesia sudah merdeka," kata Oscar.

Oscar mengatakan sejak Jepang menduduki Indonesia, Kantor Berita Antara harus berada di bawah pengawasan pemerintahan militer Jepang.

Menurut Oscar, Jepang adalah negara yang memiliki kesadaran tentang arti penting media dan propaganda. Karena itu, mereka mendirikan sejumlah surat kabar yang berada di bawah pengawasannya di sejumlah daerah.

Beberapa surat kabar itu antara lain Asia Raya (Jakarta), Tjahaja (Bandung), Sinar Baroe (Semarang), Sinar Matahari (Yogyakarta) dan Soeara Asia (Surabaya).

Dalam "Lima Windu ANTARA (Sejarah dan Perjuangannya)" Soebagijo IN menulis setelah Jepang menduduki Indonesia, pemerintah militer Jepang memerintahkan Antara dibubarkan,

Adam Malik menyampaikan keberatan, sehingga akhirnya pemerintah militer Jepang memberikan usul baru agar Antara mengubah namanya dengan nama Jepang, yaitu Yashima yang artinya semesta.

Adam dihadapkan pada pilihan sulit. Meneruskan Antara hidup tetapi dengan nama Yashima atau membiarkan Antara mati tanpa meninggalkan apa pun. Adam akhirnya memilih pilihan pertama sehingga akhirnya Yashima pun menggantikan kedudukan Antara.

"Mulai tanggal 29 Mei 2602 (1942 M) persburo Antara dihentikan kegiatannya dan pekerjaannya diteruskan oleh pekabaran Yashima. Segala pekerjaan dan pegawainya diambil oleh Yashima," tulis Soebagijo mengutip berita dari mingguan Pandji Poestaka, 6 Juni 1942.

Adam Malik kemudian meminta beberapa rekannya seperti Pangulu Lubis, Rachmat Nasution dan Eris Rasjid Sibuea untuk bergabung ke Yashima. Dalam perkembangannya, pemerintah militer Jepang menempatkan orangnya untuk mengawasi Yashima.

Tiga bulan setelah beroperasi, pemerintah militer Jepang melikuidasi Yashima dan diganti nama menjadi Domei. Domei adalah nama kantor berita Jepang yang didirikan sebelum Perang Dunia II di Tokyo pada 1935.

Hal itu membuat Sipahoetar marah karena merasa dibohongi. Jepang ternyata hanya mengulur waktu untuk memaksakan kehendaknya.

Sejak itu, setiap wartawan Antara harus memberi laporan tertulis kepada pimpinan Jepang di Domei apa yang sudah dikerjakan malam sebelumnya.

Kondisi itu membuat para wartawan Antara marah. Mereka sempat memutuskan untuk keluar dari Domei, termasuk Pandoe Kartawigoena yang waktu itu menjabat Kepala Seksi Dalam Negeri. Namun, Djohan Syahroezah melarangnya.

"Jangan semua keluar, nanti Jepanglah yang akan pegang sini semua," katanya.

Akhirnya sejumlah wartawan Antara memutuskan tetap bertahan.

Kekalahan Jepang

Menjelang kekalahan Jepang, beberapa tenaga inti Antara (Domei di Indonesia), seperti Adam Malik, Pandoe Kartawigoena dan Abdul Hakim sudah lama tidak muncul di kantor karena terlibat aktif dalam mempersiapkan kemerdekaan.

Yang tetap tinggal di kantor saat itu adalah Pangulu Lubis, Rachmat Nasution, Syahruddin, Asa Bafagih, Mohammad Basri, Soendoro, Syamsoeddin Sutan Makmur dan Rinto Alwi ditambah sejumlah juru ketik dan tenaga bawahan.

Mereka bekerja seperti biasa, tanpa menduga akan ada peristiwa penting yang terjadi. Ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah di depan mata, hanya Pangulu Lubis yang diberi tahu oleh Adam Malik. Karena itulah, Adam menugaskan Pangulu untuk selalu bersiap di kantor.

Pada 17 Agustus 1945, dari tempat persembunyiannya di Jalan Bungur Besar, Adam menelepon kantor Antara dan diterima Asa Bafagih. Kepada Asa Bafagih, Adam memberi tahu bahwa Indonesia telah merdeka.

Adam kemudian mendiktekan bunyi proklamasi yang baru saja dibacakan Soekarno-Hatta di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Dia kemudian meminta Asa Bafagih agar meneruskan berita itu kepada Pangulu agar disiarkan tanpa menghiraukan Hodohan.

Saat itu, pemerintah militer Jepang melalui Hodohan melakukan penyensoran terhadap berita-berita yang akan disiarkan. Semua berita yang disiarkan harus mendapat persetujuan terlebih dulu dari Hodohan.

Oleh Pangulu, berita proklamasi kemerdekaan Indonesia kemudian dikirim ke bagian radio dengan diselipkan di antara berita-berita yang telah dibubuhi izin Hodohan. Pangulu menugaskan markonis Soegirin untuk mengawasi penyiaran berita tersebut.

Bersama Soegirin yang berjaga-jaga agar tidak ketahuan orang-orang Jepang, markonis Wua kemudian menyiarkan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia melalui radio dan mengudara ke seluruh dunia.

"Saat itu sekitar waktu makan siang sehingga penjagaan orang-orang Jepang agak longgar," kata Oscar.

Saat menduduki Indonesia, orang-orang Jepang di Indonesia tetap menggunakan waktu Jepang yang selisih dua jam dengan waktu Indonesia bagian Barat saat ini.

Karena itu, saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan Soekarno-Hatta pada pukul 10.00, para tentara Jepang memang sedang istirahat makan siang karena bagi mereka saat itu pukul 12.00.

Begitu pula ketika Adam Malik menelepon rekan-rekannya di Antara dan meminta berita proklamasi disiarkan, orang-orang Jepang yang bertugas di Domei, selain sudah "ogah-ogahan" karena menderita kekalahan, banyak yang tidak berada di kantor untuk istirahat makan siang.

Berita yang disiarkan melalui udara itu segera mendapat tanggapan beragam. Muncul tanggapan dari beberapa tempat di luar negeri, seperti San Fransisco dan Australia. Pemerintah militer Jepang pun marah. Polisi Jepang atau "Kempetai" pun segera bertindak.

Saat menerima gertakan polisi melalui telepon, Pangulu menjawab bahwa berita tersebut sudah diberi izin oleh Hodohan. Ketika ditanya keberadaan Adam Malik, dia juga menjawab tidak tahu.

Karena tidak bisa bertindak lebih jauh, pemerintah militer Jepang kemudian memerintahkan Domei untuk membuat ralat yang menyatakan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah salah. Yang ditugaskan saat itu adalah Syamsoeddin Sutan Makmur dan Rinto Alwi.

Karena mendapat tentangan dari rekan-rekannya, mereka tidak jadi membuat ralat lalu pergi keluar kantor. Seorang Jepang bernama Tanabe kemudian membuat ralat itu yang kemudian juga disiarkan markonis Wua.

"Namun sudah terlambat. Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah tersebar luas ke seluruh dunia dan itu terjadi di sebuah bangunan di Jalan Pos Utara Nomor 59 yang saat ini menjadi Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara," kata Oscar.

Tutup
Cerita tentang merah dan putihnya bendera pusaka

Cerita tentang merah dan putihnya bendera pusaka

Play Video
Image

Hari Merdeka - Coklat

Bendera - Coklat

Garuda di Dadaku - Netral

"Ayo bangsa Indonesia dengan jiwa yang berseri-seri mari berjalan terus, jangan berhenti, revolusimu belum selesai, jangan berhenti sebab kita tidak bertujuan bernegara hanya satu windu saja. Kita bertujuan bernegara seribu windu lamanya, bernegara buat selama-lamanya, sekali merdeka tetap merdeka..merdeka..merdeka buat selama-lamanya." - Soekarno

75th Indonesia Maju

Credit

PENGARAH
Akhmad Munir, Saptono, Teguh Priyanto

PRODUSER EKSEKUTIF
Sapto HP

PRODUSER
Panca Hari Prabowo

PENULIS
Dewanto Samudro, Prisca Triferna

REDAKTUR
Unggul Tri Ratomo

FOTOGRAFER
ANTARA FOTO/IPPHOS

EDITOR FOTO
Prasetyo Utomo

REPORTER VIDEO
Ardi Irawan

KAMERAMEN VIDEO
Gunawan Wibisono, Syahrudin

EDITOR VIDEO
Rayyan, Agha Yuninda Maulana

PRODUSER VIDEO
Ardi Irawan

INFOGRAFIS
Moeng, Eri, Anton

SUMBER LAGU
Youtube

WEB DEVELOPER
Y. Rinaldi