Celah menguntungkan dalam penanggulangan penyakit tidak menular

Celah menguntungkan dalam penanggulangan penyakit tidak menular

Arsip Foto. Petugas kesehatan Puskesmas Muara Dua memeriksa tekanan darah warga dalam pelayanan Posbindu di Dusun Tumpok Dalam, Meunasah Alue, Lhokseumawe, Aceh, Rabu (6/3/2019). Layanan Posbindu meliputi pemeriksaan dan pengendalian faktor risiko penyakit menular. (ANTARA FOTO/RAHMAD)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Prof Dr dr Pradana Soewondo SpPD menyebut faktor risiko bersama sebagai celah menguntungkan dalam penanggulangan penyakit tidak menular (PTM), yang dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menghindarkan warga dari ancaman penyakit tersebut.

"Satu keuntungan dari PTM yaitu punya faktor risiko bersama yang menuju ke penyakit tersebut," kata Prof Pradana dalam acara Forum Merdeka Barat di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta, Jumat.

Dia menjelaskan, faktor risiko bersama yang dapat memicu berbagai penyakit tidak menular antara lain kurang gerak, tidak melakukan aktivitas fisik dan olahraga, makan berlebihan, obesitas atau kegemukan, dan kebiasaan merokok.

"Itu semua faktor risiko yang sudah diketahui terbukti menyebabkan penyakit tidak menular," kata dia.

Pengendalian faktor risiko yang sama tersebut, ia melanjutkan, akan menghindarkan warga dari penyakit tidak menular seperti diabetes, stroke, hipertensi, penyakit jantung, dan kelainan fungsi ginjal.

Terlebih lagi, kata Pradana, upaya pengendalian faktor risiko tersebut sebenarnya tidak sulit, bisa dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat.

Kementerian Kesehatan menjalankan program Pos Binaan Terpadu (Posbindu) dalam upaya menekan kejadian penyakit tidak menular. Pelayanan Posbindu mencakup pengendalian faktor risiko dan deteksi dini penyakit tidak menular.

Menurut Pradana, kader kesehatan di Posbindu lebih baik fokus pada upaya pengendalian faktor risiko. Kalau saat melakukan pemeriksaan menemukan gejala penyakit tidak menular, kader hanya perlu merujuknya ke fasilitas kesehatan.

"Tugas kita pegang faktor risiko itu, kalau dikendalikan insya Allah penyakitnya bisa kita turunkan," kata dia.

Pradana juga mengungkap hasil penelitian yang dilakukan di Bogor pada lima ribu responden, yang menunjukkan bahwa orang dengan kondisi pra-diabetes dapat kembali normal setelah memeriksakan diri ke Posbindu selama tiga bulan secara rutin.

Meski penelitian yang dimulai 2010 itu belum selesai, ia mengatakan, berdasarkan hasil penelitian hingga saat ini dapat disimpulkan bahwa Posbindu bisa mengendalikan faktor risiko penyakit tidak menular.

"Di Bogor dilakukan penelitian mengenai penyakit tidak menular yang dimulai dan 2010 akan selesai 2020. Saat diikuti, peserta yang masuk kategori pra-diabetes 60 persennya balik normal dalam masa pengamatan empat sampai lima tahun," kata dia.

Kadar gula darah yang normal 70 sampai 100 mg/dL. Orang dengan kondisi pra-diabetes kadar gula darahnya 100 sampai 125 mg/dL, dan dikatakan diabetes bila kadar gula darahnya lebih dari 126 mg/dL.

Baca juga:
Kemkes: Penyakit tidak menular jadi penyebab kematian paling banyak
Kasus penyakit tidak menular meningkat di seluruh Indonesia


Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jemput bola sebagai upaya cegah penyakit tidak menular

Komentar