PGI: hindari perseteruan kawal pelantikan presiden pada Oktober

PGI: hindari perseteruan kawal pelantikan presiden pada Oktober

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Henriette Tabita Hutabarat (tengah), Ketua PGI Albertus Patty (kanan) Sekretaris Umum PGI Gomar Gultom meninggalkan Istana Kepresidenan usai bertemu Presiden Joko Widodo, Jakarta, Rabu (18/1) ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/pd/17 (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

setiap warga negara menyalurkan aspirasinya secara santun serta beradab
Jakarta (ANTARA) - Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyerukan agar masyarakat menghindari perseteruan yang dapat menganggu ketertiban serta mengawal pelantikan presiden dan wakil presiden pada Oktober 2019 mendatang agar berjalan aman dan kondusif.

Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima ANTARA, Jakarta, Sabtu, Ketua Umum PGI Henriette Hutabarat Lebang menyampaikan pihaknya sungguh prihatin dengan cara-cara penyampaian aspirasi yang berubah menjadi aksi-aksi pemaksaan kehendak oleh kelompok-kelompok orang yang menumpang pada tujuan mulia para mahasiswa.

Apalagi, menurut dia, pemaksaan kehendak itu dimaksudkan akan berujung pada upaya penggagalan pelantikan Presiden pada 20 Oktober yang akan datang.

"Agar setiap warga negara yang tidak setuju dengan sebuah kejadian dan regulasi atau kebijakan publik, bersedia dan mampu menyalurkan aspirasinya secara santun serta beradab dengan menggunakan saluran politik dan mekanisme hukum yang berlaku," ujarnya.

Baca juga: PGI: Rangkul masyarakat Papua sebagai saudara se-Tanah Air

PGI menuturkan mekanisme pergantian kepemimpinan nasional melalui pemilihan presiden (pilpres) dan wakil presiden telah dilalui bersama. Melalui Pilpres tersebut, rakyat telah menyampaikan suara dan keputusannya. Suara rakyat ini pun telah final dengan keluarnya Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 01/PHPU-PRES/XVII/2019.

"Kini adalah tugas kita semua, sebagai rakyat yang taat konstitusi, untuk mengawal suara rakyat tersebut sampai tuntas, termasuk hingga pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin pada 20 Oktober 2019 yang akan datang," tuturnya.

Sekretaris Utama PGI Gomar Gultom menyerukan dan mengajak seluruh pihak berdoa agar segenap warga masyarakat dapat bekerja sama bahu membahu membangun negeri Indonesia dengan keadaban publik, dan menghindarkan diri dari segala bentuk kebencian dan perseteruan.

Sebagai bangsa yang sedang dalam proses demokratisasi, ruang terbuka bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya perlu diberikan, sejauh hal itu disampaikan secara bertanggung jawab, dalam koridor hukum yang berlaku dan tidak mengganggu ketertiban umum.

PGI berharap agar situasi mencekam yang sedang terjadi di Papua segera dapat dipulihkan. Warga dan aparat di Papua diharapkan menghentikan tindakan kekerasan yang mengakibatkan ketakutan masyarakat, bahkan korban jiwa dan harta benda.

PGI berharap penyelesaian masalah kerusuhan Papua, pemberantasan korupsi, persoalan asap di Sumatera dan Kalimantan, proses-proses legislasi di parlemen, pergumulan masyarakat adat akan hak ulayat mereka serta beragam bencana yang dihadapi, dan terbaru gempa bumi di Ambon yang telah merenggut setidaknya 23 nyawa.

"Agar setiap keluarga korban bencana alam dan kerusuhan diberi kekuatan dan penghiburan. Bagi para penyintas, agar diberikan kepulihan dan perlindungan dari ancaman dan atau marabahaya lainnya," tuturnya.

Baca juga: PGI: Pemerintah harus selesaikan masalah mendasar di Papua

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

PGI ingin kembali ke gotong royong demi harmoni bangsa

Komentar