Sabtu, 19 Agustus 2017

Bincang-bincang: Itang Yunasz di mata keluarga

| 9.390 Views
Bincang-bincang: Itang Yunasz di mata keluarga
Perancang busana Itang Yunasz dan istri, Yeni Mulyani. Keduanya telah mengarungi mahligai kehidupan rumah tangga selama 19 tahun. (ANTARA News/ Lia Wanadriani Santosa)
Jakarta (ANTARA News) - Perancang busana Itang Yunasz dan Yeni Mulyani telah mengarungi mahligai kehidupan rumah tangga selama 19 tahun lamanya. Meskipun awalnya mereka harus mengalami cobaan pada masa pacaran. Bagaimana kisahnya?

Kepada ANTARA News, Yeni dan Itang bersedia berbagi cerita.Berikut petikan wawancara singkatnya:  


Kapan Mbak Yeni memulai perkenalan dengan Mas Itang?

 Yeni: Ketemu sih masih tahun 1993-an, kakaknya dia tetangga aku. Pas dia ke rumah kakaknya dia melihat aku.


Waktu itu Mbak Yeni sudah memakai hijab?

Yeni: Kebetulan dulu belum pakai hijab. Aku setelah punya anak kedua baru pakai hijab. Dulu yang pakai hijab bisa dihitung pakai jari, salah satunya saya. Alasannya merasa kita sebagai Muslim, saya sudah menikmati semua sama Mas Itang, sudah melanglangbuana. 

Istilahnya dari dulu sudah tahu baju-baju seksi. Dulu dia senang kalau saya memakai baju terbuka. Kalau lagi ke luar negeri, dia suka beli rok mini.

 Zaman dulu yang pakai hijab hanya ibu-ibu, bukan anak muda. Jadi waktu aku mulai punya anak, kami dua-duanya sudah mengurangi kadar keluar rumah. Jadi, hanya di dalam rumah.

 

 Mas Itang seperti apa di mata Mbak?

 Yeni:  Dia orangnya baik sekali. Terus to the point. Aku suka cowok yang to the point. Apa adanya, enggak ada yang ditutupin. Waktu pacaran pun saya dikenalin ke teman-temannya. "Inilah dunia ku, kamu harus tahu", kata dia. Jadi aku enggak kaget.

Dia lebih mendalami Alquran. Dulu Muslim memang, hanya mungkin jarang shalat. Tetapi semenjak kami mendekati perkawinan, Alhamdulillah semuanya shalat lima waktu.

Dulu kita kan ditentang sama keluarga. Aku sama Mas Itang itu backstreet loh. Kalau mau pacaran, dulu handphone jarang ya, pakai pager, "aku mau ketemu kamu".

 

Mengapa dilarang?

 Yeni: Aku dilarang (sama orangtua) karena (dia) artis. Keluargaku memang keluarga yang agamais sekali. Istilahnya enggak boleh sama artis, perancang dan sebagainya. Apalagi dia sudah berumur.

Tetapi Alhamdulillah-nya, si papah ini tidak menyerah. Pintu sudah dibanting beberapa kali, tetap saja datang ke rumah. Sekarang sudah 19 tahun pernikahan.

 

Mas Itang berkecimpung di industri fashion, dikelilingi banyak perempuan, sempat cemburu, Mbak?

 Yeni : Aku cemburuan awalnya.

Itang: Biar dia enggak cemburu lagi? Didiemin saja.

 

Mbak Yeni seperti apa di mata Mas Itang?

 Itang: Tuhan memberikan dia buat saya kan bukan hanya saat itu, kan hidup sendiri saya sudah cukup lama. Jadi kalau saya sudah memilih dia, apapun yang terjadi harus dipelajari, dijalani. Banyak hal yang bisa diolah di antara kehidupan ini.

Kalau dia sudah berbuat di luar misalnya dia enggak rapi orangnya, itu saya selalu berdoa "Ya Allah jadikanlah istriku rapi gitu sama rumah". Dia juga mungkin inginnya saya mengajinya bagus. Pasti didoakan itu.

 Saya marah-marah menyuruhnya.

 Yenni: bapak ini emosi sekali. Dulu.

 

 Sekarang masih emosian, mbak?

 Itang: Berubah. Karena umur kali ya. Sudah itu, sudah lebih dari 19 tahun berumahtangga,jadi enggak mungkin kalau enggak mengerti. 

 Yenni: Jadi perbedaan-perbedaan kita sudah tidak mencari-cari lagi. Kalau mencari perbedaan enggak bakal klop. Mau kayak gimana juga susah. Sekarang tujuannya kita untuk anak. Yang penting kita sama-sama.

 

 Mas Itang dan Mbak Yeni selalu menyempatkan diri kumpul bersama anak-anak?

 Itang: Saat ada waktu bersama keluarga, kita kumpul sama anak-anak. Jumat, Sabtu, Minggu kita jalan sama-sama. Kalau tiba-tiba anak-anak kangen, tiba-tiba saja masuk ke kamar.

 Yenni: Kita malah senang.

 

 Menyempatkan makan bersama, misalnya?

Itang: Ya. Dari makan kita bisa mengobrol. Kalau kita enggak ada waktu, habis saja waktu anak sendiri.

Editor: Fitri Supratiwi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga