Image

Mobil listrik bukan barang mutakhir. Teknologi ini moncer menjadi raja jalanan di pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20, setelah invensi motor listrik sebagai komponen utama penggerak kendaraan tersebut berkembang pesat di Eropa. Namun sayangnya kendaraan yang lebih ramah lingkungan itu meredup karena kalah bersaing dengan kemajuan pesat teknologi pembakaran dalam yang diusung mobil-mobil berbahan bakar minyak, yang hingga kini masih menjadi raja jalanan dan mengemisi Bumi.

Mobil listrik benar-benar menghilang sekitar tahun 1930-an setelah produsen mobil raksasa di Amerika Serikat lalu Jepang membanjiri pasar global dengan produk massal mobil dengan mesin pembakaran dalam, sehingga membuat harga mobil listrik jadi dua kali lipat lebih tinggi dibanding mobil berbahan bakar minyak.

Invensi pembuka jalan mobil listrik dunia

Krisis minyak dunia di 1973 dan 1979 yang membuat harga minyak meroket menjadi 39,50 dolar AS per barel dalam setahun membawa angin segar bagi mobil listrik. Teknologi kendaraan yang digerakkan dengan motor listrik ini kembali semakin diminati saat harga minyak dunia lebih melambung tinggi lagi serta kesadaran soal emisi gas rumah kaca (GRK) semakin bertambah pada tahun 2000-an.

Meski demikian, baru di 2011 mobil listrik mulai sedikit demi sedikit berani bersaing kembali dengan teknologi mesin pembakaran dalam. Perkembangan pesat teknologi disrupsi baterai ion litium yang mampu menurunkan harga jual penyimpanan listrik di pasaran membuat mobil listrik semakin masif dikembangkan produsen otomotif dunia.

Baca Artikel

Invensi pembuka jalan mobil listrik dunia

mobillistrik

Krisis minyak dunia di 1973 dan 1979 yang membuat harga minyak meroket menjadi 39,50 dolar AS per barel dalam setahun membawa angin segar bagi mobil listrik. Teknologi kendaraan yang digerakkan dengan motor listrik ini kembali semakin diminati saat harga minyak dunia lebih melambung tinggi lagi serta kesadaran soal emisi gas rumah kaca (GRK) semakin bertambah pada tahun 2000-an.

Meski demikian, baru di 2011 mobil listrik mulai sedikit demi sedikit berani bersaing kembali dengan teknologi mesin pembakaran dalam. Perkembangan pesat teknologi disrupsi baterai ion litium yang mampu menurunkan harga jual penyimpanan listrik di pasaran membuat mobil listrik semakin masif dikembangkan produsen otomotif dunia.

Tesla Inc menjadi salah satu pabrikan penyimpan energi sekaligus produsen mobil listrik yang bermarkas di Palo Alto, California, Amerika Serikat, yang fokus mengembangkan teknologi-teknologi itu sejak awal berdiri di 2003. Tesla Roadster yang secara legal diizinkan meluncur pertama kali di jalan bebas hambatan Amerika di 2008 menjadi pembuka euforia produsen mobil listrik hingga penyimpan energi global yang mampu memicu berbagai invensi teknologi penyimpanan energi yang lebih ringan, murah, tahan lama.

Cibiran para produsen serta pendukung mobil dengan pembakaran ruang dalam soal kecepatan, jarak tempuh, harga baterai dan kecepatan pengisian dan penggantian baterai mobil listrik awalnya memunculkan keraguan konsumen. Namun Tesla Motors yang berganti nama menjadi Tesla Inc membungkam para pencibir itu dengan kemampuan merakit baterai ion litium dengan biaya hanya sekitar 200 USD per kWh dan penggantian baterai mobil listrik hanya dalam waktu 90 detik. Teknologi motor listrik menjadi invensi yang sangat penting yang menjadi pembuka jalan berkembangnya mobil listrik di dunia.

Jika berbicara soal teknologi motor listrik latas terbayang soal Viar Q1, Gesits, atau Honda PCX Hybrid, maka jelas Anda sedang berada di “dimensi” yang sedikit berbeda. Karena motor listrik yang sedang dibahas adalah komponen yang mampu mengubah energi listrik menjadi mekanik.

Teknologi itu yang menjadi sumber penggerak pada mobil listrik. Invensi baterai yang dilakukan Alessandro Volta pada era 1800-an, pembangkit medan magnetik dari arus listrik oleh Hans Christian Oersted di era 1820-an, serta elektromagnet oleh William Sturgeon di era 1825-an hanya pembuka yang memicu invensi-invensi lain untuk teknologi kelistrikan.

Motor listrik bekerja dengan mengubah energi listrik menjadi magnet yang kemudian disebut elektormagnet. Dengan menempatkan magnet pada satu poros yang dapat berputar serta magnet lain pada dudukan tetap maka akan menghasilkan gerak. Ingat, kutub-kutub dari magnet yang senama akan tolak-menolak dan kutub-kutub tidak senama akan tarik-menarik.

Secara praktik, pada 1835 dua orang Belanda Sibrandus Stratingh dan Christopher Becker membuat motor listrik yang diaplikasikan pada sebuah mobil mainan kecil. Namun paten pertama untuk motor listrik justru dikantongi inventor Thomas Davenport asal Amerika Serikat pada 1837. Meski demikian invensi mereka berbeda dari dasar teknologi motor listrik DC, yang menjadi cikal bakal sistem tenaga listrik tiga frasa, yang kemudian memunculkan motor sinkron tiga frasa dan banyak digunakan pada robot dan mobil listrik.

Nama-nama Bradley, Dolivo-Dolbrowsky, Ferraris, Haselwander, Tesla dan Wenström ada dijajaran inventor yang menyumbang pengembangan motor listrik tiga frasa pada era 1880-1890. Prinsip dasar kerja motor DC memerlukan suplai tegangan arus searah pada kumparan medan untuk diubah menjadi energi gerak mekanik. Kumparan medan pada motor DC disebut stator (bagian yang tidak berputar) dan kumparan jangkar disebut rotor (bagian yang berputar).

Sosok Akira Yoshino merupakan ilmuwan Jepang dengan invensinya berupa baterai litium ion yang menjadi teknologi disrupsi untuk banyak perangkat yang digunakan umat manusia sekarang ini. Yoshino menyempurnakan invensi baterai litium milik John B Goodenough yang merupakan ilmuwan dari Amerika Serikat. Sedangkan Goodenough melanjutkan invensi baterai lithium fungsional pertama yang dikembangkan pada 1970-an oleh ilmuwan asal Inggris M Stanley Whittingham.

Teknologi awal baterai litium yang dikembangkan Whittingham masih sangat rentan meledak untuk digunakan secara massal. Goodenough membuat baterai tersebut menjadi lebih bertenaga, sementara Yoshino menyempurnakan invensi-invensi tersebut pada 1985 dengan mengeliminasi litium murni baterai sehingga menghasilkan baterai litium ion yang kini dikomersialkan. Mereka bertiga merupakan inventor baterai litium peraih Nobel Kimia 2019. Inovasi yang mereka ciptakan membuat revolusi kehidupan mahluk Bumi saat ini.

Baterai lithium ion digunakan secara global sebagai daya perangkat elektronik yang manusia pakai untuk komunikasi, bekerja, belajar, mendengar musik dan mencari ilmu pengetahuan baru. Teknologi itu juga menjadi kunci perpindahan dari bahan bakar fosil. Perubahan penting pada baterai litium ion dibandingkan model timbal yang berkembang di pertengahan abad ke-19 adalah daya yang dapat diisi ulang, lebih kecil, lebih ringan, lebih tahan lama dan lebih kuat.

Sara Snogerup Linse, profesor kimia fisik dan anggota Komite Nobel untuk Kimia mengatakan baterai mobil listrik tidak lagi berbobot dua ton tetapi cukup 300 kilogram. Litium merupakan komposit teringan di dunia yang berhasil ditemukan umat manusia untuk saat ini, dan merupakan elektroda positif yang mampu menjinakkan elektron sehingga mengeluarkan energi listrik. Dunia membutuhkan litium yang sangat reaktif tersebut, kata anggota Komite Nobel lainnya Olof Ramstroem.

Tutup

Era baru mobilitas ramah lingkungan

Pada setiap pameran otomotif dalam dua tahun belakangan, pengunjung begitu mudah menemukan kendaraan ramah lingkungan, baik listrik maupun hibrida yang terpajang di panggung utama.

Mungkin beberapa pabrikan memajang model itu cuma sebagai pemanis pameran, namun ada juga yang benar-benar serius memperkenalkan teknologi itu sebagai salam perkenalan untuk masyarakat Indonesia.

Baca Artikel

Era baru mobilitas ramah lingkungan

mobillistrik

Pada setiap pameran otomotif dalam dua tahun belakangan, pengunjung begitu mudah menemukan kendaraan ramah lingkungan, baik listrik maupun hibrida yang terpajang di panggung utama.

Mungkin beberapa pabrikan memajang model itu cuma sebagai pemanis pameran, namun ada juga yang benar-benar serius memperkenalkan teknologi itu sebagai salam perkenalan untuk masyarakat Indonesia.

Terdapat sejumlah merek yang sudah menjual mobil ramah lingkungan di Indonesia, antara lain BMW i3s, BMW i8 Hybrid, Mitsubishi Outlander PHEV, Toyota Camry Hybrid, Toyota C-HR Hybrid, Toyota Alphard Hybrid, Nissan X-Trail Hybrid, Lexus LS500 Hybrid hingga Mercedes-Benz E300 eAMG Line PhEV.

Toyota Astra Motor yang sudah satu dekade memasarkan kendaraan hibrida melalui model Prius mengatakan bahwa penjualan mobil ramah lingkungan naik pada 2019, tanpa merinci jumlah kenaikannya.

"Pada tahun 2017 rata-rata penjualan mobil hibrid Toyota hanya 14 unit per bulan, tapi tahun ini tumbuh pesat," kata Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi Suwandy.

Peningkatan penjualan itu setidaknya menjadi jawaban bahwa era mobil terelektrifikasi atau yang lebih ramah lingkungan sudah semakin dekat, tinggal menunggu payung hukum dari pemerintah. Pabrikan Jepang lainnya, Mitsubishi, sudah mulai menjual Outlander PHEV yang dibanderol Rp1,2 miliar. Dua pabrikan Jerman, BMW dan Mercedes-Benz, juga membawa mobil listrik antara lain BMW i3 dan Mercy E300 EQ Power. Renault juga berani menjual mobil mungil Twizy.

Jenama China, Wuling memperkenalkan E100 pada tahun lalu, dan kali ini giliran Dongfeng Sokonindo (DFSK) memamerkan mobil listrik Glory E3. Kedua merek asal Negara Tembok Raksasa itu menyatakan siap menjual mobil ramah lingkungan di Nusantara apabila regulasinya ditetapkan pemerintah.

"Persiapan perlu dilakukan sejak dini mengingat DFSK Glory E3 akan dipasarkan secara global, termasuk di kawasan ASEAN," kata Managing Director Sales Center PT Sokonindo Automobile, Franz Wang.

"Indonesia berpeluang menjadi basis produksi untuk pasar ASEAN mengingat fasilitas produksi di Indonesia sangat memungkinkan dan mendukung," kata Franz.

Presiden Joko Widodo pada Agustus 2019 menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) tentang mobil listrik dengan tujuan mendorong perusahaan otomotif agar mempersiapkan mobil listrik di Tanah Air. Presiden Jokowi berharap DKI Jakarta bisa memulai penerapan kendaraan elektrifikasi dengan memberikan insentif kepada pengguna mobil listrik, misalnya parkir gratis atau subsidi pembelian.

"Ada negara-negara yang memberi subsidi sekian dolar untuk membeli mobil listrik. Dan (bisa) dimulai seperti di Jakarta, busnya, mendorong taksi-taksinya. Bisa saja motor listrik didorong, digunakan di DKI Jakarta dulu," kata Jokowi.

Perpres yang diteken Joko Widodo juga mengatur penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 35 persen sehingga dapat menekan harga jual produk kendaraan listrik dan terjangkau bagi masyarakat. Sejumlah negara telah menerapkan skema insentif atau subsidi untuk pengguna kendaraan ramah lingkungan, baik itu keringanan pajak hingga potongan harga beli untuk kendaraan baru.

Di Amerika Serikat sebagaimana dilansir The Times, setidaknya lebih dari 10 negara bagian di Amerika Serikat menerapkan insetif untuk mobil listrik. Nilai dan jenisnya pun bervariasi, New York, misalnya, menawarkan insentif 2.000 dolar AS (Rp29 juta) dengan tambahan diskon 10 persen biaya tol.

California menawarkan insentif 5.000 dolar AS (Rp71 juta) dan tambahan 3.000 dolar AS (Rp42,6 juta) apabila mobil listrik itu digunakan di wilayah itu. Adapun Colorado menawarkan insentif hingga 20.000 dolar AS (Rp284,3 juta) yang tergantung jenis kendaraan dan penggunaannya.

Sementara China sebagai pasar kendaraan listrik terbesar dunia -- lebih dari 1 juta unit menurut EV-Volumes.com -- menawarkan insentif 50.000 yuan (Rp101 juta), kendati menurut warta Bloomberg insentif itu akan dipangkas setengahnya menjadi 25.000 yuan. Subsidi itu, menurut Bloomberg, menjadi pendorong penjualan mobil ramah lingkungan di China. Angka penjualan yang menarik itu juga mendorong perusahaan otomotif berinovasi menciptakan teknologi baru.

Sedangkan Kanada yang mengalami kenaikan penjualan mobil "hijau" sebesar 30 persen berkat penerapan insentif 5.000 dolar AS oleh pemerintah sejak Maret 2019. Kanada serius memberikan insentif karena ingin seluruh mobil yang terjual pada 2040 merupakan kendaraan berpenggerak listrik, menurut Green Car Report.

Selain itu hampir 60 persen kendaraan baru yang terjual di Norwegia pada Maret 2019 adalah berpenggerak listrik, menurut Forbes, yang didominasi penjualan Tesla Model 3, Nissan Leaf, dan Volkswagen Golf. Insentifnya bukan uang semata, melainkan penghapusan pajak pembelian hingga fasilitas menggunakan jalur khusus bus dan keringanan biaya tol untuk pengguna mobil listrik.

Sementara, Indonesia belum memberlakukan insentif mobil listrik sehingga harga jual produk itu masih tinggi, misalnya Tesla Model X dan Mercedes E300 yang mencapai harga di atas Rp2 miliar. Sedangkan mobil listrik dengan kisaran harga Rp1 miliar antara lain Mitsubishi Outlander PHEV, Toyota Alphard hybrid, dan BMW i3.

Tutup

Hybrid atau full electric?

Kendaraan ramah lingkungan terbagi dalam beberapa jenis, ada yang listrik sepenuhnya, hybrid, juga plug-in hybrid (PHEV). Bedanya adalah kendaraan listrik sepenuhnya (EV) hanya menggunakan motor listrik dan baterai tanpa mesin pembakaran. Sedangkan mobil hybrid menggunakan dua mesin yakni pembakaran dan motor listrik yang berkolaborasi menghasilkan efisiensi bahan bakar. Mobil jenis ini tetap membutuhan bensin untuk menjalankan mesin dan mengisi baterai.

Plug-in hybrid adalah pengembangan lebih lanjut dari hybrid. Mobil jenis PHEV itu bisa menggunakan mesin bensin, namun juga tersedia pengisian daya listrik, sehingga menawarkan jarak tempuh yang lebih jauh, dengan dua opsi mesin. Lantas, mobil ramah lingkungan jenis manakah yang cocok untuk Indonesia?

Baca Artikel

Hybrid atau full electric?

mobillistrik

Kendaraan ramah lingkungan terbagi dalam beberapa jenis, ada yang listrik sepenuhnya, hybrid, juga plug-in hybrid (PHEV). Bedanya adalah kendaraan listrik sepenuhnya (EV) hanya menggunakan motor listrik dan baterai tanpa mesin pembakaran. Sedangkan mobil hybrid menggunakan dua mesin yakni pembakaran dan motor listrik yang berkolaborasi menghasilkan efisiensi bahan bakar. Mobil jenis ini tetap membutuhan bensin untuk menjalankan mesin dan mengisi baterai.

Plug-in hybrid adalah pengembangan lebih lanjut dari hybrid. Mobil jenis PHEV itu bisa menggunakan mesin bensin, namun juga tersedia pengisian daya listrik, sehingga menawarkan jarak tempuh yang lebih jauh, dengan dua opsi mesin. Lantas, mobil ramah lingkungan jenis manakah yang cocok untuk Indonesia?

Ketua Program Percepatan dan Pengembangan Kendaraan Listrik, Satryo Soemantri Brodjonegoro, mengatakan Indonesia berpeluang besar untuk bersaing di segmen mobil listrik, apabila fokus pada jenis kendaraan berbasis baterai. Artinya, menurut dia, mobil listrik sepenuhnya yang menggunakan baterai akan membuka peluang industri baterai yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia.

Kementerian Perindustrian mengundang investor untuk berinvestasi di sektor produksi baterai agar mengakselerasi pengembangan mobil listrik di Tanah Air. Mereka juga sudah melakukan ujicoba baterai motor listrik yang menggandeng beberapa perusahaan dan organisasi teknologi.

Kendati demikian, hingga kini pemerintah masih merumuskan peraturan kendaraan ramah lingkungan yang akan menaungi berbagai hal terkait mobil terelektrifikasi.

Tanggapan produsen mobil di Indonesia pun bermacam-macam. Ada yang menyatakan Indonesia harus membangun infrasutrukur pendukung, ada juga yang sudah siap menjual mobil listrik.

"Pendapat kami, kondisi sekarang kalau langsung EV (mobil listrik), infrastruktur kita belum siap. Membangun charging station tidak akan begitu cepat. Budaya kita juga belum terbiasa dengan mobil listrik," kata CO-CEO Sokonindo Automobile (DFSK) Alexander Barus.

Ia mengatakan bahwa saat ini DFSK masih menunggu peraturan pemerintah, sebelum memutuskan jenis mobil ramah lingkungan yang bakal dipasarkan atau diproduksi di Indonesia.

Lain halnya dengan Mitsubishi yang langsung memasarkan Outlander PHEV di Indonesia. Kendati pasar hybrid masih kecil, namun mereka yakin secara perlahan teknologi ini akan diterima masyarakat.

"Ini baru pionir, dan baru distribusi di GIIAS, tentu pasar untuk segmen ini kecil. Kami targetkan dua sampai lima unit terjual selama di GIIAS," kata Imam Chaeru Cahya, Head of Sales and Marketing Group MMKSI. Honda tidak membawa mobil listrik ke GIIAS 2019 karena masih menunggu peraturan pemerintah. Sedangkan Toyota yang merayakan kiprah 10 tahun menjual kendaraan hybrid dan berupaya terus mengenalkan mobil jenis itu kepada masyarakat.

Tutup

Mobil-mobil ramah lingkungan yang dijual di Indonesia masih dikirimkan dari induk perusahaan mereka di dunia, sehingga modelnya berkutat pada sedan dan sport utility vehicle (SUV) yang menjadi tren dunia. Hal itu berbeda dengan market Indonesia yang didominasi mobil keluarga dengan kapasitas angkut tujuh penumpang -- misalnya Toyota Avanza, Mitsubishi Xpander, Suzuki Ertiga dan lain sebagainya. Kendati pabrikan otomotif raksasa Eropa bermain di segmen sedan untuk mobil listrik, misalnya BMW dan Mercedes-Benz, namun beberapa pabrikan Jepang mencoba segmen SUV yang trennya sedang naik di dunia.

Riset mobil listrik nasional

Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai Untuk Transportasi Jalan menjadi kebijakan termutakhir jika dikaitkan langsung dengan urusan pengembangan mobil listrik di Tanah Air. Harapannya, kebijakan era Presiden Joko Widodo itu mampu mengakselerasi segala daya upaya komponen bangsa untuk menguasai sepenuhnya teknologi kendaraan listrik dari hulu hingga hilir.

Baca Artikel

Tuntas riset mobil listrik nasional

mobillistrik

Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai Untuk Transportasi Jalan menjadi kebijakan termutakhir jika dikaitkan langsung dengan urusan pengembangan mobil listrik di Tanah Air. Harapannya, kebijakan era Presiden Joko Widodo itu mampu mengakselerasi segala daya upaya komponen bangsa untuk menguasai sepenuhnya teknologi kendaraan listrik dari hulu hingga hilir.

Riset mobil listrik di Tanah Air sebenarnya sudah dimulai lama, baik secara mandiri oleh universitas maupun dikoordinasikan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek). Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) merupakan salah satu perguruan tinggi yang secara berkelanjutan mengembangkan berbagai tipe mobil listrik.

Tercatat ada Ezzy ITS I dan Ezzy ITS II prototipe mobil listrik karya ITS yang sudah menempuh uji jalan 800 kilometer (km) dari Jakarta ke Surabaya melalui jalur selatan Pulau Jawa dengan kekurangan minor pada 2014. Bahkan Presiden Joko Widodo sudah menjajal mobil listrik Ezzy II ketika meresmikan Jalan Tol Surabaya-Mojoketro (Sumo) pada Desember 2017.

EZZY II disebutkan mampu berlari dengan kecepatan maksimum 180 kilometer per jam, dengan kapasitas baterai 20 KWh mobil ini dapat menempuh jarak 130 km dalam sekali pengisian baterai. Generasi pertama mobil listrik itu mulai digarap pada 2012 dan selesai di Januari 2013.

Usai mencoba EZZY II, Presiden Jokowi sempat berujar kekurangan pada prototipe mobil tersebut wajar mengingat pengalaman negara lain yang butuh waktu 40 hingga 50 tahun untuk menuju ke standar agar bisa masuk pasar. “Terus kita kejar agar segera bisa masuk ke proses di industri”.

Untuk melangkah ke tahap berikutnya diakui Presiden tidaklah mudah. “Paling berat biasanya adalah bagaimana produk itu secara desain, secara harga bisa masuk ke pasar, bisa kompetisi dengan produk-produk mobil lain yang sudah lama ada”.

Riset mobil listrik nasional di Indonesia sudah dimulai sejak April 2012, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan program mobil listrik nasional yang mengacu pada peta jalan mobil listrik nasional dari konsorsium perguruan tinggi yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Sebelas Maret (UNS) dan ITS dan lembaga penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Kala itu koordinator tim mobil listrik nasional Agus Purwadi mengatakan konsorsium tersebut juga melibatkan BUMN strategis seperti PT Len dan PT Pindad.

Targetnya pada 2018, mobil listrik sudah dapat mulai diproduksi secara terbatas, dan menjadi solusi alternatif transportasi yang akan menyelamatkan Indonesia dari penggunaan minyak bumi berlebihan dan pencemaran lingkungan.

Pada 2014, di era Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta, riset sudah melewati level 1-3, yakni tahap eksplorasi, lalu level 4-6 yakni tahap pengembangan yang artinya sampai pada pembuatan prototipe dan diuji coba awal.

Riset mobil listrik baru mulai memasuki level 7-9, yakni masa pengujian di laboratorium dan pengujian lapangan untuk selanjutnya masuk ke manufacturing atau produksi massal. Namun jika uji lapangan lanjutan dapat dilakukan, tidak demikian dengan uji laboratorium, mengingat fasilitas pengujiannya saat itu belum tersedia. Padahal untuk bisa dipasarkan, sebuah kendaraan di Indonesia harus melewati uji emisi dan sebagainya di laboratorium.

Sambil menunggu laboratorium uji kendaraan listrik dimiliki, konsorsium baterai litium dibentuk melibatkan LIPI, BATAN, BPPT, UI, UGM, ITB, ITS, Universitas Lambung Mangkurat dan Kementerian Perindustrian. Saat itu, Koordinator Pusat Unggulan Iptek Material Penyimpan Energi LIPI Bambang Prihandoko mengatakan dari perjalanan riset ditargetkan 2019 dibangun fondasi dasar industri baterai litium Indonesia.

"Setiap komponen baterai ada pabriknya, sehingga ketika ada industri ponsel misalnya, mereka tinggal merakit," katanya.

Nantinya, komponen pembuatan baterai akan berbentuk lembaran. Untuk baterai kendaraan listrik, anoda terdiri dari lithium titanate dan katodanya lithium metal phosspkate. Sedangkan untuk baterai komunikasi, komponen anoda grap-hite dan katoda lithium metal phossphate. “Mobil listrik butuh pengisian baterai tinggi karena penggunaannya juga tinggi," ujarnya.

Bambang menambahkan, saat itu penelitian baterai litium tersebut memang masih skala laboratorium. Kerja sama dengan perusahaan mulai digagas yang nantinya jika paten sudah ada, barulah dibuat lisensi dan dibangun pabrik. Saat ini produksi pilot plant baterai litium berada di Pusat Penelitian LIPI di Puspiptek Serpong. Harapannya pabrik baterai bisa dibangun meskipun dalam skala kecil dengan target dalam satu rangkaian bahan dasar baterai 10 kilogram mampu menghasilkan 1,5 km lembaran baterai.

Jika Indonesia mampu menguasai seluruh teknologi kunci mobil listrik, diharapkan ketergantungan penggunaan bahan bakar minyak menurun, sehingga jumlah subsidi BBM pun dapat berkurang. Namun untuk menuntaskan itu semua ada pula hal yang perlu diingat, bahwa dengan total penduduk lebih dari 250 juta jiwa jelas Indonesia merupakan pasar besar. Tentu tidak mudah untuk menggeser dominasi pasar mobil pembakaran dalam global yang tentu saja pabrik-pabriknya bahkan sudah mapan di Tanah Air.

Kepentingan-kepentingan global yang kuat itu tidak serta-merta selesai dengan menaikkan rasa nasionalisme. Keseriusan pimpinan tertinggi bangsa beserta lingkar terdekatnya juga penting menyukseskan upaya mengaspalkan mobil-mobil listrik nasional.

Tutup

Fast charging, daya untuk mobil listrik berlaga

Urusan penyimpanan energi untuk mobil listrik menjadi salah satu komponen terpenting yang perlu dikuasai teknologinya secara mandiri. Tidak hanya urusan baterai litium ion saja, tetapi juga teknologi pengisian daya dengan cepat menjadi penting. Teknologi fast charging berkembang pesat dan setiap inventor dunia berupaya menyempurnakannya untuk melengkapi keberadaan baterai litium ion. Pengisian daya selama 10 menit untuk setengah baterai telepon genggam sudah dapat dilakukan, dan kemampuan seperti ini yang ingin terus ditingkatkan.

Baca Artikel

Fast charging, daya untuk mobil listrik berlaga

mobillistrik

Urusan penyimpanan energi untuk mobil listrik menjadi salah satu komponen terpenting yang perlu dikuasai teknologinya secara mandiri. Tidak hanya urusan baterai litium ion saja, tetapi juga teknologi pengisian daya dengan cepat menjadi penting. Teknologi fast charging berkembang pesat dan setiap inventor dunia berupaya menyempurnakannya untuk melengkapi keberadaan baterai litium ion. Pengisian daya selama 10 menit untuk setengah baterai telepon genggam sudah dapat dilakukan, dan kemampuan seperti ini yang ingin terus ditingkatkan.

Dengan ukuran baterai yang semakin kecil namun mampu menyimpan daya yang begitu besar, dan sangat cepat untuk pengisian ulang daya. Kemampuan itu akan menghilangkan jeda manusia bekerja, dunia akan semakin cepat berputar.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjadi salah satu lembaga yang berambisi mengambil peran dalam meyukseskan pengembangan mobil listrik di Indonesia. Selain akan melengkapi laboratorium untuk pengujian mobil listrik dan baterainya, BPPT juga berniat untuk fokus mengembangkan pengisi daya (charger) baterai untuk mobil dan motor listrik yang dapat digunakan di Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) maupun Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Deputi Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material (TIEM) BPPT Eniya L Dewi mengatakan tantangan dalam pengembangan pengisi daya mobil listrik saat ini adalah waktu pengisian yang masih lama. Teknologi quick recharge diupayakan untuk dikembangkan sehingga mampu mempersingkat waktu pengisian daya baterai mobil listrik bahkan hanya dalam waktu 30 menit.

Sedangkan untuk SPKLU, Eniya mengatakan BPPT sudah melakukan perekayasaan dua model stasiun pengisian daya untuk kendaraan listrik, yakni yang dikembangkan di Puspiptek Serpong dengan listrik yang langsung berasal dari sel surya. Sementara stasiun lainnya dibuat di Gedung BPPT di Jalan M H Thamrin dengan sistem quick charging dan sumber listrik dari PT PLN Persero namun dikombinasikan juga dengan sel surya.

Eniya mengatakan model plug-in mengisi daya baterai mobil listrik setidaknya harus disediakan cukup besar, minimal antara 30-50 kilowatt (kW), dan baterainya harus cepat terisi.

"Mobil listrik produksi Mitsubishi, Toyota, Nissan, BMW, dan Mercedes-Benz masih membutuhkan 14 jam untuk mengisi baterai jika tidak disediakan sumber listrik dengan kerapatan arus tinggi. Untuk itu, ketersediaan sumber listrik di tempat umum, sangat penting," ujar dia.

Lebih lanjut untuk memuluskan perjalanan mobil listrik, Eniya memberi rekomendasi agar infrastruktur pendukung seperti tempat untuk pengisian baterai, perlu menjadi perhatian.

"Selain teknologi baterai yang andal tadi, perlu juga diperhatikan adanya infrastruktur penyedia listrik. Istilahnya seperti pom bensin atau SPBU untuk moda transportasi listrik," ujar dia.

Baru Senin (23/12), BPPT menambah jumlah fasilitas pengisian daya untuk kendaraan bermotor listrik dengan mengoperasikan SPKLU yang ditempatkan di pelataran parkir kantor PT Len Industri (Persero), Bandung, Jawa Barat. Pemilihan lokasi SPKLU di PT Len Industri mempertimbangkan rencana kolaborasi dengan industri-industri lokal untuk menaikkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) serta sebagai bentuk kliring teknologi pola penggunaan kendaraan bermotor listrik jarak jauh, contohnya Jakarta ke Bandung.

Fitur SPKLU yang terpasang adalah fast charging station yang dapat digunakan untuk pada plug in DC Chademo (50kW), DC CCS 2 (50 kW) dan AC type 2 (43kW).Guna mendorong perluasan pengunaan fasilitas SPKLU yang jumlahnya memang juga belum terlalu banyak BPPT juga menggandeng PT Blue Bird Tbk dan PT Grab Indonesia yang telah mengumumkan penggunaan armada kendaraan bermotor listrik.

Kepala BPPT Hammam Riza menjelaskan pada dasarnya peran BPPT dalam bisnis SPKLU terbagi dua, pertama, yakni pada bagian hulu untuk melakukan kliring teknologi dan transfer teknologi yang akan mendukung penetapan standardisasi teknologi pada SPKLU. Itu dilakukan bekerja sama dengan Badan Standarisasi Nasional (BSN).

Kedua, mendorong keterlibatan industri dalam negeri melalui Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Untuk saat ini bekerja sama dengan PT Len Industri dalam rangka untuk meningkatkan nilai kandungan dalam negeri pada inovasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum.

Hammam mengatakan berbagai kajian dan perhitungan tekno ekonomi sedang dilakukan. Hasil kajian tersebut akan disusun dalam sebuah rekomendasi yang diharapkan dapat memberikan landasan bagi penerapan teknologi kendaraan bermotor listrik dan mampu memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk membangun kemandirian dan daya saing industri dalam negeri.

Menurut dia, komitmen dan sinergi antarpihak akan sangat krusial pada fase awal pembangunan ekosistem kendaraan bermotor listrik yang kondusif, yaitu hingga mencapai nilai keekonomian perbandingan antara ketersedian jumlah kendaraannya dengan jumlah SPKLU.

Di bagian hilir, kata Hammam, BPPT juga melakukan pengkajian dan penerapan pilot project SPKLU serta pengujian dan audit teknologi berbagai tipe stasiun pengisian daya listrik baik fast charger maupun ultra-fast charger.

"Dalam waktu yang tidak lama lagi diharapkan dapat diperoleh Standar Jasa Layanan SPKLU yang handal dan berkualitas, sehingga Indonesia akan semakin siap menghadapi era kendaaran listrik ini," ujar dia.

Direktur Operasional 2 PT LEN Adi Sufiadi Yusuf mengatakan perusahaannya siap menjalankan tugas untuk menaikkan TKDN stasiun pengisian daya untuk kendaraan bermotor listrik. PT Len Industri juga akan mengantisipasi integrasi sistem pembayaran pengisian daya di SPKLU, sehingga masyarakat nantinya dapat menggunakan kartu apapun.

Tutup

Dalam beberapa tahun mendatang, pilihan kendaraan apa yang akan digunakan dan cara mengkonsumsi energi akan mengalami perubahan. Ini adalah pilihan agar kemudahan dalam menjalani kehidupan tidak sampai merusak inti dari kehidupan itu sendiri.

Credit

PENGARAH
Akhmad Munir, Budi Setiawanto, Saptono, Teguh Priyanto

PRODUSER EKSEKUTIF
Sapto HP

PRODUSER
Panca Hari Prabowo

PENULIS
Virna P Setyorini, Alviansyah Pasaribu, Sella Panduarsa Gareta, Arnidhya Nur Zhafira

FOTOGRAFER
Alviansyah Pasaribu, Zarqoni Maksum, BMW Indonesia, Grab Indonesia

WEB DEVELOPER
Yudi Rinaldi