Samarinda, (ANTARA News)- KM. Prima Kosong (bukan KM.Teratai Prima, red) yang dilaporkan tenggelam di perairan Batu Roro, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), menggunakan mesin mobil.

Salah seorang karyawan Pelra (Pelayaran Rakyat) Samarinda yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan, KM. Prima Kosong merupakan kapal angkutan sembako termasuk hewan ternak dari pelabuhan Parepare (Sulsel) ke Samarinda (Kaltim).

Sebelumnya, kapal itu merupakan kapal angkutan penumpang tujuan Samarinda-Parepare milik pengusaha kapal ternama di Samarinda bernama H. Sarapping. Kapal itu akhirnya berganti nama KM. Prima Kosong setelah dijual ke pengusaha sembako di Parepare, H.Muhammadong

"Memang, kapal itu dulunya bernama KM. Teratai Prima Kosong. Tetapi, setelah dijual berganti nama jadi KM. Prima Kosong. Pemilik kapal (H Sarapping) tidak menjual mesinnya sehinga oleh pemilik kapal itu digunakan mesin mobil,"katanya.

"Ketika masih dikelola H.Sarapping, kapal itu berlayar dari Samarinda ke Parepare ataupun sebaliknya hanya menempuh 20 hingga 24 jam. Tetapi sekarang, perjalanannya mencapai dua hari.Jadi, jika kapal itu berangkat dari pelabuhan Parepare Sabtu sore, djadwalkan baru tiba besok pagi (Senin) sekitar pukul 08. 00 wita,"ungkap karyawan PT. Pelra Samarinda yang mengaku tidak mengetahui secara pasti, jenis mesin mobil yang digunakan kapal tersebut..

Selain faktor cuaca, ia menduga, tenggelamnya KM. Prima Kosong itu juga disebabkan kelebihan muatan. Karyawan Pelra Samarinda tersebut mengaku, sudah sering mengingatkan pemilik kapal agar mengangkut barang tidak melebihi kapasitas.

"Kapasitas kapal itu hanya 16 ribu sak beras, tetapi sering mengangkut beras hingga 24 ribu sak. Saya sudah pernah mengingatkannya, tetapi dia tidak mengindahkan hingga terjadi musibah ini. Informasi yang saya peroleh dai Parepare, jumlah penumpang KM. Prima Kosong tidak lebih 200 orang, namun jumlah barang yang diangkut sangat besar. Sebenarnya, kapal itu kapal barang tetapi juga digunakan mengangkut orang,"ujarnya.

Kepala Pelra Samarinda yang juga agen KM. Prima Kosong di Samarinda, H. Teka, belum bersedia memberikan konfirmasi terkait tenggelamnya kapal tersebut.

"Saya masih sibuk dan belum bisa memberikan keterangan,"ujar H. Teka saat dikonfirmasi ANTARA melalui telepon selularnya Minggu petang.

Administrator Pelabuhan (Adpel) Samarinda saat hendak dikonfirmasi wartawan juga tidak berada di tempat.

Beberapa keluarga korban yang ditemui di Pelabuhan Samarinda mengaku kecewa sebab hingga Minggu petang, belum ada informasi resmi, baik dari pengelola KM. Prima Kosong maupun pihak Pelabuhan mengenai kepastian tenggelamnya kapal tersebut.

"Kami datang kesini (pelabuhan) untuk mencari informasi setelah mendengar KM. Prima Kosong tenggelam, tetapi ternyata kami tidak mendapat apa-apa. Saya terpaksa menghubungi pihak agen di Parepare untuk memastikan apakah kapal itu tenggelam atau tidak,"ujar seorang keluarga penumpang KM. Prima Kosong, Tripana.

Setelah menghubungi keluarganya di Tana Toraja, Sulsel dan agen tiket di Parapare, Tripana akhirnya bisa bernafas lega sebab satu dari 18 penumpang yang berhasil diselamatkan, adalah adik kandungnya.

"Saya sempat menghubungi seluruh keluarga di Tana Toraja dan ternyata adik saya, Luther Palembon, termasuk penumpang yang berhasil ditemukan selamat,"kata Tripana.(*)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2009