Brisbane,(ANTARA News) - Permintaan maaf sebagai awal rekonsiliasi nasional sulit diharapkan dari pemerintah Indonesia. Hal itu dikatakan penyair dan kolumnis Laksmi Pamuntjak, dengan membandingkan permintaan maaf yang dilakukan Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd, kepada keturunan Aborigin. Laksmi mengemukakan hal itu kepada ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane sehubungan dengan kesertaannya dalam panel diskusi Festival Penulis Internasional, "WordStorm" 2008, di Darwin, Sabtu, yang mengangkat tema "say sorry" (permintaan maaf). Menurut dia, dalam konteks Indonesia, permintaan maaf (say sorry) adalah upaya penyembuhan atas luka sejarah di antara anak bangsa, namun hal itu sulit dilakukan oleh pemerintah. "Penyampaian permintaan maaf itu idealnya diikuti pula oleh penggalian kebenaran sejarah," katanya. Laksmi mengatakan, dalam sesi "WordStorm" 2008 itu, ia berbicara mengenai masalah tersebut dari konteks novel terbarunya berjudul "The Blue Widow" yang sedang dia tulis. Novel itu mengisahkan tentang orang-orang Indonesia yang ditahan rezim masa lalu di Pulau Buru tanpa pernah diadili atas tuduhan terlibat dalam gerakan Komunis 1965. "Orang-orang yang dituduh sebagai Komunis itu disekap selama satu dasawarsa tanpa proses hukum," katanya. Sejauh ini, dampak psikologis dari stigmatisasi rezim terdahulu terhadap para tertuduh pengikut PKI tidak hanya dirasakan secara langsung oleh mereka yang dituduh tetapi juga oleh anak cucu mereka, katanya. Terkait dengan pengalaman Australia, PM Kevin Rudd sudah menyampaikan permintaan maaf kepada warga keturunan Aborigin atas kasus "generasi yang terampas" (stolen generation) di masa lalu. Permintaan maaf itu disampaikan PM Rudd pada 13 Februari 2008 dan menjadi momentum bagi rakyat Australia untuk menapaki sejarah baru sebagai sebuah bangsa. Anak-anak Aborigin pada tahun 1869 hingga 1969 diambil dari orangtua mereka dan ditempatkan di bawah perwalian negara untuk dididik dengan budaya kulit putih. Para generasi yang terampas itu umumnya tinggal di panti-panti asuhan dan lembaga-lembaga milik pemerintah. Laksmi Pamuntjak selama ini dikenal sebagai penyair, penulis puisi prosa dan kolumnis yang produktif. Selain menghasilkan koleksi puisi, ia juga menghasilkan banyak artikel dan kolom berisi ulasan tentang isu-isu politik, film, kuliner, musik klasik, dan sastra di Majalah Tempo maupun penerbitan lain. Koleksi puisi keduanya bertajuk "Anagram" terbit pada Maret 2007. Pada September tahun yang sama, ia juga berhasil merampungkan terjemahan buku Goenawan Mohamad dalam bahasa Inggris berjudul "On God and Other Unfinished Things". Selain Laksmi, Festival "WordStorm" 2008 di Darwin itu juga dihadiri sastrawan yang juga wartawan dan Pendiri Majalah Tempo, Goenawan Mohamad.(*)

Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2008