Kemenristekdikti targetkan empat kawasan sains masuk level utama

Kemenristekdikti targetkan empat kawasan sains masuk level utama

Dirjen Kelembagaan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Patdono Suwignjo, saat menyampaikan sambutan membuka Seminar Internasional KST/STP dan Business Gathering, di Denpasar, Selasa (27/8/2019). (Antaranews Bali/Ni Luh Rhisma/2019)

jika di Indonesia membuat 100 STP dalam lima tahun, jelas tidak realistis
Denpasar (ANTARA) - Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menargetkan lima tahun ke depan ada empat Kawasan Sains dan Teknologi (Science Techno Park/STP) di Tanah Air masuk level utama dan satu ke tingkat internasional.

"Kawasan sains dan teknologi (KST) yang sekarang yang sudah ada, paling top di level madya. Kalau akan memilih untuk dijadikan yang utama, tentu yang paling siap, yang ada di perguruan tinggi maupun di lembaga pemerintah non-kementerian (LPNK)," kata Dirjen Kelembagaan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Patdono Suwignjo, saat menyampaikan sambutan membuka Seminar Internasional KST/STP dan Business Gathering, di Denpasar, Selasa.

Dalam menjawab tuntutan perkembangan inovasi, pemerintah telah mengeluarkan Program Nawacita Presiden RI yang salah satu programnya adalah membangun Science Techno Park (STP) atau Kawasan Sains dan Teknologi di berbagai daerah.

Kebijakan pemerintah untuk membangun dan mengembangkan Science Techno Park (STP)/KST di berbagai daerah, menjadi salah satu solusi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di daerah.

KST didesain untuk menjembatani antara kebutuhan industri dan hasil riset yang berdasarkan pada potensi sumber daya alam dan manusia di setiap daerah.

Sebelumnya pemerintah menargetkan akan membangun 100 KST/STP dalam periode lima tahun (2015-2019). Namun, lanjut Patdono, setelah dilakukan evaluasi, Kemenristekdikti dan Bappenas menyadari bahwa target tersebut tidak realistis.

Patdono mengemukakan, berkaca dari pengalaman di sejumlah negara, untuk menjadi kawasan sains dan teknologi yang "mature" atau matang itu diperlukan waktu yang sangat lama. Di Korea Selatan sampai 35 tahun dan Swedia 28 tahun.

"Jika di Indonesia membuat 100 STP dalam lima tahun, jelas tidak realistis. Maka untuk lima tahun ke depan, kita perlu membuat target yang lebih realistis, yakni kami ingin empat yang utama, dan satu yang sudah internasional," ucapnya.

Pihaknya tidak memungkiri untuk membuat KST/STP itu tidak mudah. Biaya yang dikeluarkan sangat besar karena membutuhkan infrastruktur yang banyak, sehingga kalau anggaran pemerintah terbatas, harus fokus berapa STP yang ditargetkan dan betul-betul STP yang sudah jadi.

Kemudian juga ada kelemahan karena di Indonesia ini belum ada STP yang memiliki "anchor industry" atau kolaborasi industri jangkar yang besar.

"Sehingga kemampuan untuk mencetak pengusaha pemula berbasis teknologi atau startup itu belum begitu bagus, karena ada komponen utama yang tidak ada yaitu anchor industry," ujarnya.

Menurut Patdono, di luar negeri STP yang sukses itu salah satu cirinya di dalam STP ada "anchor industry" atau industri besar yang beroperasi di dalam STP, kemudian akan menarik perusahaan-perusahaan lain yang tertarik dengan industri besar itu.

"Anchor industry akan membuat penelitian-penelitian, kemudian penelitiannya dibawa ke STP, di samping perguruan tinggi yang ada di sekitar STP juga membuat penelitian," katanya.

Patdono menambahkan, jika dilihat di semua negara yang memiliki STP, "anchor industry" mau masuk masuk ke STP kalau ada fasilitas dari perusahaan seperti lahannya murah, kemudian ada insentif keuangan berupa pajak.

"Ini yang pemerintah belum memberikan insentif keuangan bagi anchor industry, meskipun melalui PP 45 Tahun 2019, pemerintah sudah memberikan insentif kepada perusahaan yang melakukan riset yang mau terlibat dalam pendidikan vokasi," katanya.

Oleh karena itu, ke depan pihaknya ingin membangun "startup" yang tidak melibatkan kolaborasi industri jangkar "anchor industry".

Sementara itu, Kemal Prihatman selaku Plt Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi dan Lembaga Penunjang Lainnya Kemenristekdikti mengatakan, sejak tahun 2015-2019, pihaknya berupaya mengembangkan KST melalui fasilitasi pengembangan kelembagaan capacity building, penguatan hilirisasi hasil riset dan pengembangan inovasi serta pengembangan sarana dan prasarana.

Fasilitasi tersebut diberikan kepada 18 lokus binaan KST Kemenristekdikti meliputi: Pondok Pusaka Techno Park, STP Riau, STP Universitas Andalas, STP Sumatera Selatan, STP Kalimantan Utara, STP Papua Barat, Sumbawa Technopark, STP ITS, STP Jepara, Technopark Ganesha Sukowati Sragen, Solo Technopark,KST Universitas,UGM Science Techno Park, STP UI, STP IPB, Oil Palm Science Techno Park(OPSTP) Medan, ITB Innovation Park,dan Coffee and Cocoa Science Techno Park(CCSTP) Jember.

 

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar