Jakarta (ANTARA News) - Langkah Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menertibkan pertunjukan topeng monyet mendapatkan beragam tanggapan dari warga ibukota, ada yang setuju ada pula yang tidak sependapat.

Sutarman (51) misalnya, warga Jalan Menteng, Kebon Sirih, menyatakan setuju dengan langkah itu, tapi dengan catatan.

Ia setuju karena penjaja sirkus topeng monyet selama ini sering memperlakukan monyet semena-mena, di antaranya kadang tidak memberi makan yang cukup kepada si monyet.

Namun, Sutarman juga merasa kasihan dengan pawang topeng monyet. Langkah penertiban itu mungkin akan membuat pemilik sirkus topeng monyet kehilangan mata pencahariannya.

"Kasihan sama yang punya monyet, dia kan usaha. Tapi kasihan juga sama monyetnya diiket-iket, panas-panasan, kadang enggak dikasih makan. Ini masalah perut," katanya kepada ANTARA News, Kamis.

Sementara warga lain, Rahmawati (21), secara tegas menyatakan tidak setuju. Warga yang tinggal di Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat ini mengaku iba dengan nasib tukang penjaja topeng monyet.

"Saya seratus persen enggak setuju, kasihan tukangnya mau kerja apalagi?," ujarnya.

"Tiap sore itu biasanya rame sama anak-anak yang nonton topeng monyet. Mereka bayar seikhlasnya. Tapi sekarang-sekarang ini nggak ada lagi tuh tukang monyet," keluhnya.

Husein warga berusia 49 tahun juga mengatakan hal serupa dengan Sutarman dan Rahmawati.

"Yang kasih makan monyetnya, bukan manusianya. Tapi kasihan juga sama tukang monyetnya, kita sama-sama orang susah," kata tukang parkir di jalan KH Wahid Hasyim Jakarta Pusat ini.

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, pada Senin (21/10) mengatakan akan mengamankan monyet dari pawangnya ke Taman Margasatwa Ragunan (TMR).

Sebagai ganti atas monyet yang diamankan, Pemrov DKI Jakarta memberikan uang kerohiman sebesar Rp1 juta kepada pawang monyet.