Baghdad (ANTARA News) - Menteri Luar Negeri Irak Hoshyar Zebari, Sabtu, menduga ada persekongkolan antara pasukan keamanan Irak dan gerilyawan dalam pengeboman truk yang menewaskan 95 orang tiga hari lalu.

Zebari, yang kehilangan 32 staf kementeriannya dalam ledakan di markas besarnya itu, mengakui serangan tersebut merupakan kemunduran keamanan yang serius dan bahwa pemerintah telah gagal melindungi warga sipilnya.

Pemboman Rabu di Kementerian Urusan Luar Negeri dan Kementerian Keuangan itu berpuncak pada hari kekerasan terburuk yang terlihat di negara yang dilanda konflik itu dalam 18 bulan, dengan sekitar 600 orang terluka.

"Bagaimana dapat truk itu lewat kecuali ada kolaborasi," ujar Zebari kepada wartawan di Baghdad.

"Ada kolaborasi antara pasukan keamanan dan kelompok teror untuk memfasilitasi lewatnya truk tersebut melalui tempat sensitif seperti itu."

Zebari mengatakan PM Irak Nuri al-Maliki telah memerintahkan penangkapan 11 pejabat senior keamanan Kamis supaya mereka dapat ditanyai mengenai bagaimana sebuh truk empat ton masuk lingkungan tempat kendaraan dua ton saja bahkan dilarang.

Ia juga membuat pengakuan resmi pertamanya bahwa ledakan itu menandakan bahwa perolehan keamanan itu dibuat pada tahun lalu di bawah ketegangan serius, menyusul serangkaian serangan mematikan dalam beberapa bulan belakangan ini.

"Mereka telah memindahkan serangan mereka ... sekarang mereka memusatkan diri pada kekhawatiran utama mereka, perhatian utama mereka, di Baghdad dan ini berbahaya dan pembangunan serius dan kemunduran keamanan," kata Zebari.

"Ini telah berlangsung selama dua bulan terakhir. Setiap pekan, setiap dua pekan kita melihat gelombang pemboman itu dan pembunuhan orang tak bersalah."

PM Nuri al-Maliki mengatakan setelah pemboman Rabu bahwa serangan itu merupakan "upaya nekad untuk menggelincirkan proses politik dam mempengaruhi pemilihan parlemen", yang direncanakan pada Januari 2010.

Namun Zebari pergi lebih jauh dan menyerukan penilaian kembali seluruh aparatur keamanan negara itu karena negara itu belum memperoleh intelijen yang cukup untuk menghadapi ancaman musuh.

"Pemerintah dan pasukan keamanan Irak akan melakukan upaya terbaik mereka tapi musuh kita bergerak jadi kita tahu bagaimana sulitnya," katanya.(*)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2009