Jakarta (ANTARA News) - Aparat Tentara Nasional Indonesia tengah mengejar pelaku penembakan helikopter MI-17 milik TNI Angkatan Darat di kawasan Puncak Senyum, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, pada Rabu 3 Agustus 2011.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono di Istana Kepresidenan di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa pengejaran tersebut dilakukan satuan tugas TNI yang beroperasi di kawasan Puncak Jaya, Papua.

"Dari unsur kewilayahan kita di daerah sana. Jadi memang anggota kita di situ yang melakukan pengejaran, prosedurnya memang seperti itu," ujarnya.

Panglima TNI membenarkan pada kejadian tersebut satu anggota TNI menjadi korban, yaitu Pratu Fana S Hadi, yang sebelumnya telah menjadi korban penembakan dalam peristiwa kekerasan di Puncak Jaya dan akan dievakuasi ke Wamena.

"Jadi memang benar pada saat helikopter MI-17 TNI AD mengevakuasi prajurit kita yang kena tembak sebelumnya itu, ditembak oleh kelompok gerakan bersenjata di Puncak Jaya, puncak senyum namanya, dan kebetulan dari tiga peluru itu ada satu yang tembus dan mengenai anggota yang kita evakuasi, akibatnya meninggal," tuturnya.

Panglima TNI belum bisa memastikan pelaku penembakan berasal dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) karena menurut dia terdapat banyak gerakan bersenjata di Papua yang beraksi secara terpisah.

"Tidak bisa dikaitkan seperti itu karena kelompok di Papua itu banyak dan ini kelompok sendiri-sendiri yang tidak bisa ada kejadian langsung dikaitkan begitu," ujarnya.

Meski demikian, Agus bisa memastikan aksi penembakan helikopter TNI AD di Puncak Jaya dilakukan oleh kelompok berbeda yang melakukan penembakan di kawasan Abepura pada Senin 1 Agustus 2011.

"Kelompoknya berbeda," ujarnya.

Namun kondisi Papua yang kembali bergejolak karena peristiwa kekerasan beruntun tidak membuat TNI menambah kekuatan di provinsi paling timur Indonesia itu.

"Di Papua seperti itu kondisinya kok, biasa," kata Agus.

Ia pun menduga motivasi kelompok bersenjata menembaki helikopter TNI AD hanya untuk mencari perhatian tanpa tuntutan yang jelas.

Menurut Panglima, kelompok bersenjata yang bertebaran di Papua mendapatkan senjata api mereka dari pencurian yang dilakukan dari anggota TNI.

(D013*G003/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011