Beirut (ANTARA News) - Para anggota Koalisi Nasional Suriah yang beroposisi mengatakan Selasa kelompoknya telah membubarkan "pemerintahan sementara" dan membentuk penggantinya dalam sebulan ke depan.

Usaha-usaha untuk membentuk satu pemerintahan di pengasingan bagi oposisi Suriah telah terkendala oleh rivalitas antara para pendukungnya dan di antara para anggotanya dan juga ketidakmampuan untuk menghadirkan dirinya di dalam wilayah Suriah, lapor Reuters.

Koalisi Nasional dukungan Barat itu ditugaskan sebagai badan utama yang mewakili oposisi oleh Amerika Serikat dan kekuatan-kekuatan utama lainnya tetapi koalisi itu mempunyai pengaruh kecil atas pemberontak yang bertempur untuk menggulingkan Presiden Bashar al-Assad.

Kelompok tersebut mengatakan dalam satu pernyataan Selasa bahwa pihaknya membubarkan kabinet sementaranya untuk "membentuk landasan baru bagi pekerjaan atas dasar memindahkan pemerintahan ke dalam wilayah (Suriah) sesegera mungkin, dan memperdayakan kapabilitas revolusioner Suriah".

Ahmed Ramadan, seorang politisi oposisi yang tak sefaham dengan keputusan itu, mengatakan langkah tersebut berakar dalam perselisihan antara Perdana Menteri sementara Ahmad Tumeh dan mantan Presiden koalisi Ahmad Jarba, atas usaha-usaha Jarba membentuk pemerintahan militer.

"Banyak hal yang mengarah ke krisis yang melemahkan posisi oposisi," kata dia, menambahkan hampir tidak mungkin bagi satu pemerintahan oposisi bekerja di dalam wilayah Suriah karena alasan-alasan keamanan.

"Tak ada strategi jelas," ujar dia.

Tumeh dikritik karena memerintah tak efektif dan dia menderita kekalahan politik bulan ini dalam sidang umum koalisi bulan ini ketika dia memutarbalikkan keputusannya memecat kepala staf sayap militernya.

Pernyataan koalissi itu menyebutkan Tumeh dan para menteri yang lain akan terus sebagai penjabat sampai pemerintahan baru terbentuk.

Nominasi dibuka selama dua pekan dan satu pemerintahan baru dibentuk dalam waktu 30 hari.

Pembubaran pemerintahan terjadi dua pekan setelah kelompok itu memilih Hadi al-Bahra, seorang insinyur industri yang dilatih di Amerika Serikat, untuk meengganti Jarba setelah dia menjalani dua kali masa jabatannya yang masing-masing berlangsung enam bulan.

Bahra dan Jarba memiliki hubungan erat dengan Arab Saudi, salah satu negara pendukung utama pemberontak yang berusaha menggulingkan Presiden Bashar.

Bahra juga menjadi ketua perunding pembicaraan perdamaian yang disponsori AS dan Rusia, yang mengalami kegagalan setelah dua babak pertemuan pada Januari dan Februari.


Penerjemah: Mohamad Anthoni

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2014