Lima (ANTARA News) - Sekitar 190 negara pada Minggu sepakat membangun blok-blok kesepakatan untuk mengatasi perubahan iklim pada 2015, di tengah peringatan bahwa aksi lebih tangguh dibutuhkan untuk memangkas emisi gas rumah kaca.

Konferensi para pihak ke-20 (COP20) untuk Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim PBB (United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) di Lima, Peru, berakhir dengan kesepakatan yang meliputi pilihan-pilihan dengan cakupan luas untuk mencapai kesepakatan global di Paris pada Desember 2015.

Pembicaraan maraton yang berlangsung dalam dua hari terakhir konferensi iklim menghasilkan empat halaman dokumen yang meminta negara-negara mengajukan rencana nasional untuk mengatasi pemanasan global sebagai dasar kesepakatan global baru yang akan diajukan di Paris dalam satu tahun.

Draf itu menenteramkan negara-negara berkembang, juga Tiongkok dan India, yang prihatin draf sebelumnya akan memberikan beban berat bagi negara-negara dengan ekonomi yang sedang tumbuh ketimbang negara-negara kaya dalam usaha global untuk mengatasi perubahan iklim.

"Kita mendapatkan apa yang kita inginkan," kata Menteri Lingkungan India Prakash Javedekar, yang mengatakan draf itu menjaga gagasan bahwa negara kaya harus memimpin jalan untuk memangkas emisi dan memecah kebuntuan perundingan.

Dia mengatakan kesepakatan pada akhir pembicaraan iklim dua pekan itu juga membuat jelas bahwa negara-negara kaya harus memberikan dukungan finansial kepada negara-negara berkembang.

Komisioner Aksi Iklim dan Energi Eropa juga menilai dokumen itu merupakan jalan menuju kesepakatan Paris.

"Ini dokumen yang bagus untuk menata jalan menuju Paris," kata Komisioner Aksi Iklim dan Energi Eropa, Miguel Arias Cañete, kepada kantor berita Reuters.

Meski demikian Sekretariat Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan gabungan ikrar semua negara di Paris akan terlalu lemah untuk mencapai tujuan membatasi pemanasan global yang disepakati dua derajat Celcius di atas masa pra-industri.

Sebelumnya pembicaraan iklim tahunan PBB itu sempat diperpanjang karena para perunding dari 190 negara masih harus berusaha keras mencari cara untuk menjembatani perbedaan dan mencapai konsensus pada Sabtu pagi waktu setempat.

Para peserta konferensi para pihak ke-20 untuk Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim PBB berjuang memecah kebuntuan antara negara maju dan negara berkembang dalam dua pekan terakhir untuk menyelesaikan draf kesepakatan iklim internasional baru yang akan menjadi kunci dalam pembicaraan di Paris pada 2015.


Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2014