counter

Agus Martowardojo: Lebih baik pulang nama, daripada gagal tugas

Agus Martowardojo: Lebih baik pulang nama, daripada gagal tugas

Mantan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (kanan) dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kiri) dalam peluncuran buku otobiografi "Agus Martowardojo : Pembawa Perubahan" di Jakarta, Senin (1/9). (Dokumentasi BI)

saya ini selalu memegang slogan militer, bahwa lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas
Jakarta (ANTARA) - Mantan Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengaku sebagai bankir karir profesional yang selalu mengejawantahkan semangat prajurit militer dalam setiap pengabdiannya di industri jasa keuangan.

Agus yang pernah memegang delapan posisi penting di industri jasa keuangan Tanah Air mengingatkan kepada para bankir dan profesional industri keuangan bahwa "lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas".

"Pak Luhut (Jenderal Purnawirawan TNI Luhut Binsar Panjaitan), saya ini selalu memegang slogan militer, bahwa lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas," kata Agus kepada Luhut dalam peluncuran buku otobiografi "Agus Martowardojo : Pembawa Perubahan" di Jakarta, Senin.

Selama karirnya sebagai bankir profesional yang dimulai di sebuah bank asing, hingga pernah menjadi Direktur Utama PT Bank Mandiri Persero Tbk, kata Agus, dirinya selalu dihadapkan pada tantangan hebat.

Seperti diketahui, Agus memang memiliki portofolio lengkap di industri jasa keuangan Tanah Air. Dia pernah memimpin Asuransi Bumiputera yang sedang terbelit masalah keuangan pada 1994.

"25 tahun lalu Asuransi Bumiputera juga fatal. Saya hadir di sana bersama dengan jajaran yang lain. Kita semua selesaikan permasalahan itu dalam waktu tujuh bulan. Yang rugi kita bisa buat modalnya kembali biru dan bisa menjalankan tugas intermediasinya," ujar dia.

Kemudian tapak karir Agus juga mentereng ketika dia diamanatkan memimpin PT Bank Mandiri Persero Tbk pada 2005 yang merupakan penggabungan dari empat bank pemerintah, Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Eskpor Impor Indonesia (Bank Exim), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) menjadi PT Bank Mandiri Persero Tbk.

Penggabungan empat bank pemerintah itu imbas dari krisis moneter pada 1997-1998. Setelah krisis terjadi, Agus menjadi profesional yang diamanatkan pemerintah untuk menjadi penasehat Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Dalam kiprahnya di BPPN, Agus mengawal proses penggabungan bank-bank "sakit" terdampak krisis agar kembali "sehat" dan mampu melakukan intermediasi terhadap perekonomian.

"Kami mohon jangan sampai Indonesia alami krisis lagi. Karena pada 1997 dan 1998 itu berat sekali sampai pemerintah keluarkan Keputusan Presiden sampai dibentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional," ujar dia.

Dia menekankan bahwa integritas adalah sifat pemimpin yang penting dalam industri jasa keuangan. Agus memadukan integritas dengan semangat militer agar semua tugas dan pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik. Dia mencontohkan ketika dia menjadi Menteri Keuangan yang harus menghadapi dampak dari krisis taper tantrum.

Taper Tantrum merupakan era ketika efek kebijakan Bank Sentral AS, Federal Reserve (Fed), yang langsung memukul kurs sejumlah negara berkembang meskipun langkah normalisasi moneter belum dilakukan.

Saat memimpin bank sentral Indonesia, dia mengaku mengedepankan penguatan kredibilitas kebijakan moneter dengan penyempurnaan kebijakan suku bunga acuan. Agus juga ingin mengembangkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dengan menciptakan BI Institute.

"Kami canangkan di Bank Indonesia, termasuk inisiatif perkuat kebijakan moneter. Kami bangun fungsi makroprudensial, kami perkuat ekonomi syariah, termasuk memperkuat organisasi dengan bangun BI institute," ujar pria kelahiran Amsterdam, Belanda, 63 tahun lalu itu.

 

 

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar