Rabu, 28 Juni 2017

Seniman Indonesia-Jerman Berpuisi Bersama di Berlin

| 3.030 Views
Berlin (ANTARA News) - Seniman Indonesia Sosiawan Leak membaca pusi bersama seniman Jerman Martin Jankowski yang berjudul "Malaria" dalam sarasehan sebagai rangkaian acara "Jakarta-Berlian Arts Festival" yang berlangsung di Perpustakaan KBRI Berlin, Minggu siang.

Sosiswa yang berasal dari Solo, dengan gayanya yang meledak-ledak membacakan puisi yang berjudul Malaria dalam bahasa Indonesia, sementara Martin Jankowski yang juga ketua penyelenggara Jakarta-Berlin Arts festival membawakannya dalam Bahasa Jerman.

Sebelumnya Sosiawan Leak membaca puisi berjudul Pejantan Babi, Dunia Bogambola, Pobia dan Anak Batu berhasil memukau undangan yang hadir dalam rangkaian acara yang dibuka Dubes RI di Federasi Jerman Eddy Pratomo, Sabtu malam di Studi Admiralspalast, Berlin.

Sosiawan Leak kepada ANTARA London, Minggu mengakui bahwa ia merasa senang mendapat kesempatan untuk tampil dalam acara Jakarta-Berlin Art Festival yang diikuti berbagai seniman kedua negara.

Leak yang menbentuk kelompok teater Klosed tahun 1998 yang berarti Keloerga Sejahtera mulai menulis puisi sejak tahun 1987 . "Pada saat itu saya menjadi mahasiswa di Universitas Negeri 11 Maret Solo di jurusan sosial politik," ujarnya

Tidak heran bila puisi yang dihasilkan Leak banyak mengandung berbagai masalah sosial yang dihadapi masyarakat, seperti puisi yang berjudul Pobia yang menyoroti masalah telekomunikasi di mana manusia tidak lepas dari teknologi, seperti telepon gengam dan alat cangih lainnya.

Menurut Leak, ia melakukan persiapan selama kurang lebih tiga bulan untuk mencari ide dan gagasan mengenai hal-hal yang sangat Indonesia untuk ditampilkannya menjadi sebuah karya seni seperti pembacaan puisi dan monolog.

Sementara seniman lainnya Muhammad Faizi menampilkan tiga puisi yang berjudul Namaku Malam, Permaisuri Malam dan Surat Cinta untuk Malam.

Sedangkan penampilan baca pusisinya yang akan dipentaskan tanpa teks di antaranya berjudul Aku Tulis Puisi, Anak-anak Batu, Cerita Cucuku kepada Cucunya, Dunia Bogambola, Kau Menyiapkan Barisan, Layang Demonstran, Makna Cinta, Negeri Kadal, Pejantan Babi, Pobia.

Sementara itu seniman Jerman yang tampil dalam sarasehan itu adalah kelompok musik "Thobis Thiele and Friends" yang menampilkan kolaborasi musik jazz yang dipadukan dengan gamelan.

Delapan musisi Jerman yang terdiri dari Holges, Verena, Nicole, Weinij, Hilary dan Fabyan dan Tobias memainkan gamelan sementara vokalis, Anja membawakan tiga lagu yang berjudul Pendopo Musique, Greetings dan Piece of Work.

Tobias mengakui bahwa ia senang bisa menjadi bagian dari acara Jakarta-Berlin Art Festival dan menampilkan musik gamelan yang dipelajarinya saat menjadi peserta dharmasiswa di Solo tahun 2007.

"Impian saya adalah bisa menampilkan musiknya," ujar Tobias yang berhasil menelorkan album Solo Session bersama kelompok musik bandnya itu.

Sementara itu ketua penyelenggara Jakarta-Berlin Arts festival Martin Jankowski mengatakan bahwa ia mempersiapkan acara ini selama tujuh tahun.

Menurut Martin, tidak mudah untuk menyelenggarakan acara yang menghadirkan 150 seniman, apalagi dua pertiganya berasal dari Indonesia dan hanya sepertiganya seniman dari Jerman.

Diakuinya masih banyak masyarakat Jerman yang belum mengetahui mengenai Indonesia dan diharapkannya dengan digelarnya acara tersebut akan terjadi interaksi paling tidak diantara seniman dua Negara.

Selama penyelenggaraan Jakarta Berlin Art Festival berbagai acara mulai dari penampilan musik, tari serta teater serta karya instalasi dan video serta peragaan busana dari perancang busana Harry Dharsono digelar. (ZG/M026/K004)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar Pembaca